Translate

Jumat, 05 Desember 2014

QI DAN KSATRIA


Akhirnya bisa nulis lagi... ini part yang ke 3 lanjutan dari part 2 ....

sebenarnya cerbung ini dari awal niatnya tuh dibuat menurut kisah diri sendiri, tapi kalo gitu keliatan monoton banget... jadi ya aku ubah. Semoga suka...
selamat membaca....

Cinta yang ku genggam
Cinta yang ku percaya
Cinta yang ku simpan
Apakah telah pergi?
Aku berharap seperti itu

BI menyanyi di kedai itu kembali. Kini ia bebas menatap lelaki yang telah ia sadari siapa jati dirinya. Lelaki yang tak pernah ia kenal. Hanya nama dan ingatan tentang nama itu yang ia ketahui. Lelaki itu sibuk membawa tumpukan buku bersama teman-temannya yang tak tahu seberapa beratnya. Buku itu akan ia taruh di perpustakaan yang dibangun beberapa tahun lalu. Dengan  senyum pesonanya, lelaki itu menatap BI. Yang juga dibalas dengan senyum. Ditengah keramaian pasar yang tak terhindarkan, pemuda itu sempat-sempatnya memberi kode untuk BI. Telunjuk kirinya menjulur kearah depan. Mengingatkan BI untuk pergi ke perpustakaannya setelah menyanyi, sesuai janjinya kemarin. BI menganggukkan kepala dan disela nyanyiaanya ia memberi semangat pada lelaki itu. QI benar-benar membuatnya terkesan.

Cinta yang kuharapkan
Tak pernah tahu dimana akhirnya
Jalan itu masih terbentang lurus
Cinta yang tak memberi petunjuk
Apakah aku harus pergi?
Menuju jalan yang aku tahu akan akhirnya

Kini, di perpustakaan QI telah merapikan buku-buku yang ia pesan beberapa hari lalu. Sebagian juga berasal dari sumbangan orang-orang yang tersentuh akan ketulusan QI. Ia memisahnya dalam beberapa rak. Perpustakaan itu masih sangat kecil. Ia tak bisa melebarkannya lagi karena bangunan itu  diapit oleh kios-kios. Salahnya, membangun perpustakaan disebuah pasar yang menjadi tempat terbesar didesanya. Pasar  tempat dimana anak-anak berkumpul untuk bermain atau membantu orangtuanya. 

Bi datang, ia duduk disalah satu kursi. Meliuk-liukkan kuas diatas kertas. Berusaha mencari inspirasi untuk lagunya. Matanya menjalar pada sosok pemuda itu. Pemuda yang setia menunggunya meski tak tahu kapan dan dimana mereka akan bertemu kembali. Cinta yang benar adanya. Cinta yang bisa dijaga kesetiaannya. Namun, apa yang harus BI lakukan. Cinta tak terbalasnya dan cinta yang sedang ia tunggu untuk Ksatriannya, benar-benar menyedihkan. Sementara diseberang sana ada sebuah sungai yang alirannya sangat deras. BI tak ingin menjadi seseorang yang memilih. Ia akan menjadi seorang yang dipilih. Itulah yang seharusnya seorang wanita lakukan dinegerinya. Bahkan BI pun bimbang dengan hatinya. QI yang hadir terlebih dahulu dalam hidupnya, kini mungkin telah terkikis oleh kekejaman waktu. Tapi, bagaimana mungkin ia melewatkan seseorang yang bisa menjaga hatinya. Ksatria yang tak pernah tahu dirinya, matanya bahkan mungkin suaranyapun belum tentu diingat oleh ksatria. Apakah ini suatu keberuntungan atau bukan? Rasa sukanya pada seorang pemuda dimasa lalu, yang sesungguhnya semakin lama semakin pudar. Mungkin membekas, namun bekasnya tak sampai berbau harum.

2 tahun lalu...

Saat itu, waktu yang tidak pernah BI bayangkan sebelumnya. Bahwa ia harus meninggalkan Kota Raja. Bersama ayah dan adik perempuannya. Tak ada yang pernah tahu apa yang terjadi paada detik selanjutnya. Ayahnya mengajak ke sebuah Kota di negeri itu yang jaraknya membutuhkan waktu hingga 5 jam dengan  perahu. Yang mana kota itu adalah tempak kelahiran Sang Ayah. Alasannya, karena Sang Ayah ingin menghabiskan sisa hari-harinya dikota Ibu dan mendirikan sebuah bisnis disana. Satu hal yang BI sadari, ksatria yang ia puja tak akan pernah dan tak akan bisa ia temui lagi. Pertemuan di istana itu, adalah hari terakhirnya bertemu dengan sang ksatria. Saat ini, sebulan dari hari itu ia harus pergi. Meninggalkan kenangan yang ia  buat.

Di Dermaga, BI berdiri diantara kerumunan yang berbeda arah. Ada yang pulang dan pergi. Namun perahu yang dipesannya tak kunjung datang. BI dan keluarganya menunggu dengan sabar sekitar pembatas dermaga dan jalan. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar suara langkah kaki yang seragam dan berjumlah banyak. Serta suara yang menyuruhnya untuk minggir. Pun rakyat yang berseru, “Dia pantas mati!!! Penjahat sepertinya pantas mati!!! Tak ada hukuman yang lebih pantas untuknya selain mati!!! Hidup Raja!!! Hidup Raja!!! Hidup Raja!!! Hidup Ksatria!!! Hidup!!! Hidup!!! Hidup!!!” BI menoleh. Dan tampaklah prajurit kerajaan yang membawa 2 penghianat yang berani mengancam nyawa Raja Negeri ini. Mengunci mereka agar tak bergerak bebas, bahkan terkesan menyeretnya. Kejadian seperti ini nampaknya sudah biasa bagi penduduk. Bi pun tak menunjukkan keterkejuttannya akan peristiwa ini.

Sementara dibelakang prajurit-prajurit tadi, tampaklah Ksatria yang ia tunggu dikawal oleh 2 prajurit lainnya. Langkahnya cepat menyeimbangkan langkah yang lain. Pedang yang selalu ia genggam di tangan kekarnya kini terkesan menakutkan. Wajahnya datar, disudut mata tajamnya menunjukkan kemarahan. Mungkin pada pengkhianat-pengkhianat tadi. BI bisa melihat peluh yang tersirat dari wajahnya. Dan sedikit cipratan darah disekitar matanya. Mungkin darah pengkhianat tadi.

Kali ini BI bingung antara senang atau sedih. Hari ini ia bisa melihat kembali ksatria yang untuk pertama kalinya, saat ia tak menunggunya, Ksatria datang tanpa BI berharap. Namun disisi lain, ini terakhir kalinya ia bisa melihat wajah Sang Ksatria.

Tak apa
mungkin ini lebih baik untukku
punggungmu,
jejek langkahmu
dan tatapan matamu
aku sudah tak bisa melihatnya lagi

Mungkin penantian yang BI rasakan selama ini akan pudar. Dan ia tak akan merasakan menunggu lagi.

Kenyataannya, saat ini BI yang masih duduk sembari memikirkan pemuda itu. Masih berharap dan menunggu dimana waktu bisa menjemputnya menemui Ksatria. 2 tahun bukan waktu singkat untuk melupakan seorang yang bahkan tak begitu ia kenal. Namun, berapa lama lagi baginya untuk bisa melupakan serpihan ingatan tentang ksatria? Mengapa sangat sulit untuk melupakannya? Apakah akan ada takdir yang hebat antara mereka? BI, bukan ia yang tak bisa melupakan ksatria tapi ia yang tak rela jika ia melupakan ksatria. Karena ia masih merasakan kerinduan seperti menanti rintik hujan.

Tiba-tiba langit mendung itu sudah menjatuhkan airnya. Rintik hujan itu turun membasahi tanah dipasar. BI melangkah menuju jendela. Memandang hujan yang semakin deras. Menghirup bau yang ia rindu. Hujan itu selalu tampak menakjubkan.

Rintik hujan..
datang kembali
semua berlindung dengan payungnya
tapi aku tak membawa payung
aku merasakan air jatuh dibahuku
di kepalaku lalu membasahi mahkotaku
hingga meresap disela bajuku
telapak tanganku ingin menyentuhnya
namun tak bisa
setiap ku genggam rintik hujan itu
mengalir kebawah
sehingga aku harus bersusah menggunakan kedua tanganku
merasakan dinginnya
juga ketenangan yang menjalar pada hatiku

“Saat ini, aku masih mengingatnya. Bagaimana rasanya menunggumu. Saat hujan turun saat itu pula aku merasakannya. Kerinduan yang membuatku ingin mengakhiri penantian itu. Tapi hujan terus turun tiap harinya. Bukan membasahi bumi tapi hatiku. Hujan kali ini mungkin sebagai petunjuk. Untukku tidak melupakannya. Aku masih ingin menunggunya. Ksatria... itu tetap ada dihatiku.” BI tersenyum mengatakannya. Inilah keputusan yang pada akhirnya ia pilih. Setelah usaha untuk melupakan ksatria gagal.

Melihat BI yang diam termenung didekat jendela membuat QI heran. Ia menghampiri gadis itu.

“BI, apa ada sesuatu yang mengganggumu?”

“Tidak, aku hanya sedang menikmati hujan saja. Setelah musim panas yang panjang.”

Mereka terdiam cukup lama. QI juga akhirnya menikmati hujan dibalik jendela perpustakaannya. Pandangan lelaki itu kini seakan sedih. Melihat QI membuat  BI merasa bersalah akan keputusannya. Tapi, ia harus jujur. Ini adalah waktu yang tepat.

“QI, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu. Ini mungkin... akan....”

“BI, ada sesuatu yang harus aku katakan. Mungkin ini lebih penting dari yang akan kau katakan. Bukan sekarang , tapi besok. Temui aku di pohon apel jam 4 sore. Aku mohon datanglah.”

Hari yang dinanti akhirnya datang. QI telah menunggunya dengan seikat bunga. Namun kali ini bukan bunga dari tokonya. BI menyapa QI. Mereka saling melempar senyum.

“BI, kau mungkin tak tahu apa yang aku lakukan selama 10 tahun ini. Menunggu bukanlah hal yang mudah untukku. Aku ingin kau datang saat aku membutuhkanmu. Tapi kau tak mendengar suaraku. Saat itu aku ingin menyerah untuk menunggumu. Bayangmu tak pernah hilang dari ingatanku. Saat aku berada dibelakangmu dan hanya punggungmu yang aku lihat, saat itupun aku hampir menyerah. Namun, kau benar-benar membuatku tertarik. Saat ini perasaanku padamu sama seperti 10 tahun lalu. Saat aku melihatmu lagi. Saat aku sudah tak menatap punggungmu lagi. Aku merasa benar-benar bahagia. Aku tak tahu apa jadinya jika aku harus kehilanganmu lagi.” Ucap QI yang berkaca-kaca.

“QI, apa yang ingin kau katakan sebenarnya.”

“BI, aku harus pergi. Meninggalkanmu. Aku akan membangun sebuah penginapan disebuah desa terpencil dinegeri ini. Desa itu adalah pusat perdagangan. Aku juga akan membangun sebuah tempat  pengobatan disana. Tapi, aku juga tak mungkin membawamu. Aku tak ingin membuatmu terluka. Sudah waktunya bagiku untuk menyerah. Hari ini, perasaanku padamu adalah yang terakhir.”

Aku akan pergi
meninggalkanmu dan punggung ku yang tersenyum
cinta yang kuberikan padamu akan hilang
terkikis oleh jarak
kau takkan terluka dan menangis
menunggumu adalah waktu yang berharga untukku
cintaku cukup sampai disini
hari-hari yang kita jalani nanti
ku harap kau bahagia

“Kau akan pergi?”

“Benar. Aku akan pergi besok sebelum matahari muncul.”

“Jadi ini adalah perpisahan kita?” ucap BI yang kini berkaca-kaca

“Aku pergi.” QI lalu pergi sebelum melihat gadis itu menangis.

“Aku, tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu yang lain.”

QI membalikkan badannya lagi menatap BI.

“Dulu saat aku pergi meninggalkan kota ini dan tinggal disebuah kota yang asing, aku merasa benar-benar sendiri. Aku tak mengenal siapapun. Aku pun tak merasa tertarik pada siapapun. Aku selalu duduk diatas bukit dibawah pohon besar, untuk meyakinkan diriku bahwa aku bisa bersosialisasi. Namun, keesokan harinya aku datang lagi dan datang lagi. Aku harus membuang diriku yang tak bisa bersosialisasi. Aku menangis disana. Hingga suatu hari aku mendengar suara jeritan. Ternyata, ada anak lelaki kecil yang teluka saat berlatih pedang. Aku membalut lukanya dengan saputangan yang biasa aku bawa. Saat itu untuk pertamakalinya aku bicara dengan seseorang di Kota Raja. Ia berterimakasih padaku. Aku mengingatnya dengan jelas. Bahwa aku membalut lukanya dengan baik. Keesokkan harinya aku datang lagi namun aku tak menemukannya. Aku menunggu dan menunggu. Karena orang itu, aku mulai bisa bersosialisasi. Aku memberanikan diriku untuk bercakap dengan anak seusiaku. Hingga beberapa minggu kemudian aku melihatnya. Namun apa daya aku tak berani menemuinya. Tak ada alasan bagiku bisa untuk menemuinya. Hingga bertahun-tahun itu terjadi. Akhirnya aku tahu siapa lelaki itu. Dia tumbuh menjadi seorang yang hebat. Kemampuan pedangnya tak tertandingi. Ksatria negeri ini.” QI kaget mendengar hal itu. Gadis didepannya, bagaimana mungkin ia merasakan hal itu. Perasaan menunggu yang dirasakannya ternyata BI juga merasakannya. QI menatap prihatin BI.

“Mungkin aku juga pernah mencintaimu. Tapi maafkan aku, itu sudah mulai terkikis oleh waktu. Sekarang hanya dia yang aku rindu.” Lanjut BI

“BI, bagaimana mungkin kau mengalami hal ini. Kau sebaiknya melupakan dia. Sebelum kau terluka. Tapi, setelah penantianmu itu terbalas kau kan tahu apa yang aku rasakan saat bertemu denganmu dulu.”

“Aku tahu. Aku cukup tahu diri dengan perbedaan kasta. Aku takkan berharap lebih. Aku hanya ingin menyimpannya saja.”

QI tersenyum menyemangatinya. Dan BI hanya tersenyum pahit.

Hari itu, apel-apel telah berwarna merah. Entah beberapa bulan sejak  perginya QI. Di pohon yang sama dengan waktu itu, BI duduk sambil meliukkan kuasnya. Ia menuliskan sebuah kata untuk seseorang. Buah apel manis disampingnya siap ia makan. Ditatapnya langit cerah yang terhampar luas, ia tersenyum. Ia berhasil mengikuti kata hatinya dengan memilih Ksatria. Seseorang yang dicintainya dan  ia inginkan. Gadis itu sudah memantapkan hatinya. Keputusannya sudah tepat. Ia takkan goyah lagi. Meski ketakutan kini menghantam hatinya. Takut jika cerita cintanya akan berakhir sedih. Takut  jika kisahnya dengan ksatria tak pernah dimulai. Takut jika ia hanya menjadi seorang pohon penantian. Takut jika ia tak pernah bertemu lagi dengan ksatria. Sekarang bukanlah waktu dimana ia berada di Kota Raja. Apakah ia akan tetap menunggu dan bersabar ketika ia sudah berada di waktu lain dan bertemu dengan banyak orang? Ia hanya tersenyum. Itu(pertanyaannya) adalah nanti. Dan ini(perasaannya) adalah sekarang. Ditatapnya kertas tadi. Awan-awan berkumpul diatasnya dan ikut membaca.

“Merindukanmu.”


Bersambung........

Cinta itu mudah bukan? Hanya menanti dan menikmatinya. Cinta juga indah. Kita tersenyum tanpa sadar saat mengingatnya. Saat dia jauh dari pandangan kita. Lalu bagaimana jika ada jalan bercabang didepan kita?  Yang satu tampak orang yang kita cintai dan kita rindukan, namun ia meninggalkan kita atau ia tak tahu jika kita menantinya. Dan yang satu adalah jalan yang selalu terbuka buat kita, orang itu mencintai kita dengan tulus. Jalan mana yang akan kau pilih? Pilihlah jalan yang sama dengan kata hatimu. Apakah kau percaya dengan dirimu sendiri?  Kata hatimu akan menunjukkan jalan mana yang harus kau lewati. Kau orang yang setia bukan? Jika setia maka tak ada halangan untuk menunggu orang lain. Menunggu cintanya. Meski kau banyak bertemu dengan orang, cintamu akan tetap padanya. Dan terus hingga mengakar dan sulit untuk dicabut.


*Percaya pada hatimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar