Translate

Jumat, 10 Oktober 2014

PENANTIAN : QI DAN BI

OKEH,,, udah lama tulisan ini menjamur di laptop.. tapi sekolah emang nggak bisa diganggu..
Kita mulai yahhh.. tulisan ini lanjutan dari Menunggu : Ksatria dan Seorang Penyanyi

Rangkaian bunga. Tangkai demi tangkai dimasukkan kedalam sebuah vas putih polos berukuran sedang. Perangkai bunga itu memasukkannya berdasarkan status. Agar terkesan lebih bernilai. Bunga yang tumbuh di taman harus disandingkan dengan sejenisnya. Tanpa mencampur bunga liar dari hutan. Karena itu adalah aturan. Perangkai itu harus tahu bagaimana cara memberi kecocokkan pada bunga-bunganya. Akhirnya selesai.

Seorang pria masuk dan bertanya tentang rangkaian bunga yang dipesannya. Ruang itu dipenuhi banyak jenis bunga yang disusun rapi. Terlihat masih sangat segar. Perangkai bunga baru saja memotongnya langsung dari taman yang berada dibelakang rumah.  Pria itu adalah pelanggan tetap si wanita perangkai bunga. Yang mana rumahnya bersebelahan. Tetapi, sifat pemalu diantara keduanya lah yang membuat mereka terkesan asing. Seperti biasanya, perangkai bunga memberikan sebuah kertas berwarna yang telah dihias dengan bunga kering. Sebenarnya penjual bunga itu ingin bertanya kepada siapa bunga itu ditunjukkan. Tapi ia tahu, tak ada hak untuknya.

Pria itu menulis surat dan wanita perangkai merapikan bunga-bunganya. Terkadang wanita itu melirikan matanya, rasa penasaran begitu ada. Si pria adalah anak dari teman dekat ayahnya. Entah mengapa wanita tadi merasa begitu mengenal namanya. Sejak ia pindah ke desa ini, setiap ada orang menyebut nama pria itu ada dorongan hati baginya untuk melihat wajah pemilik nama itu. Seakan nama itu begitu membekas dihatinya.
Setelah selesai, pria tadi membayar rangkaian bunga dan kertas yang dipesannya. Lalu mengucapkan terimakasih.

“Jangan lupa sediakan rangkaian bunga yang berbeda bulan depan.”

Si wanita mengiyakan. Senyumnya tak pernah tertinggal, itu adalah kewajiban dari seorang pedagang. Dan mengucapkan terima kasih. Si priapun meninggalkan rumah itu yang sekaligus menjadi ruang untuk berjualan. Si wanita masih saja memperhatikan si pria hingga halaman depan rumahnya. Tak disangka, ayahnya datang dan si pria menyapa dengan penggilan paman. Entah apa yang dibicarakan, mereka terlihat begitu akrab Kemudian ayahnya masuk dan menyanyakan dagangannya.

“Apakah sulit, seorang penyanyi berubah profesi menjadi penjual bunga?”

“Ayah, menjual bunga adalah keahlianku dari dulu. Mereka temanku, sama seperti suaraku.”

Sang Ayah tersenyum menanggapi jawaban putrinya.

Suatu sore saat si wanita bekerja sebagai penyanyi disebuah kedai, ini adalah pekerjaan keduanya. Dan bunga-bunganya dijaga oleh sang adik. Ia melihat sang pria memasuki kedai itu bersama teman-temannya. Mungkin untuk sekedar melepas lelah. Kecintaannya terhadap buku, membuatnya membuka sebuah  perpustakaan kecil di Pasar. Beberapa meter dari kedainya.

Siapakah kau ?
Yang membuatku ingin selalu memandangmu
Tanahpun selalu bisa mencium bau rintik hujan
Aku yang begitu bodoh tak bisa mengenal wajahmu
Rasa penasaran ini menggugatku

Sepanjang lagu Sang wanita memandang pria itu. Hanya beberapa kali ia melirik ke arah lain. Namun sang pria tak menyadari apapun. Ia hanya tertawa bersama ketiga lainnya. Seakan suara yang terdengar hanya canda-tawa itu. Wanita itu jelas kecewa. Suara yang dikeluarkannya tak berari.

Sang wanita beralih menyanyikan lagu kedua. Kali ini penghayatannya yang tersurat begitu terasa, melibihi tadi. Mungkin karena sekarang ia lebih fokus. Tak memandang  kearah sang pria.

Jika waktu bisa diputar
Aku akan mencegahmu tuk tak pergi
Jangan pergi, jangan pergi
Karena aku tak tahu harus mencarimu kemana
Aku berharap bahwa dunia ini sangat sempit
Kita kan bertemu dalam kebahagiaan
Sekarang hanya satu pertanyaanku
Dimana kau berada?

Tiba-tiba sang pria menoleh ke arah suara penyanyi itu. Entah mengapa seperti ia mengenal suara itu. Tatapannya kosong namun terkesan ada yang dipikirkannya.
Hari berikutnya, dan hari berikutnya selalu seperti itu. Tak pernah ada kata yang terucap. Setiap ada kesempatan bertemu, mereka hanya saling melirik lama. Seperti ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Sikap pendiam si wanita dan sikap pemalu sang pria. Percakapan terakhir adalah bulan lalu saat sang pria membeli bunga. Saat sang pria melewati rumah si wanita atau sebaliknya, dan saat bertemu di kedai. Hanya itu waktu-waktu perjumpaan mereka.

Hingga suatu hari saat si wanita membawa bunga-bunga yang baru ia petik di hutan,berpapasan dengan si pria yang berjalan bersama tiga temannya. Mereka asik dengan canda-tawanya. Si wanita tak menatap, ia hanya menunduk. Tak dinyana, saat jarak mereka sangat dekat, seorang teman dengan tujuan sebagai candaan mendorong tubuh si pria ke arah sang wanita. Dan menabrak tempat bunga yang di bawa sementara tubuh mungil sang wanita telah menghindar. Kenyataanya, yang terjatuh adalah sang pria. Dan tanpa tanggung jawab, teman sang pria pergi bersama larinya. Si wanita bertanya apa pria itu didepannya baik-baik saja. Dan di jawab “YA”. Si wanita kemudian berusaha merapikan bunga-bunganya. Tanpa perintah, si pria membantu merapikannya. Meski dekat, mata mereka tak saling menatap. Hingga si pria akhirnya membuka percakapan. Ia mengingatkan aga bunga yang dipesannya.

“Aku selalu mengingatnya. Itu adalah kewajibanku.”

Sang wanita tersenyum. Ia ingin terus bercakap dengan si pria namun entah apa itu. Hingga akhirnya ia ingat. Sesuatu yang membuatnya penasaran. Mungkin ini kesempatannya.

“Boleh aku bertanya sesuatu, setiap kau membeli bunga, kau juga membeli kertas surat. Sebenarnya, untuk siapa surat itu?”

Sang pria hanya diam. Wanita tahu, sehingga ia meminta maaf. Tak seharusnya ia menyanyakan itu. Ia penasaran setiap sang pria membeli bunganya. Bunga yang dirangkai dengan ketulusannya. Ia memilih pergi karena malu.

“Bunga yang kau rangkai itu untuk seseorang disuatu tempat. Dia selalu ada dipikiranku. Dia seorang perempuan yang kukenal namanya. Hanya namanya yang kutahu. Dan juga, ia sangat menyanyangi ayahnya. Seseorang yang untuk pertama kalinya aku kenal dengan sifat seperti  itu. Aku selalu memperhatikannya dan dia tak tahu. Tapi kemudian dia pergi, aku tak tahu kemana dan kapan ia akan kembali. Sialnya, dia meninggalkan jejak. Aku memiliki prinsip bahwa aku hanya akan mencintai satu orang dalam hidupku.”

Sang wanita menghentikan langkahnya dan kembali menatap si pria.

“Ceritamu tadi, aku tak menyangka itu keluar dari mulutmu. Aku pikir kau adalah orang yang tak peduli akan kisah cinta. Lalu, untuk apa kau membelikannya bunga sementara kau tak tahu dia dimana.”

“Ada sebuah tempat yang selalu ia kunjungi. Tanpa ia tahu, aku mengikutinya. Aku menaruhnya disana karena aku yakin ia akan datang. Surat-surat itu berisi apa saja yang ingin kuceritakan padanya.”

“Apa kau tidak takut jika cintamu akan sia-sia?”

“Aku takut. Tapi tak ada perempuan yang membuatku memalingkan wajahku darinya.”

Baiklah, sang wanita akhirnya pergi karena semua rasa penasarnnya terbayarkan. Angin yang mengiringi langkahnya saat itu, perlahan menjauh kesuatu tempat. Sang pria hanya menatap punggung wanita itu.

“Nama perempuan itu adalah... BI.”

Sang pria tahu, wanita yang menjauh itu tak mendengar ucapannya.

Sang wanita berada tamannya. Duduk merasakan bunga yang harumnya dapat melepas sedikit peluh. Disampingnya terdapat sebuah apel merah. Kini, sang wanita berada disebuah kebun Apel yang cukup luas. Ia bersandar di pohon apel yang paling kanan. Memejamkan mata sejenak.

“Ibu, aku kembali. Tapi aku melupakan semuanya. Jalan yang kita lewati bersama, kenangan yang kita buat. Bahkan sekarang, aku melupakan pohon apel ini. Pohon yang kita tanam bersama. Apa ibu mendengarku di langit sana? Maafkan aku, ibu.”

Wajahnya datar saat mengatakan itu. Kemudian dengan penuh penyesalan, ia mengambil batang kecil didekatnya lalu mengais tanah yang ia dudukki. Ada sebuah kotak berukuran sedang didalamnya. Sang wanita mengambil lalu membukanya. Begitu kagetnya dia, bunga yang ia rangkai untuk  pria yang tadi menabraknya berasa didalam kotak itu. Lengkap dengan beberapa surat. Lalu disampingnya terdapat surat dari ibu yang tiap hari ia baca sewaktu kecil. Benarkah itu bunga yang dirangkainya? Tanpa pikir panjang ia langsung membuka surat disamping bunganya. Benar, itu adalah kertas yang ia hias sendiri. Mengapa pria pelanggannya menyimpan surat disini. Dari mana ia tahu kotak rahasia  ini.

Ada seorang pencuri yang mengambil apel dikebun tak bernama
Ia sudah mengincar apel merah nan manis itu selama seminggu
Namun kebun itu dikelilingi dinding tinggi, sangat tinggi
Seorang pencuri tak pernah meliliki keberanian untuk meminta izin
Ia menyelinap masuk saat pemiliknya lengah tak mengunci gerbang
Ia memakan apel itu hingga kenyang dan membawa sebagiannya lagi
Tapi ia melupakan sesuatu
Apa yang sudah dia ambil adalah sesuatu yang sangat istimewa
Sehingga ia akan terus ingin mengambilnya
Hingga sejak saat itu ia selalu mengikuti kemana pemiliknya pergi
Sialnya, selalu tak ada kesempatan kedua untuk mengambil apel lagi
Ia tak akan pernah melihat apel itu lagi
Namanya berubah menjadi seorang penggemar rahasia si buah apel”
Perkenalkan aku adalah penggemar rahasiamu
QI

Seekor ulat bulu kini telah tumbuh menjadi kupu-kupu
Terbang kesemua tempat yang ingin ia hinggap
Ada seseorang yang ingin menangkapnya
Kau kembali
Mungkin, kau tak akan mengenaliku
Aku ada didekatmu
Sama seperti dulu, aku mengikutiku

“Dia bilang tidak tahu dimana wanita itu berada. Sekarang ia mengatakan wanita itu sudah kembali. QI, bukan hanya namamu yang membuatku penasaran. Juga kisahmu ini. Hingga saat ini, aku tidak tahu. Nama QI di otakku dan kenangan yang aku alami. Aku merasa kenangan itu sangat indah. Apakah itu dia? Sangat tidak menggembirakan jika itu dia, seseorang yang telah memiliki yang lain.”

Aku sudah menunggumu lebih dari sepuluh tahun
Kau telah kembali
Tapi aku masih menunggumu
Dan tetap mengikutimu seperti bayangan
Kau tahu, aku menulis surat ini tepat sangat dekat denganmu
BI, aku QI keturunan dari klan Q
Anak dari Paman QAN, teman ayahmu, Paman BAS
Kau mungkin tak akan membaca surat ini

Wanita itu, BI, kaget. Nama yang selama ini muncul diingatannya benar-benar pria itu. Tangannya lemas, surat yang ia genggam terjatuh dengan sendirinya. Matanya mulai berkaca-kata. Nafasnya tak beraturan. Ia menyandarkarkan tubuhnya lagi pada pohoon itu.

“Jadi, wanita itu adalah aku. Dengan bodohnya aku bertanya untuk siapa bunga itu. Maafkan aku. Kau mengenaliku dan aku tidak.”

BI, sama sekali tak mengingat bagaimana ia mengenal nama QI. Yang ia tahu hanya nama itu pernah hadir dihatinya. Usahanya mengingat tak membawanya kearah apapun. Ayahnya dulu sering menyebut nama QI. Samar-samar ia mengingat suatu hari dimasa lalu, keluarganya dan keluarga pria itu pergi ke kota lain untuk berlibur. Mungkin, saat itulah ia menyukai nama QI. Dan sekarang, surat yang telah ia baca dengan seksama itu menjadi petunjuknya. Bodoh. Lelaki yang pernah mengisi hatinya tak ia ingat, bahkan lelaki itu selama bertahun-tahun mencoba mempertahankan hatinya. Bagaimana terlukanya lelaki ini. Saat angin terus berhembus, mengapa dia tak menyadarinya. Dia hanya bergelut dengan sebuah nama.

BI bangkit untuk mencari pria itu. Hanya selang beberapa langkah, ia mengingat sesuatu. Sesuatu yang tak pernah ia sadari dimasa lalu. Kemudian ia berbalik. Terlihatlah QI yang terkaget karena mengikutinya. Selalu mengikutinya. Keduanya tersenyum. QI yang malu karena bersikap seperti Penguntit dan BI yang melihat tingkah pria ini. Langkah mereka seirama, saling mendekat.

“Aku menemukanmu.”

“Kau kembali.”
--‘’—
Cinta. Banyak orang mempertanyakan apa itu cinta. Apakah cinta menyakitkan? Atau justru menyenangkan? Menyakitkan, karena cinta membuatmu menangis lara. Menyenangkan, karena cinta membuatmu tertawa, melupakan sejenak hidupmu. Menunggu itu tak mudah. Namun kau akan mengisap harumnya saat kau percaya. Saat ini mari kita bicara tentang penantian. Saat kita menunggu seseorang dan ternyata ia datang terlambat, kita marah. Saat kita menunggu seseorang namun ia tak datang, kita kecewa. Kenyataan berbeda saat menunggu orang yang kita cintai. Sakitnya lebih dari yang bisa kau bayangkan. Kau menunggu namun ia tak pernah tahu kau menunggunya. Seseorang yang sudah biasa dengan penantian mungkin tak akan terlalu sakit, namun pada suatu titik ia akan lelah. Ia putus asa dengan penantiannya ini. waktu dan hati yang terkuras tak bisa ia kembalikan lagi. Sesedih inikah penantian?

Tapi lihat, saat penantian yang kau lakukan selama ini menuai hasilnya. Berapa waktu yang kau habiskan? Seminggu? Sebulan? Setahun? Atau sepuluh tahun? Semakin lama waktunya, maka kelagaan dalam hatimu tak akan ada yang bisa mengerti. Hanya kau yang mengerti. Duka, lara, tangis, dan kesepian. Sepertinya hatimu melayang, melepas dahaga yang selama ini menggerogoti hatimu. Itu akan membutuhkan keberanian. Saat yang kau nanti tak menantimu juga maka kau harus berbesar hati. Sudah siapkah kau menunggu? Butuh keberanian.

Lalu, apakah cinta itu memang ada yang kadaluarsa? Cinta yang semakin lama semakin pudar seiring berjalannya waktu. Seperti makanan yang terlalu lama disimpan tanpa dimakan dan dinikmati. Apakah benar? Kurasa tidak. Tak ada cinta yang kadaluarsa. Tetapi cinta yang berkurang. Saat cinta itu datang kembali, apakah kau akan melewatkannya?


*Penantian butuh keberanian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar