Akhirnya bisa nulis lagi... ini part yang ke 3 lanjutan dari part 2 ....
sebenarnya cerbung ini dari awal niatnya tuh dibuat menurut kisah diri sendiri, tapi kalo gitu keliatan monoton banget... jadi ya aku ubah. Semoga suka...
selamat membaca....
Cinta yang ku genggam
Cinta yang ku percaya
Cinta yang ku simpan
Apakah telah pergi?
Aku berharap seperti itu
Cinta yang ku percaya
Cinta yang ku simpan
Apakah telah pergi?
Aku berharap seperti itu
BI menyanyi di kedai itu kembali.
Kini ia bebas menatap lelaki yang telah ia sadari siapa jati dirinya. Lelaki
yang tak pernah ia kenal. Hanya nama dan ingatan tentang nama itu yang ia
ketahui. Lelaki itu sibuk membawa tumpukan buku bersama teman-temannya yang tak
tahu seberapa beratnya. Buku itu akan ia taruh di perpustakaan yang dibangun
beberapa tahun lalu. Dengan senyum
pesonanya, lelaki itu menatap BI. Yang juga dibalas dengan senyum. Ditengah
keramaian pasar yang tak terhindarkan, pemuda itu sempat-sempatnya memberi kode
untuk BI. Telunjuk kirinya menjulur kearah depan. Mengingatkan BI untuk pergi
ke perpustakaannya setelah menyanyi, sesuai janjinya kemarin. BI menganggukkan
kepala dan disela nyanyiaanya ia memberi semangat pada lelaki itu. QI
benar-benar membuatnya terkesan.
Cinta yang kuharapkan
Tak pernah tahu dimana akhirnya
Jalan itu masih terbentang lurus
Cinta yang tak memberi petunjuk
Apakah aku harus pergi?
Menuju jalan yang aku tahu akan akhirnya
Tak pernah tahu dimana akhirnya
Jalan itu masih terbentang lurus
Cinta yang tak memberi petunjuk
Apakah aku harus pergi?
Menuju jalan yang aku tahu akan akhirnya
Kini, di perpustakaan QI telah
merapikan buku-buku yang ia pesan beberapa hari lalu. Sebagian juga berasal
dari sumbangan orang-orang yang tersentuh akan ketulusan QI. Ia memisahnya
dalam beberapa rak. Perpustakaan itu masih sangat kecil. Ia tak bisa
melebarkannya lagi karena bangunan itu
diapit oleh kios-kios. Salahnya, membangun perpustakaan disebuah pasar
yang menjadi tempat terbesar didesanya. Pasar
tempat dimana anak-anak berkumpul untuk bermain atau membantu
orangtuanya.
Bi datang, ia duduk disalah satu kursi. Meliuk-liukkan kuas diatas
kertas. Berusaha mencari inspirasi untuk lagunya. Matanya menjalar pada sosok
pemuda itu. Pemuda yang setia menunggunya meski tak tahu kapan dan dimana
mereka akan bertemu kembali. Cinta yang benar adanya. Cinta yang bisa dijaga
kesetiaannya. Namun, apa yang harus BI lakukan. Cinta tak terbalasnya dan cinta
yang sedang ia tunggu untuk Ksatriannya, benar-benar menyedihkan. Sementara
diseberang sana ada sebuah sungai yang alirannya sangat deras. BI tak ingin
menjadi seseorang yang memilih. Ia akan menjadi seorang yang dipilih. Itulah
yang seharusnya seorang wanita lakukan dinegerinya. Bahkan BI pun bimbang
dengan hatinya. QI yang hadir terlebih dahulu dalam hidupnya, kini mungkin
telah terkikis oleh kekejaman waktu. Tapi, bagaimana mungkin ia melewatkan
seseorang yang bisa menjaga hatinya. Ksatria yang tak pernah tahu dirinya,
matanya bahkan mungkin suaranyapun belum tentu diingat oleh ksatria. Apakah ini
suatu keberuntungan atau bukan? Rasa sukanya pada seorang pemuda dimasa lalu,
yang sesungguhnya semakin lama semakin pudar. Mungkin membekas, namun bekasnya
tak sampai berbau harum.
2 tahun lalu...
Saat itu, waktu yang tidak pernah BI
bayangkan sebelumnya. Bahwa ia harus meninggalkan Kota Raja. Bersama ayah dan
adik perempuannya. Tak ada yang pernah tahu apa yang terjadi paada detik
selanjutnya. Ayahnya mengajak ke sebuah Kota di negeri itu yang jaraknya
membutuhkan waktu hingga 5 jam dengan
perahu. Yang mana kota itu adalah tempak kelahiran Sang Ayah. Alasannya,
karena Sang Ayah ingin menghabiskan sisa hari-harinya dikota Ibu dan mendirikan
sebuah bisnis disana. Satu hal yang BI sadari, ksatria yang ia puja tak akan
pernah dan tak akan bisa ia temui lagi. Pertemuan di istana itu, adalah hari
terakhirnya bertemu dengan sang ksatria. Saat ini, sebulan dari hari itu ia
harus pergi. Meninggalkan kenangan yang ia
buat.
Di Dermaga, BI berdiri diantara
kerumunan yang berbeda arah. Ada yang pulang dan pergi. Namun perahu yang
dipesannya tak kunjung datang. BI dan keluarganya menunggu dengan sabar sekitar
pembatas dermaga dan jalan. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar suara langkah
kaki yang seragam dan berjumlah banyak. Serta suara yang menyuruhnya untuk
minggir. Pun rakyat yang berseru, “Dia pantas mati!!! Penjahat sepertinya
pantas mati!!! Tak ada hukuman yang lebih pantas untuknya selain mati!!! Hidup
Raja!!! Hidup Raja!!! Hidup Raja!!! Hidup Ksatria!!! Hidup!!! Hidup!!!
Hidup!!!” BI menoleh. Dan tampaklah prajurit kerajaan yang membawa 2 penghianat
yang berani mengancam nyawa Raja Negeri ini. Mengunci mereka agar tak bergerak
bebas, bahkan terkesan menyeretnya. Kejadian seperti ini nampaknya sudah biasa
bagi penduduk. Bi pun tak menunjukkan keterkejuttannya akan peristiwa ini.
Sementara dibelakang prajurit-prajurit tadi, tampaklah Ksatria yang ia tunggu
dikawal oleh 2 prajurit lainnya. Langkahnya cepat menyeimbangkan langkah yang
lain. Pedang yang selalu ia genggam di tangan kekarnya kini terkesan
menakutkan. Wajahnya datar, disudut mata tajamnya menunjukkan kemarahan.
Mungkin pada pengkhianat-pengkhianat tadi. BI bisa melihat peluh yang tersirat
dari wajahnya. Dan sedikit cipratan darah disekitar matanya. Mungkin darah
pengkhianat tadi.
Kali ini BI bingung antara senang
atau sedih. Hari ini ia bisa melihat kembali ksatria yang untuk pertama
kalinya, saat ia tak menunggunya, Ksatria datang tanpa BI berharap. Namun
disisi lain, ini terakhir kalinya ia bisa melihat wajah Sang Ksatria.
Tak apa
mungkin ini lebih baik untukku
punggungmu,
jejek langkahmu
dan tatapan matamu
aku sudah tak bisa melihatnya lagi
mungkin ini lebih baik untukku
punggungmu,
jejek langkahmu
dan tatapan matamu
aku sudah tak bisa melihatnya lagi
Mungkin penantian yang BI rasakan
selama ini akan pudar. Dan ia tak akan merasakan menunggu lagi.
Kenyataannya, saat ini BI yang masih
duduk sembari memikirkan pemuda itu. Masih berharap dan menunggu dimana waktu
bisa menjemputnya menemui Ksatria. 2 tahun bukan waktu singkat untuk melupakan
seorang yang bahkan tak begitu ia kenal. Namun, berapa lama lagi baginya untuk
bisa melupakan serpihan ingatan tentang ksatria? Mengapa sangat sulit untuk
melupakannya? Apakah akan ada takdir yang hebat antara mereka? BI, bukan ia
yang tak bisa melupakan ksatria tapi ia yang tak rela jika ia melupakan
ksatria. Karena ia masih merasakan kerinduan seperti menanti rintik hujan.
Tiba-tiba langit mendung itu sudah
menjatuhkan airnya. Rintik hujan itu turun membasahi tanah dipasar. BI
melangkah menuju jendela. Memandang hujan yang semakin deras. Menghirup bau
yang ia rindu. Hujan itu selalu tampak menakjubkan.
Rintik hujan..
datang kembali
semua berlindung dengan payungnya
tapi aku tak membawa payung
aku merasakan air jatuh dibahuku
di kepalaku lalu membasahi mahkotaku
hingga meresap disela bajuku
telapak tanganku ingin menyentuhnya
namun tak bisa
setiap ku genggam rintik hujan itu
mengalir kebawah
sehingga aku harus bersusah menggunakan kedua tanganku
merasakan dinginnya
juga ketenangan yang menjalar pada hatiku
datang kembali
semua berlindung dengan payungnya
tapi aku tak membawa payung
aku merasakan air jatuh dibahuku
di kepalaku lalu membasahi mahkotaku
hingga meresap disela bajuku
telapak tanganku ingin menyentuhnya
namun tak bisa
setiap ku genggam rintik hujan itu
mengalir kebawah
sehingga aku harus bersusah menggunakan kedua tanganku
merasakan dinginnya
juga ketenangan yang menjalar pada hatiku
“Saat ini, aku masih mengingatnya.
Bagaimana rasanya menunggumu. Saat hujan turun saat itu pula aku merasakannya.
Kerinduan yang membuatku ingin mengakhiri penantian itu. Tapi hujan terus turun
tiap harinya. Bukan membasahi bumi tapi hatiku. Hujan kali ini mungkin sebagai
petunjuk. Untukku tidak melupakannya. Aku masih ingin menunggunya. Ksatria...
itu tetap ada dihatiku.” BI tersenyum mengatakannya. Inilah keputusan yang pada
akhirnya ia pilih. Setelah usaha untuk melupakan ksatria gagal.
Melihat BI yang diam termenung
didekat jendela membuat QI heran. Ia menghampiri gadis itu.
“BI, apa ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Tidak, aku hanya sedang menikmati
hujan saja. Setelah musim panas yang panjang.”
Mereka terdiam cukup lama. QI juga
akhirnya menikmati hujan dibalik jendela perpustakaannya. Pandangan lelaki itu
kini seakan sedih. Melihat QI membuat BI
merasa bersalah akan keputusannya. Tapi, ia harus jujur. Ini adalah waktu yang
tepat.
“QI, ada sesuatu yang ingin aku
bicarakan dengan mu. Ini mungkin... akan....”
“BI, ada sesuatu yang harus aku
katakan. Mungkin ini lebih penting dari yang akan kau katakan. Bukan sekarang ,
tapi besok. Temui aku di pohon apel jam 4 sore. Aku mohon datanglah.”
Hari yang dinanti akhirnya datang. QI
telah menunggunya dengan seikat bunga. Namun kali ini bukan bunga dari tokonya.
BI menyapa QI. Mereka saling melempar senyum.
“BI, kau mungkin tak tahu apa yang
aku lakukan selama 10 tahun ini. Menunggu bukanlah hal yang mudah untukku. Aku
ingin kau datang saat aku membutuhkanmu. Tapi kau tak mendengar suaraku. Saat
itu aku ingin menyerah untuk menunggumu. Bayangmu tak pernah hilang dari
ingatanku. Saat aku berada dibelakangmu dan hanya punggungmu yang aku lihat,
saat itupun aku hampir menyerah. Namun, kau benar-benar membuatku tertarik.
Saat ini perasaanku padamu sama seperti 10 tahun lalu. Saat aku melihatmu lagi.
Saat aku sudah tak menatap punggungmu lagi. Aku merasa benar-benar bahagia. Aku
tak tahu apa jadinya jika aku harus kehilanganmu lagi.” Ucap QI yang
berkaca-kaca.
“QI, apa yang ingin kau katakan
sebenarnya.”
“BI, aku harus pergi. Meninggalkanmu.
Aku akan membangun sebuah penginapan disebuah desa terpencil dinegeri ini. Desa
itu adalah pusat perdagangan. Aku juga akan membangun sebuah tempat pengobatan disana. Tapi, aku juga tak mungkin
membawamu. Aku tak ingin membuatmu terluka. Sudah waktunya bagiku untuk menyerah.
Hari ini, perasaanku padamu adalah yang terakhir.”
Aku akan pergi
meninggalkanmu dan punggung ku yang tersenyum
cinta yang kuberikan padamu akan hilang
terkikis oleh jarak
kau takkan terluka dan menangis
meninggalkanmu dan punggung ku yang tersenyum
cinta yang kuberikan padamu akan hilang
terkikis oleh jarak
kau takkan terluka dan menangis
menunggumu adalah waktu yang berharga
untukku
cintaku cukup sampai disini
hari-hari yang kita jalani nanti
ku harap kau bahagia
cintaku cukup sampai disini
hari-hari yang kita jalani nanti
ku harap kau bahagia
“Kau akan pergi?”
“Benar. Aku akan pergi besok sebelum
matahari muncul.”
“Jadi ini adalah perpisahan kita?”
ucap BI yang kini berkaca-kaca
“Aku pergi.” QI lalu pergi sebelum
melihat gadis itu menangis.
“Aku, tidak tahu apa yang harus aku
katakan. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu yang lain.”
QI membalikkan badannya lagi menatap
BI.
“Dulu saat aku pergi meninggalkan
kota ini dan tinggal disebuah kota yang asing, aku merasa benar-benar sendiri.
Aku tak mengenal siapapun. Aku pun tak merasa tertarik pada siapapun. Aku
selalu duduk diatas bukit dibawah pohon besar, untuk meyakinkan diriku bahwa
aku bisa bersosialisasi. Namun, keesokan harinya aku datang lagi dan datang
lagi. Aku harus membuang diriku yang tak bisa bersosialisasi. Aku menangis
disana. Hingga suatu hari aku mendengar suara jeritan. Ternyata, ada anak
lelaki kecil yang teluka saat berlatih pedang. Aku membalut lukanya dengan
saputangan yang biasa aku bawa. Saat itu untuk pertamakalinya aku bicara dengan
seseorang di Kota Raja. Ia berterimakasih padaku. Aku mengingatnya dengan
jelas. Bahwa aku membalut lukanya dengan baik. Keesokkan harinya aku datang
lagi namun aku tak menemukannya. Aku menunggu dan menunggu. Karena orang itu,
aku mulai bisa bersosialisasi. Aku memberanikan diriku untuk bercakap dengan
anak seusiaku. Hingga beberapa minggu kemudian aku melihatnya. Namun apa daya
aku tak berani menemuinya. Tak ada alasan bagiku bisa untuk menemuinya.
Hingga bertahun-tahun itu terjadi. Akhirnya aku tahu siapa lelaki itu. Dia
tumbuh menjadi seorang yang hebat. Kemampuan pedangnya tak tertandingi. Ksatria
negeri ini.” QI kaget mendengar hal itu. Gadis didepannya, bagaimana mungkin ia
merasakan hal itu. Perasaan menunggu yang dirasakannya ternyata BI juga
merasakannya. QI menatap prihatin BI.
“Mungkin aku juga pernah mencintaimu.
Tapi maafkan aku, itu sudah mulai terkikis oleh waktu. Sekarang hanya dia yang
aku rindu.” Lanjut BI
“BI, bagaimana mungkin kau mengalami
hal ini. Kau sebaiknya melupakan dia. Sebelum kau terluka. Tapi, setelah penantianmu
itu terbalas kau kan tahu apa yang aku rasakan saat bertemu denganmu dulu.”
“Aku tahu. Aku cukup tahu diri dengan
perbedaan kasta. Aku takkan berharap lebih. Aku hanya ingin menyimpannya saja.”
QI tersenyum menyemangatinya. Dan BI
hanya tersenyum pahit.
Hari itu, apel-apel telah berwarna
merah. Entah beberapa bulan sejak
perginya QI. Di pohon yang sama dengan waktu itu, BI duduk sambil
meliukkan kuasnya. Ia menuliskan sebuah kata untuk seseorang. Buah apel manis
disampingnya siap ia makan. Ditatapnya langit cerah yang terhampar luas, ia
tersenyum. Ia berhasil mengikuti kata hatinya dengan memilih Ksatria. Seseorang
yang dicintainya dan ia inginkan. Gadis
itu sudah memantapkan hatinya. Keputusannya sudah tepat. Ia takkan goyah lagi.
Meski ketakutan kini menghantam hatinya. Takut jika cerita cintanya akan
berakhir sedih. Takut jika kisahnya
dengan ksatria tak pernah dimulai. Takut jika ia hanya menjadi seorang pohon
penantian. Takut jika ia tak pernah bertemu lagi dengan ksatria. Sekarang
bukanlah waktu dimana ia berada di Kota Raja. Apakah ia akan tetap menunggu dan
bersabar ketika ia sudah berada di waktu lain dan bertemu dengan banyak orang?
Ia hanya tersenyum. Itu(pertanyaannya) adalah nanti. Dan ini(perasaannya)
adalah sekarang. Ditatapnya kertas tadi. Awan-awan berkumpul diatasnya dan ikut
membaca.
“Merindukanmu.”
Bersambung........
Cinta itu mudah bukan? Hanya menanti
dan menikmatinya. Cinta juga indah. Kita tersenyum tanpa sadar saat
mengingatnya. Saat dia jauh dari pandangan kita. Lalu bagaimana jika ada jalan
bercabang didepan kita? Yang satu tampak
orang yang kita cintai dan kita rindukan, namun ia meninggalkan kita atau ia
tak tahu jika kita menantinya. Dan yang satu adalah jalan yang selalu terbuka
buat kita, orang itu mencintai kita dengan tulus. Jalan mana yang akan kau
pilih? Pilihlah jalan yang sama dengan kata hatimu. Apakah kau percaya dengan
dirimu sendiri? Kata hatimu akan
menunjukkan jalan mana yang harus kau lewati. Kau orang yang setia bukan? Jika
setia maka tak ada halangan untuk menunggu orang lain. Menunggu cintanya. Meski
kau banyak bertemu dengan orang, cintamu akan tetap padanya. Dan terus hingga
mengakar dan sulit untuk dicabut.
*Percaya pada hatimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar