OKEH,,, udah lama tulisan ini menjamur di laptop.. tapi sekolah emang nggak bisa diganggu..
Kita mulai yahhh.. tulisan ini lanjutan dari Menunggu : Ksatria dan Seorang Penyanyi
Rangkaian
bunga. Tangkai demi tangkai dimasukkan kedalam sebuah vas putih polos berukuran
sedang. Perangkai bunga itu memasukkannya berdasarkan status. Agar terkesan
lebih bernilai. Bunga yang tumbuh di taman harus disandingkan dengan
sejenisnya. Tanpa mencampur bunga liar dari hutan. Karena itu adalah aturan.
Perangkai itu harus tahu bagaimana cara memberi kecocokkan pada bunga-bunganya.
Akhirnya selesai.
Seorang
pria masuk dan bertanya tentang rangkaian bunga yang dipesannya. Ruang itu
dipenuhi banyak jenis bunga yang disusun rapi. Terlihat masih sangat segar.
Perangkai bunga baru saja memotongnya langsung dari taman yang berada
dibelakang rumah. Pria itu adalah
pelanggan tetap si wanita perangkai bunga. Yang mana rumahnya bersebelahan. Tetapi,
sifat pemalu diantara keduanya lah yang membuat mereka terkesan asing. Seperti
biasanya, perangkai bunga memberikan sebuah kertas berwarna yang telah dihias
dengan bunga kering. Sebenarnya penjual bunga itu ingin bertanya kepada siapa
bunga itu ditunjukkan. Tapi ia tahu, tak ada hak untuknya.
Pria
itu menulis surat dan wanita perangkai merapikan bunga-bunganya. Terkadang
wanita itu melirikan matanya, rasa penasaran begitu ada. Si pria adalah anak
dari teman dekat ayahnya. Entah mengapa wanita tadi merasa begitu mengenal
namanya. Sejak ia pindah ke desa ini, setiap ada orang menyebut nama pria itu
ada dorongan hati baginya untuk melihat wajah pemilik nama itu. Seakan nama itu
begitu membekas dihatinya.
Setelah
selesai, pria tadi membayar rangkaian bunga dan kertas yang dipesannya. Lalu
mengucapkan terimakasih.
“Jangan
lupa sediakan rangkaian bunga yang berbeda bulan depan.”
Si
wanita mengiyakan. Senyumnya tak pernah tertinggal, itu adalah kewajiban dari seorang
pedagang. Dan mengucapkan terima kasih. Si priapun meninggalkan rumah itu yang
sekaligus menjadi ruang untuk berjualan. Si wanita masih saja memperhatikan si
pria hingga halaman depan rumahnya. Tak disangka, ayahnya datang dan si pria
menyapa dengan penggilan paman. Entah apa yang dibicarakan, mereka terlihat
begitu akrab Kemudian ayahnya masuk dan menyanyakan dagangannya.
“Apakah
sulit, seorang penyanyi berubah profesi menjadi penjual bunga?”
“Ayah,
menjual bunga adalah keahlianku dari dulu. Mereka temanku, sama seperti
suaraku.”
Sang
Ayah tersenyum menanggapi jawaban putrinya.
Suatu
sore saat si wanita bekerja sebagai penyanyi disebuah kedai, ini adalah
pekerjaan keduanya. Dan bunga-bunganya dijaga oleh sang adik. Ia melihat sang
pria memasuki kedai itu bersama teman-temannya. Mungkin untuk sekedar melepas
lelah. Kecintaannya terhadap buku, membuatnya membuka sebuah perpustakaan kecil di Pasar. Beberapa meter
dari kedainya.
Siapakah
kau ?
Yang membuatku ingin selalu memandangmu
Tanahpun selalu bisa mencium bau rintik hujan
Aku yang begitu bodoh tak bisa mengenal wajahmu
Rasa penasaran ini menggugatku
Yang membuatku ingin selalu memandangmu
Tanahpun selalu bisa mencium bau rintik hujan
Aku yang begitu bodoh tak bisa mengenal wajahmu
Rasa penasaran ini menggugatku
Sepanjang
lagu Sang wanita memandang pria itu. Hanya beberapa kali ia melirik ke arah
lain. Namun sang pria tak menyadari apapun. Ia hanya tertawa bersama ketiga
lainnya. Seakan suara yang terdengar hanya canda-tawa itu. Wanita itu jelas
kecewa. Suara yang dikeluarkannya tak berari.
Sang
wanita beralih menyanyikan lagu kedua. Kali ini penghayatannya yang tersurat
begitu terasa, melibihi tadi. Mungkin karena sekarang ia lebih fokus. Tak
memandang kearah sang pria.
Jika
waktu bisa diputar
Aku akan mencegahmu tuk tak pergi
Jangan pergi, jangan pergi
Karena aku tak tahu harus mencarimu kemana
Aku akan mencegahmu tuk tak pergi
Jangan pergi, jangan pergi
Karena aku tak tahu harus mencarimu kemana
Aku
berharap bahwa dunia ini sangat sempit
Kita kan bertemu dalam kebahagiaan
Sekarang hanya satu pertanyaanku
Dimana kau berada?
Kita kan bertemu dalam kebahagiaan
Sekarang hanya satu pertanyaanku
Dimana kau berada?
Tiba-tiba
sang pria menoleh ke arah suara penyanyi itu. Entah mengapa seperti ia mengenal
suara itu. Tatapannya kosong namun terkesan ada yang dipikirkannya.
Hari
berikutnya, dan hari berikutnya selalu seperti itu. Tak pernah ada kata yang
terucap. Setiap ada kesempatan bertemu, mereka hanya saling melirik lama.
Seperti ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Sikap pendiam si wanita dan sikap
pemalu sang pria. Percakapan terakhir adalah bulan lalu saat sang pria membeli
bunga. Saat sang pria melewati rumah si wanita atau sebaliknya, dan saat
bertemu di kedai. Hanya itu waktu-waktu perjumpaan mereka.
Hingga
suatu hari saat si wanita membawa bunga-bunga yang baru ia petik di
hutan,berpapasan dengan si pria yang berjalan bersama tiga temannya. Mereka
asik dengan canda-tawanya. Si wanita tak menatap, ia hanya menunduk. Tak
dinyana, saat jarak mereka sangat dekat, seorang teman dengan tujuan sebagai
candaan mendorong tubuh si pria ke arah sang wanita. Dan menabrak tempat bunga
yang di bawa sementara tubuh mungil sang wanita telah menghindar. Kenyataanya,
yang terjatuh adalah sang pria. Dan tanpa tanggung jawab, teman sang pria pergi
bersama larinya. Si wanita bertanya apa pria itu didepannya baik-baik saja. Dan
di jawab “YA”. Si wanita kemudian berusaha merapikan bunga-bunganya. Tanpa
perintah, si pria membantu merapikannya. Meski dekat, mata mereka tak saling
menatap. Hingga si pria akhirnya membuka percakapan. Ia mengingatkan aga bunga
yang dipesannya.
“Aku
selalu mengingatnya. Itu adalah kewajibanku.”
Sang
wanita tersenyum. Ia ingin terus bercakap dengan si pria namun entah apa itu.
Hingga akhirnya ia ingat. Sesuatu yang membuatnya penasaran. Mungkin ini
kesempatannya.
“Boleh
aku bertanya sesuatu, setiap kau membeli bunga, kau juga membeli kertas surat.
Sebenarnya, untuk siapa surat itu?”
Sang
pria hanya diam. Wanita tahu, sehingga ia meminta maaf. Tak seharusnya ia
menyanyakan itu. Ia penasaran setiap sang pria membeli bunganya. Bunga yang dirangkai dengan ketulusannya. Ia memilih pergi karena malu.
“Bunga
yang kau rangkai itu untuk seseorang disuatu tempat. Dia selalu ada
dipikiranku. Dia seorang perempuan yang kukenal namanya. Hanya namanya yang
kutahu. Dan juga, ia sangat menyanyangi ayahnya. Seseorang yang untuk pertama
kalinya aku kenal dengan sifat seperti itu. Aku selalu memperhatikannya dan dia tak
tahu. Tapi kemudian dia pergi, aku tak tahu kemana dan kapan ia akan kembali. Sialnya,
dia meninggalkan jejak. Aku memiliki prinsip bahwa aku hanya akan mencintai
satu orang dalam hidupku.”
Sang
wanita menghentikan langkahnya dan kembali menatap si pria.
“Ceritamu
tadi, aku tak menyangka itu keluar dari mulutmu. Aku pikir kau adalah orang
yang tak peduli akan kisah cinta. Lalu, untuk apa kau membelikannya bunga
sementara kau tak tahu dia dimana.”
“Ada
sebuah tempat yang selalu ia kunjungi. Tanpa ia tahu, aku mengikutinya. Aku
menaruhnya disana karena aku yakin ia akan datang. Surat-surat itu berisi apa
saja yang ingin kuceritakan padanya.”
“Apa
kau tidak takut jika cintamu akan sia-sia?”
“Aku
takut. Tapi tak ada perempuan yang membuatku memalingkan wajahku darinya.”
Baiklah,
sang wanita akhirnya pergi karena semua rasa penasarnnya terbayarkan. Angin
yang mengiringi langkahnya saat itu, perlahan menjauh kesuatu tempat. Sang pria
hanya menatap punggung wanita itu.
“Nama
perempuan itu adalah... BI.”
Sang
pria tahu, wanita yang menjauh itu tak mendengar ucapannya.
Sang
wanita berada tamannya. Duduk merasakan bunga yang harumnya dapat melepas
sedikit peluh. Disampingnya terdapat sebuah apel merah. Kini, sang wanita
berada disebuah kebun Apel yang cukup luas. Ia bersandar di pohon apel yang
paling kanan. Memejamkan mata sejenak.
“Ibu,
aku kembali. Tapi aku melupakan semuanya. Jalan yang kita lewati bersama,
kenangan yang kita buat. Bahkan sekarang, aku melupakan pohon apel ini. Pohon
yang kita tanam bersama. Apa ibu mendengarku di langit sana? Maafkan aku, ibu.”
Wajahnya
datar saat mengatakan itu. Kemudian dengan penuh penyesalan, ia mengambil
batang kecil didekatnya lalu mengais tanah yang ia dudukki. Ada sebuah kotak
berukuran sedang didalamnya. Sang wanita mengambil lalu membukanya. Begitu
kagetnya dia, bunga yang ia rangkai untuk
pria yang tadi menabraknya berasa didalam kotak itu. Lengkap dengan
beberapa surat. Lalu disampingnya terdapat surat dari ibu yang tiap hari ia
baca sewaktu kecil. Benarkah itu bunga yang dirangkainya? Tanpa pikir panjang
ia langsung membuka surat disamping bunganya. Benar, itu adalah kertas yang ia
hias sendiri. Mengapa pria pelanggannya menyimpan surat disini. Dari mana ia
tahu kotak rahasia ini.
Ada
seorang pencuri yang mengambil apel dikebun tak bernama
Ia sudah mengincar apel merah nan manis itu selama seminggu
Namun kebun itu dikelilingi dinding tinggi, sangat tinggi
Seorang pencuri tak pernah meliliki keberanian untuk meminta izin
Ia menyelinap masuk saat pemiliknya lengah tak mengunci gerbang
Ia memakan apel itu hingga kenyang dan membawa sebagiannya lagi
Tapi ia melupakan sesuatu
Apa yang sudah dia ambil adalah sesuatu yang sangat istimewa
Sehingga ia akan terus ingin mengambilnya
Hingga sejak saat itu ia selalu mengikuti kemana pemiliknya pergi
Sialnya, selalu tak ada kesempatan kedua untuk mengambil apel lagi
Ia tak akan pernah melihat apel itu lagi
Namanya berubah menjadi seorang penggemar rahasia si buah apel”
Perkenalkan aku adalah penggemar rahasiamu
QI
Ia sudah mengincar apel merah nan manis itu selama seminggu
Namun kebun itu dikelilingi dinding tinggi, sangat tinggi
Seorang pencuri tak pernah meliliki keberanian untuk meminta izin
Ia menyelinap masuk saat pemiliknya lengah tak mengunci gerbang
Ia memakan apel itu hingga kenyang dan membawa sebagiannya lagi
Tapi ia melupakan sesuatu
Apa yang sudah dia ambil adalah sesuatu yang sangat istimewa
Sehingga ia akan terus ingin mengambilnya
Hingga sejak saat itu ia selalu mengikuti kemana pemiliknya pergi
Sialnya, selalu tak ada kesempatan kedua untuk mengambil apel lagi
Ia tak akan pernah melihat apel itu lagi
Namanya berubah menjadi seorang penggemar rahasia si buah apel”
Perkenalkan aku adalah penggemar rahasiamu
QI
Seekor
ulat bulu kini telah tumbuh menjadi kupu-kupu
Terbang kesemua tempat yang ingin ia hinggap
Ada seseorang yang ingin menangkapnya
Kau kembali
Mungkin, kau tak akan mengenaliku
Aku ada didekatmu
Sama seperti dulu, aku mengikutiku
Terbang kesemua tempat yang ingin ia hinggap
Ada seseorang yang ingin menangkapnya
Kau kembali
Mungkin, kau tak akan mengenaliku
Aku ada didekatmu
Sama seperti dulu, aku mengikutiku
“Dia
bilang tidak tahu dimana wanita itu berada. Sekarang ia mengatakan wanita itu
sudah kembali. QI, bukan hanya namamu yang membuatku penasaran. Juga kisahmu
ini. Hingga saat ini, aku tidak tahu. Nama QI di otakku dan kenangan yang aku
alami. Aku merasa kenangan itu sangat indah. Apakah itu dia? Sangat tidak
menggembirakan jika itu dia, seseorang yang telah memiliki yang lain.”
Aku
sudah menunggumu lebih dari sepuluh tahun
Kau telah kembali
Tapi aku masih menunggumu
Dan tetap mengikutimu seperti bayangan
Kau tahu, aku menulis surat ini tepat sangat dekat denganmu
BI, aku QI keturunan dari klan Q
Anak dari Paman QAN, teman ayahmu, Paman BAS
Kau mungkin tak akan membaca surat ini
Kau telah kembali
Tapi aku masih menunggumu
Dan tetap mengikutimu seperti bayangan
Kau tahu, aku menulis surat ini tepat sangat dekat denganmu
BI, aku QI keturunan dari klan Q
Anak dari Paman QAN, teman ayahmu, Paman BAS
Kau mungkin tak akan membaca surat ini
Wanita
itu, BI, kaget. Nama yang selama ini muncul diingatannya benar-benar pria itu.
Tangannya lemas, surat yang ia genggam terjatuh dengan sendirinya. Matanya
mulai berkaca-kata. Nafasnya tak beraturan. Ia menyandarkarkan tubuhnya lagi
pada pohoon itu.
“Jadi,
wanita itu adalah aku. Dengan bodohnya aku bertanya untuk siapa bunga itu.
Maafkan aku. Kau mengenaliku dan aku tidak.”
BI,
sama sekali tak mengingat bagaimana ia mengenal nama QI. Yang ia tahu hanya
nama itu pernah hadir dihatinya. Usahanya mengingat tak membawanya kearah
apapun. Ayahnya dulu sering menyebut nama QI. Samar-samar ia mengingat suatu
hari dimasa lalu, keluarganya dan keluarga pria itu pergi ke kota lain untuk
berlibur. Mungkin, saat itulah ia menyukai nama QI. Dan sekarang, surat yang
telah ia baca dengan seksama itu menjadi petunjuknya. Bodoh. Lelaki yang pernah
mengisi hatinya tak ia ingat, bahkan lelaki itu selama bertahun-tahun mencoba
mempertahankan hatinya. Bagaimana terlukanya lelaki ini. Saat angin terus
berhembus, mengapa dia tak menyadarinya. Dia hanya bergelut dengan sebuah nama.
BI
bangkit untuk mencari pria itu. Hanya selang beberapa langkah, ia mengingat
sesuatu. Sesuatu yang tak pernah ia sadari dimasa lalu. Kemudian ia berbalik.
Terlihatlah QI yang terkaget karena mengikutinya. Selalu mengikutinya. Keduanya
tersenyum. QI yang malu karena bersikap seperti Penguntit dan BI yang melihat
tingkah pria ini. Langkah mereka seirama, saling mendekat.
“Aku
menemukanmu.”
“Kau
kembali.”
--‘’—
Cinta.
Banyak orang mempertanyakan apa itu cinta. Apakah cinta menyakitkan? Atau
justru menyenangkan? Menyakitkan, karena cinta membuatmu menangis lara.
Menyenangkan, karena cinta membuatmu tertawa, melupakan sejenak hidupmu.
Menunggu itu tak mudah. Namun kau akan mengisap harumnya saat kau percaya. Saat
ini mari kita bicara tentang penantian. Saat kita menunggu seseorang dan
ternyata ia datang terlambat, kita marah. Saat kita menunggu seseorang namun ia
tak datang, kita kecewa. Kenyataan berbeda saat menunggu orang yang kita
cintai. Sakitnya lebih dari yang bisa kau bayangkan. Kau menunggu namun ia tak
pernah tahu kau menunggunya. Seseorang yang sudah biasa dengan penantian
mungkin tak akan terlalu sakit, namun pada suatu titik ia akan lelah. Ia putus
asa dengan penantiannya ini. waktu dan hati yang terkuras tak bisa ia
kembalikan lagi. Sesedih inikah penantian?
Tapi
lihat, saat penantian yang kau lakukan selama ini menuai hasilnya. Berapa waktu
yang kau habiskan? Seminggu? Sebulan? Setahun? Atau sepuluh tahun? Semakin lama
waktunya, maka kelagaan dalam hatimu tak akan ada yang bisa mengerti. Hanya kau
yang mengerti. Duka, lara, tangis, dan kesepian. Sepertinya hatimu melayang,
melepas dahaga yang selama ini menggerogoti hatimu. Itu akan membutuhkan
keberanian. Saat yang kau nanti tak menantimu juga maka kau harus berbesar
hati. Sudah siapkah kau menunggu? Butuh keberanian.
Lalu,
apakah cinta itu memang ada yang kadaluarsa? Cinta
yang semakin lama semakin pudar seiring berjalannya waktu. Seperti makanan yang
terlalu lama disimpan tanpa dimakan dan dinikmati. Apakah benar? Kurasa tidak.
Tak ada cinta yang kadaluarsa. Tetapi cinta yang berkurang. Saat cinta itu datang
kembali, apakah kau akan melewatkannya?
*Penantian
butuh keberanian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar