Translate

Jumat, 05 Desember 2014

KSATRIA... KAU PERGI?


HUFFFFTTTTTTTT,,, UAS telah selesaiiii saatnya nulissssss..
ini lanjutan cerbungnya.. ini part 3-nya
semoga suka yaaaaa

Angin selalu mengikuti kemana kita melangkah. Ia ada disetiap nafas kita. Dan menjadi saksi akan apa yang menimpa kita. Mungkin ia juga menembus hati dan pikiran kita. Jika seperti itu, maka kita harus berterima kasih padanya. Ia menceritakan semua kisah tentang kita. Dari siapa saja yang kita temui, dan apa yang terjadi pada kita dan mereka. Jika ada yang ingin mengetahui kisah kita, maka tanyakanlah pada angin. Dia akan mengetahui dari hembusan angin itu. Dan masuk ke hatinya. Hanya tinggal kau saja, mempercaainya atau tidak. Angin tak berbicara. Karena Angin adalah saksi bisu dari kisah hidup kita.

Seorang penyanyi disebuah kedai kecil, dengan penghayatan yang ia ciptakan sendiri. Liriknya menceritakan kisah cintanya.

Langit terbentang luas
Ini atap dunia yang mempertemukan kita
Di bawah sudut langit itu
Kau ada disana
Akankah kau menatap langit yang sama denganku?
Aku menghitung setiap hariku
Hari-hariku sama dengan satu hari
Seperti aku tak melewati hari lain selain
Menunggumu

Setelah selesai, BI meminta ijin pada pemilik kafe untuk keluar sebentar. Ia ingin membeli sesuatu. Ditikungan jalan diujung pasar, BI tanpa sengaja bertabarakan dengan seorang pemuda yang terburu-buru. Brak.... si pemuda jatuh. Karena menahan badannya, tangan si pemuda terluka. Darah segar menempel pada kilut tangan kirinya. Buku-buku yang dibawa pemuda itu terjatuh. BI membantunya merapikan buku buku itu.

“Tanganmu terluka.” Ucap BI saat melihat darah ditangan pemuda itu.

“Tak apa, ini hanya luka kecil. Ini juga salahku karena terburu-buru. Terima kasih.”

Pemuda itu segera pergi meninggalkan BI yang hanya mengangkat bahu. BI melanjutkan langkahnya. Ia membeli sebotol lem yang akan ia gunakan untuk menghias kertas. Lalu berlari  membeli 2 vas bunga kecil putih polos untuk bunga-bunganya. Tanpa sengaja, ia melihat seorang penyanyi dipasar. Ini mengingatkan pada dirinya dulu saat berada di Kota Raja. Ia tersenyum mengenang masa-masa itu. saat ia menunggu ksatrianya. Ia kembali ke kedai. Pengunjung disana sudah semakin ramai. Namun ada yang membuatnya merasa janggal. Penyanyi yang biasa bernyanyi setelah dia, kini berbeda. Orang itu adalah pemuda yang ditabrakya tadi. Bagaimana bisa?

BI menanyakan pada pemillik kedai. Ternyata pemuda itu adalah penyanyi baru. Menggantikan penyanyi lama karena sudah pindah ke kota lain. Bahkan pemilik kedai menggoda BI dengan mengatakan pemuda itu sangat tampan. Juga suaranya merdu.

“Dia pantas untukmu. Dimana lagi kau akan mendapatkan pemuda seperti dia? Aku bisa membantumu.”

BI hanya tersenyum tak setuju. Ia tahu pemilik kedai hanya bercanda. Itu sudah menjadi kebiasaanya. BI sangat akrab dengan  pemilik kedai itu. Lelaki yang usianya sudah setengah abad itulah yang selama ini bisa mengurangi rasa kesepian BI. BI dengan seksama memperhatika pemuda itu bernyanyi.

Aku berharap ini bukan cinta
hanya rasa sayang sebagai manusia yang saling kenal
kata-kata bahwa aku menyukaimu
itu tak seharusnya ada
tapi hari-hari yang kita lewati menjadi bukti
hatiku berdetak tiap bersamamu
musik yang kau mainkan
meluluhkan hatiku

Saat itu hari semakin sore, sang surya sedang menunggu untuk kembali. Begitupun para manusia. Bi pulang, namun saat ia melangkah, ada yang memanggilnya. Dia adalah pemuda tadi. Ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada BI. Sepertinya dia pemuda yang pandai bergaul. Mereka berkenalan.

“Namaku LU. Dari klan L. Siapa namamu ?”

“BI. Bagaimana lukamu?”

“Tak apa. Hanya luka kecil.”

BI tersenyum. Kemudian LU menawarkan untuk pulang bersama. Karena arah rumah mereka sama.

“Kau tahu rumahku?” Ucap BI heran

“Ehem. Paman IN tiba-tiba memberitahuku. Ia juga mengatakan untuk berteman denganmu. Katanya, kau seperti gadis kesepian. Jadi, aku harus membuatmu tertawa. Tenang saja aku pandai melakukan itu.”

BI bengong mendengarnya. Paman pemulik kedai benar melakukan ucapannya. BI hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis.

“Kau tak perlu melakukannya. Ucapannya tak perlu didengar. Ia hanya bercanda.”

“Benarkah? Tapi aku melihat perkataan paman IN benar. Kau gadis kesepian. Hahahahahaaaaa.”

“Kau....”

LU segera lari dari kejaran gadis yang akan memukulnya itu. Mereka saling berkejaran dalam tawa. LU terus menggoda BI.

Hanya butuh waktu sebentar
ia dapat membuatku kembali tertawa
aku terus mengejarnya
seakan aku membutuhkan tawa itu
ia tersenyum padaku
ia mengingatkanku pada diriku

BI terus mengejar LU hingga sampai disebuah pertigaan jalan kecil. Hingga LU meminta ampun padanya. Lalu berkata  jika ia hanya bercanda.

“Melihatmu tertawa seperti ini. Sepertinya paman IN hanya bercanda. Atau, aku telah berhasil membuatmu tertawa...”

“Seburuk itu kah aku?” tanya BI yang sadar jika tawanya menjadi sebuah gurauan.

“YA!!!!”

LU mengatakannya dengan semangat lalu ia pergi ke arah kanan. Mungkin ke arah rumahnya sambil terus tersenyum. Gerakannya lincah. Lalu berlari seperti yang BI lihat pertama kali. Apakan LU memang selelu terburu-buru? BI hanya menatap pemuda itu miris. Kepribadiaanya berbanding terbalik dengan BI. Namun BI akan senang jika LU menjadi sahabatnya.

“LU, tidak bisakah kau berbohong? Dan mengatakan tawaku sepertinya adalah kebiasaan?”

BI masih terpaku melihat pemuda itu. Kemudian ia berbalik ke arah kiri.

Hari-hari LU dan BI lalui. Merekapun menjadi sahabat. BI melihat LU bernyanyi di kedai. Lirik yang dinyanyikan LU sangat menyentuh. Seakan lagu itu ditunjukkan untuk seseorang. Sama seperti BI saat ia menciptakan sebuah lagu. Dinegerinya, seorang penyanyi harus menciptakan lagunya sendiri.

Hari-hari yang kita lalui sangat indah
tertawa bersama dan bahagia bersama
aku takkan melupakan kenangan itu
meski kini kita jauh
dan kau hilang dari pandangan mataku
Aku selalu takut kehilanganmu
dan kini aku takut jika kita tak bertemu lagi
aku yang mencarimu dan takkan melewatkanmu
saat kau melambaikan tangan
aku tak tahu jika itu senyummu yang terakhir
jika waktu bisa diputar
aku akan lebih menghabiskan waktuku bersamamu
hanya bersamamu

Setelah selesai, LU menghampiri BI. Ia mengajak BI untuk berduet. Ia terkesan dengan suara khas BI. Juga makna yang terkandung disetiap lirik lagu BI. Mereka pergi ke pohon apel untuk membuat lagu bersama. Katanya, angin di sana seakan memberi semangat pada mereka. Namun, lagu sperti apa yang akan mereka ciptakan?

“Aku ingin mencipakan sebuah lagu tentang kehilangan.” Jawab LU

“Itu lagumu tadi. Kau membawakan lagunya dengan hati. Aku bisa merasakan itu. Matamu seakan menangis. Apakah lagu itu untuk kekasihmu?”

“bukan. Ia bukan kekasihku. Jika ia kekasihku, bagaimana mungkin ia meninggalkanku tanpa pemberitahuan? Aku mencarinya.”

“Siapa gadis itu? aku tidak percaya jika lelaki kekanakan sepertimu mempunyai kekasih. Apa yang membuat dia menyukaimu. Aku bertaya-tanya.”

“Yeahhhhh.. BI sudah bisa bercanda.”

“jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Baiklah. Kau mungkin tak percaya. Tapi aku berbicara yang sebenarnya. Dia adalah tuan putri negeri ini. Putri ketiga sekaligus kesayangan Sang Raja. Tuan Putri PIN.”

BI menoleh. Ia menatap LU tak percaya.

“Tuan Putri seperti awan, mengikutiku kemanapun. Awalnya aku merasa risih. Seorang putri tak pantas melakukan itu pada seorang pemuda sepertiku. Saat itu, aku menjadi guru musiknya. Tapi Tuan Putri terus mengejarku. Aku cinta pertamanya. Entah apa alasannya. Tuan Putri selalu merahasiakannya. Ia selalu tertawa dan tersenyum didepanku. Seakan hidupnya tanpa beban. Seorang yang bisa dibilang sangat kekanakkan. Sama sepertiku. Namun saat itu,  aku tak menyukai wanita dengan sifatnya. Hingga akhirnya ia menyerah. Tanpa sadar, saat itu aku sudah mulai luluh dan aku menyukainya berkat waktu yang kami lalui. Saat itu aku kehilangan dirinya yang ceria. Aku bingung bagaimana mengatakannya jika aku sudah mulai menyukainya. Tuan Putri berkata jika ia kehilangan tawanya karena diriku. Hanya bersama diriku ia bisa tertawa. Akhirnya aku menemukan alasan yang memberiku keberanian untu mengatakannya. Aku ingin melihatnya terus tersenyum. Sejak itu, aku kembali melihat tawanya. Hubungan kami tak diketahui siapapun. Jika aku bayangkan hubungan kami,  selalu dipenuhi oleh tawa. Aku kesini untuk mencarinya.”

“Ia sama sepertimu. Raja mempunyai tiga Putri. Namun aku hanya bisa melihat Putri PIN disetiap perayaan rakyat. Tuan Putri sangat cantik. Putri begitu bersahabat dengan rakyat. Aku bisa melihat wajah polosnya. Lalu mengapa ia meninggalkanmu?”

“Kau tak tahu? Ini adalah konspirasi. Selir DAN (Ibu Tuan Putri) difitnah jika beliau telah berusaha meracuni Putra Mahkota NOR. Tuan Putri kini menjadi buronan Kerajaan. Ia dicap sebagai penghianat bersama ibunya yang merupakan selir Raja. Mereka adalah orang baik. Kejadian malam itu, 1 bulan lalu, aku yakin putri sangat terpukul. Seandainya saja aku ada disana. Orang-orang yang mendukung mereka juga dimusnahkan. Termasuk Ksatria!!!”

Mendengar nama Ksatria disebut, mata BI membulat. Apa yang terjadi dengan Ksatrianya. Ia menatap LU tak percaya.

“Ksatria juga meninggal. Padahal ia adalah kekasih dari Tuan Putri NIN. Anak Ratu WEN. Sang Ratu yang selama ini dipuja Rakyat, aku tak menyangka ia sekejam itu. Sang Ratu benar-benar kejam!!!”

“LU!!!!” tegur BI. Tak seharusnya LU mengatakan hal seperti itu yang akan membawanya pada kematian.

“Tuan Putri, tak pernah mengatakan apapun padaku jika keluarganya saling berselisih.”

BI pulang dengan lemas mendengar kenyataan itu. BI hanya mendengarnya prihatin semua ucapan LU. Ksatria telah pergi. Dan juga, cintanya telah sia-sia bahkan sebelum Ksatria pergi. Ia adalah kekasih seseorang yang tak sebanding dengannya dari segi apapun. Tuan Putri NIN. Matanya sudah mengalirkan air mata. Jantungnya seakan berhenti  berdetak. Ksatrianya Meninggal? Kabar apa itu? ksatria pergi tanpa ia bertemu dengannya? Air matanya mengalir. Ia tak mempercayai semua ini. Hatinya sudah terpaku untuk Ksatria.

Dirumahnya, saat BI sedang merangkai bunga LU muncul dengan terengah-engah seperti biasanya. Keringat mengalir dikulit wajahnya.

“BI, Tuan Putri berada di Desa SAP.”

“Dari mana kau tahu?”

“Ada seorang mata-mataku di Istana. Ia teman baikku. Semalam ia mengirim surat dan memberitahu jika pasukan kerajaan dibawah Ksatria yang baru telah menngirim pasukan ke Desa itu. Aku baru ingat jika desa itu adalah tempat kelahiran Selir DAN.”

“Lalu?”

“Maukah kau ikut denganku? Aku yakin aku pasti membutuhkanmu. Kau mau menolongku kan?”

BI tak percaya pada sahabatnya itu. Ia dilibatkan pada kisah yang ia sendiri tak tahu. Ini konspirasi kerajaan. Bagaimana mungkin ia terlibat pada masalah besar seperti ini.

“Apa kau gila? Aku ini siapa? Apa yang bisa aku bantu?”

“Kumohon, jika terjadi sesuatu padaku kau bisa melindungi Tuan Putri-ku. Ia segalanya bagiku. Aku berjanji kau takkan terluka. Kau takkan terlihat oleh pasukan kerajaan. Aku hanya ingin kau membawa Tuan Putri dibelakangku.”

“Tidak. Aku tidak punya uruusan dengan mereka. Aku sudah cukup terluka mendengar kematian seseorang. Aku tidak ingin mendengar itu sekali lagi.”

“Maksudmu Tuan Putri akan meninggal? “ ucap LU tersingung

BI kaget akan ucapannya sendiri.

“Bukan itu maksudku. Ia masalah besar dimana seorang seperti Ksatria bisa meninggal dengan mudah. Otak juga dibutuhkan. Mereka menggunakan fitnah-fitnah menjijikan. Mereka licik dan merekan punya kekuasaan. Sedangkan kau, mungkin kau punya cinta. Tapi kau dan aku tidak punya kekuatan. Setelah ini, jika Tuan Putri berhasil kau bawa, apa ia benar-benar akan selamat dan hidup bahagia? Apa ia akan benar-benar lepas dari tudukan Pemberontak? Kadang, ada hal yang tak bisa kau lakukan meski kau mencintainya. Itu akan membuat dirimu terluka.”

“bahkan, aku tidak tahu kapan dan bagaimana ia pergi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan cinta yang kusimpan. Aku tidak memiliki keberanian dan kekuatan bertemu dengannya. Saat ini, aku benar-benar terluka mengetahui diriku begitu bodoh.” Ucap BI dalam hati.

“Aku... aku mencintainya melebihi diriku sendiri. Kau takkan tahu rasanya. Jika  aku tahu ia benar pergi meninggalkanku selamanya maka akupun tak bisa hidup. Sebagian dari hidupku adalah hidup Tuan Putri. Jika setengah hidupku hilang, lebih baik aku mati. Aku pun datang kesini untuk mencarinya. Jadi aku akan berusaha meneyelamatkannya. Aku tidak bodoh dengan membiarkan dirinya terluka BI.”

BI menatap mata LU tajam. Keringatnya berganti air mata yang kini memenuhi pipinya. Kepedihannya begitu tersurat. Saat itu, BI tahu jika kisahnya berbeda dengan kisah LU yang sudah lama  dimulai. Kisahnya berbeda dengan kisah LU yang penuh perjuangan. Kisahnya berbeda dengan kisah LU yang saling mengetahui perasaan cinta masing-masing.

“Juga, Keadilan dinegeri ini harus ditegakkan. Aku tahu kau tak menyukai ketidakadilan.”

Lama BI terdiam. Benar. Ini tentang keadilan. Matanya juga mulai basah melihat sahabatnya menangis.

“Mungkin, kita baru berkenalan beberapa hari. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Dengan kau mencoba membuatku tersenyum. Bagaimana mungkin sebagai saudara tidak saling tolong-menolong.”

BI dan LU tersenyum. Senyum diantara air mata mereka.

“Aku tak percaya jika sahabatku seorang gadis yang kesepian.”

“Aku juga tak percaya jika akan mempunyai seorang sahabat yang kekanakkan.”


Bersambung........

Cinta yang penuh mengorbanan dan cinta yang hanya suka tanpa saling mengetahui. Saat mereka dipertemukan, maka cinta yang pertamalah yang akan menang. Perjuangkanlah cintamu yang telah tumbuh. Dengan begitu cintamu mungkin akan menjadi cinta sampai mati. Tetapi tanpa merusak harga dirimu. Dan juga, keadilan? Semua berkata keadilan harus ditegakkan. Tapi cara menegakkan keadilan itulah yang harus ditanyakan.


*PerjuanganCinta

QI DAN KSATRIA


Akhirnya bisa nulis lagi... ini part yang ke 3 lanjutan dari part 2 ....

sebenarnya cerbung ini dari awal niatnya tuh dibuat menurut kisah diri sendiri, tapi kalo gitu keliatan monoton banget... jadi ya aku ubah. Semoga suka...
selamat membaca....

Cinta yang ku genggam
Cinta yang ku percaya
Cinta yang ku simpan
Apakah telah pergi?
Aku berharap seperti itu

BI menyanyi di kedai itu kembali. Kini ia bebas menatap lelaki yang telah ia sadari siapa jati dirinya. Lelaki yang tak pernah ia kenal. Hanya nama dan ingatan tentang nama itu yang ia ketahui. Lelaki itu sibuk membawa tumpukan buku bersama teman-temannya yang tak tahu seberapa beratnya. Buku itu akan ia taruh di perpustakaan yang dibangun beberapa tahun lalu. Dengan  senyum pesonanya, lelaki itu menatap BI. Yang juga dibalas dengan senyum. Ditengah keramaian pasar yang tak terhindarkan, pemuda itu sempat-sempatnya memberi kode untuk BI. Telunjuk kirinya menjulur kearah depan. Mengingatkan BI untuk pergi ke perpustakaannya setelah menyanyi, sesuai janjinya kemarin. BI menganggukkan kepala dan disela nyanyiaanya ia memberi semangat pada lelaki itu. QI benar-benar membuatnya terkesan.

Cinta yang kuharapkan
Tak pernah tahu dimana akhirnya
Jalan itu masih terbentang lurus
Cinta yang tak memberi petunjuk
Apakah aku harus pergi?
Menuju jalan yang aku tahu akan akhirnya

Kini, di perpustakaan QI telah merapikan buku-buku yang ia pesan beberapa hari lalu. Sebagian juga berasal dari sumbangan orang-orang yang tersentuh akan ketulusan QI. Ia memisahnya dalam beberapa rak. Perpustakaan itu masih sangat kecil. Ia tak bisa melebarkannya lagi karena bangunan itu  diapit oleh kios-kios. Salahnya, membangun perpustakaan disebuah pasar yang menjadi tempat terbesar didesanya. Pasar  tempat dimana anak-anak berkumpul untuk bermain atau membantu orangtuanya. 

Bi datang, ia duduk disalah satu kursi. Meliuk-liukkan kuas diatas kertas. Berusaha mencari inspirasi untuk lagunya. Matanya menjalar pada sosok pemuda itu. Pemuda yang setia menunggunya meski tak tahu kapan dan dimana mereka akan bertemu kembali. Cinta yang benar adanya. Cinta yang bisa dijaga kesetiaannya. Namun, apa yang harus BI lakukan. Cinta tak terbalasnya dan cinta yang sedang ia tunggu untuk Ksatriannya, benar-benar menyedihkan. Sementara diseberang sana ada sebuah sungai yang alirannya sangat deras. BI tak ingin menjadi seseorang yang memilih. Ia akan menjadi seorang yang dipilih. Itulah yang seharusnya seorang wanita lakukan dinegerinya. Bahkan BI pun bimbang dengan hatinya. QI yang hadir terlebih dahulu dalam hidupnya, kini mungkin telah terkikis oleh kekejaman waktu. Tapi, bagaimana mungkin ia melewatkan seseorang yang bisa menjaga hatinya. Ksatria yang tak pernah tahu dirinya, matanya bahkan mungkin suaranyapun belum tentu diingat oleh ksatria. Apakah ini suatu keberuntungan atau bukan? Rasa sukanya pada seorang pemuda dimasa lalu, yang sesungguhnya semakin lama semakin pudar. Mungkin membekas, namun bekasnya tak sampai berbau harum.

2 tahun lalu...

Saat itu, waktu yang tidak pernah BI bayangkan sebelumnya. Bahwa ia harus meninggalkan Kota Raja. Bersama ayah dan adik perempuannya. Tak ada yang pernah tahu apa yang terjadi paada detik selanjutnya. Ayahnya mengajak ke sebuah Kota di negeri itu yang jaraknya membutuhkan waktu hingga 5 jam dengan  perahu. Yang mana kota itu adalah tempak kelahiran Sang Ayah. Alasannya, karena Sang Ayah ingin menghabiskan sisa hari-harinya dikota Ibu dan mendirikan sebuah bisnis disana. Satu hal yang BI sadari, ksatria yang ia puja tak akan pernah dan tak akan bisa ia temui lagi. Pertemuan di istana itu, adalah hari terakhirnya bertemu dengan sang ksatria. Saat ini, sebulan dari hari itu ia harus pergi. Meninggalkan kenangan yang ia  buat.

Di Dermaga, BI berdiri diantara kerumunan yang berbeda arah. Ada yang pulang dan pergi. Namun perahu yang dipesannya tak kunjung datang. BI dan keluarganya menunggu dengan sabar sekitar pembatas dermaga dan jalan. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar suara langkah kaki yang seragam dan berjumlah banyak. Serta suara yang menyuruhnya untuk minggir. Pun rakyat yang berseru, “Dia pantas mati!!! Penjahat sepertinya pantas mati!!! Tak ada hukuman yang lebih pantas untuknya selain mati!!! Hidup Raja!!! Hidup Raja!!! Hidup Raja!!! Hidup Ksatria!!! Hidup!!! Hidup!!! Hidup!!!” BI menoleh. Dan tampaklah prajurit kerajaan yang membawa 2 penghianat yang berani mengancam nyawa Raja Negeri ini. Mengunci mereka agar tak bergerak bebas, bahkan terkesan menyeretnya. Kejadian seperti ini nampaknya sudah biasa bagi penduduk. Bi pun tak menunjukkan keterkejuttannya akan peristiwa ini.

Sementara dibelakang prajurit-prajurit tadi, tampaklah Ksatria yang ia tunggu dikawal oleh 2 prajurit lainnya. Langkahnya cepat menyeimbangkan langkah yang lain. Pedang yang selalu ia genggam di tangan kekarnya kini terkesan menakutkan. Wajahnya datar, disudut mata tajamnya menunjukkan kemarahan. Mungkin pada pengkhianat-pengkhianat tadi. BI bisa melihat peluh yang tersirat dari wajahnya. Dan sedikit cipratan darah disekitar matanya. Mungkin darah pengkhianat tadi.

Kali ini BI bingung antara senang atau sedih. Hari ini ia bisa melihat kembali ksatria yang untuk pertama kalinya, saat ia tak menunggunya, Ksatria datang tanpa BI berharap. Namun disisi lain, ini terakhir kalinya ia bisa melihat wajah Sang Ksatria.

Tak apa
mungkin ini lebih baik untukku
punggungmu,
jejek langkahmu
dan tatapan matamu
aku sudah tak bisa melihatnya lagi

Mungkin penantian yang BI rasakan selama ini akan pudar. Dan ia tak akan merasakan menunggu lagi.

Kenyataannya, saat ini BI yang masih duduk sembari memikirkan pemuda itu. Masih berharap dan menunggu dimana waktu bisa menjemputnya menemui Ksatria. 2 tahun bukan waktu singkat untuk melupakan seorang yang bahkan tak begitu ia kenal. Namun, berapa lama lagi baginya untuk bisa melupakan serpihan ingatan tentang ksatria? Mengapa sangat sulit untuk melupakannya? Apakah akan ada takdir yang hebat antara mereka? BI, bukan ia yang tak bisa melupakan ksatria tapi ia yang tak rela jika ia melupakan ksatria. Karena ia masih merasakan kerinduan seperti menanti rintik hujan.

Tiba-tiba langit mendung itu sudah menjatuhkan airnya. Rintik hujan itu turun membasahi tanah dipasar. BI melangkah menuju jendela. Memandang hujan yang semakin deras. Menghirup bau yang ia rindu. Hujan itu selalu tampak menakjubkan.

Rintik hujan..
datang kembali
semua berlindung dengan payungnya
tapi aku tak membawa payung
aku merasakan air jatuh dibahuku
di kepalaku lalu membasahi mahkotaku
hingga meresap disela bajuku
telapak tanganku ingin menyentuhnya
namun tak bisa
setiap ku genggam rintik hujan itu
mengalir kebawah
sehingga aku harus bersusah menggunakan kedua tanganku
merasakan dinginnya
juga ketenangan yang menjalar pada hatiku

“Saat ini, aku masih mengingatnya. Bagaimana rasanya menunggumu. Saat hujan turun saat itu pula aku merasakannya. Kerinduan yang membuatku ingin mengakhiri penantian itu. Tapi hujan terus turun tiap harinya. Bukan membasahi bumi tapi hatiku. Hujan kali ini mungkin sebagai petunjuk. Untukku tidak melupakannya. Aku masih ingin menunggunya. Ksatria... itu tetap ada dihatiku.” BI tersenyum mengatakannya. Inilah keputusan yang pada akhirnya ia pilih. Setelah usaha untuk melupakan ksatria gagal.

Melihat BI yang diam termenung didekat jendela membuat QI heran. Ia menghampiri gadis itu.

“BI, apa ada sesuatu yang mengganggumu?”

“Tidak, aku hanya sedang menikmati hujan saja. Setelah musim panas yang panjang.”

Mereka terdiam cukup lama. QI juga akhirnya menikmati hujan dibalik jendela perpustakaannya. Pandangan lelaki itu kini seakan sedih. Melihat QI membuat  BI merasa bersalah akan keputusannya. Tapi, ia harus jujur. Ini adalah waktu yang tepat.

“QI, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu. Ini mungkin... akan....”

“BI, ada sesuatu yang harus aku katakan. Mungkin ini lebih penting dari yang akan kau katakan. Bukan sekarang , tapi besok. Temui aku di pohon apel jam 4 sore. Aku mohon datanglah.”

Hari yang dinanti akhirnya datang. QI telah menunggunya dengan seikat bunga. Namun kali ini bukan bunga dari tokonya. BI menyapa QI. Mereka saling melempar senyum.

“BI, kau mungkin tak tahu apa yang aku lakukan selama 10 tahun ini. Menunggu bukanlah hal yang mudah untukku. Aku ingin kau datang saat aku membutuhkanmu. Tapi kau tak mendengar suaraku. Saat itu aku ingin menyerah untuk menunggumu. Bayangmu tak pernah hilang dari ingatanku. Saat aku berada dibelakangmu dan hanya punggungmu yang aku lihat, saat itupun aku hampir menyerah. Namun, kau benar-benar membuatku tertarik. Saat ini perasaanku padamu sama seperti 10 tahun lalu. Saat aku melihatmu lagi. Saat aku sudah tak menatap punggungmu lagi. Aku merasa benar-benar bahagia. Aku tak tahu apa jadinya jika aku harus kehilanganmu lagi.” Ucap QI yang berkaca-kaca.

“QI, apa yang ingin kau katakan sebenarnya.”

“BI, aku harus pergi. Meninggalkanmu. Aku akan membangun sebuah penginapan disebuah desa terpencil dinegeri ini. Desa itu adalah pusat perdagangan. Aku juga akan membangun sebuah tempat  pengobatan disana. Tapi, aku juga tak mungkin membawamu. Aku tak ingin membuatmu terluka. Sudah waktunya bagiku untuk menyerah. Hari ini, perasaanku padamu adalah yang terakhir.”

Aku akan pergi
meninggalkanmu dan punggung ku yang tersenyum
cinta yang kuberikan padamu akan hilang
terkikis oleh jarak
kau takkan terluka dan menangis
menunggumu adalah waktu yang berharga untukku
cintaku cukup sampai disini
hari-hari yang kita jalani nanti
ku harap kau bahagia

“Kau akan pergi?”

“Benar. Aku akan pergi besok sebelum matahari muncul.”

“Jadi ini adalah perpisahan kita?” ucap BI yang kini berkaca-kaca

“Aku pergi.” QI lalu pergi sebelum melihat gadis itu menangis.

“Aku, tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu yang lain.”

QI membalikkan badannya lagi menatap BI.

“Dulu saat aku pergi meninggalkan kota ini dan tinggal disebuah kota yang asing, aku merasa benar-benar sendiri. Aku tak mengenal siapapun. Aku pun tak merasa tertarik pada siapapun. Aku selalu duduk diatas bukit dibawah pohon besar, untuk meyakinkan diriku bahwa aku bisa bersosialisasi. Namun, keesokan harinya aku datang lagi dan datang lagi. Aku harus membuang diriku yang tak bisa bersosialisasi. Aku menangis disana. Hingga suatu hari aku mendengar suara jeritan. Ternyata, ada anak lelaki kecil yang teluka saat berlatih pedang. Aku membalut lukanya dengan saputangan yang biasa aku bawa. Saat itu untuk pertamakalinya aku bicara dengan seseorang di Kota Raja. Ia berterimakasih padaku. Aku mengingatnya dengan jelas. Bahwa aku membalut lukanya dengan baik. Keesokkan harinya aku datang lagi namun aku tak menemukannya. Aku menunggu dan menunggu. Karena orang itu, aku mulai bisa bersosialisasi. Aku memberanikan diriku untuk bercakap dengan anak seusiaku. Hingga beberapa minggu kemudian aku melihatnya. Namun apa daya aku tak berani menemuinya. Tak ada alasan bagiku bisa untuk menemuinya. Hingga bertahun-tahun itu terjadi. Akhirnya aku tahu siapa lelaki itu. Dia tumbuh menjadi seorang yang hebat. Kemampuan pedangnya tak tertandingi. Ksatria negeri ini.” QI kaget mendengar hal itu. Gadis didepannya, bagaimana mungkin ia merasakan hal itu. Perasaan menunggu yang dirasakannya ternyata BI juga merasakannya. QI menatap prihatin BI.

“Mungkin aku juga pernah mencintaimu. Tapi maafkan aku, itu sudah mulai terkikis oleh waktu. Sekarang hanya dia yang aku rindu.” Lanjut BI

“BI, bagaimana mungkin kau mengalami hal ini. Kau sebaiknya melupakan dia. Sebelum kau terluka. Tapi, setelah penantianmu itu terbalas kau kan tahu apa yang aku rasakan saat bertemu denganmu dulu.”

“Aku tahu. Aku cukup tahu diri dengan perbedaan kasta. Aku takkan berharap lebih. Aku hanya ingin menyimpannya saja.”

QI tersenyum menyemangatinya. Dan BI hanya tersenyum pahit.

Hari itu, apel-apel telah berwarna merah. Entah beberapa bulan sejak  perginya QI. Di pohon yang sama dengan waktu itu, BI duduk sambil meliukkan kuasnya. Ia menuliskan sebuah kata untuk seseorang. Buah apel manis disampingnya siap ia makan. Ditatapnya langit cerah yang terhampar luas, ia tersenyum. Ia berhasil mengikuti kata hatinya dengan memilih Ksatria. Seseorang yang dicintainya dan  ia inginkan. Gadis itu sudah memantapkan hatinya. Keputusannya sudah tepat. Ia takkan goyah lagi. Meski ketakutan kini menghantam hatinya. Takut jika cerita cintanya akan berakhir sedih. Takut  jika kisahnya dengan ksatria tak pernah dimulai. Takut jika ia hanya menjadi seorang pohon penantian. Takut jika ia tak pernah bertemu lagi dengan ksatria. Sekarang bukanlah waktu dimana ia berada di Kota Raja. Apakah ia akan tetap menunggu dan bersabar ketika ia sudah berada di waktu lain dan bertemu dengan banyak orang? Ia hanya tersenyum. Itu(pertanyaannya) adalah nanti. Dan ini(perasaannya) adalah sekarang. Ditatapnya kertas tadi. Awan-awan berkumpul diatasnya dan ikut membaca.

“Merindukanmu.”


Bersambung........

Cinta itu mudah bukan? Hanya menanti dan menikmatinya. Cinta juga indah. Kita tersenyum tanpa sadar saat mengingatnya. Saat dia jauh dari pandangan kita. Lalu bagaimana jika ada jalan bercabang didepan kita?  Yang satu tampak orang yang kita cintai dan kita rindukan, namun ia meninggalkan kita atau ia tak tahu jika kita menantinya. Dan yang satu adalah jalan yang selalu terbuka buat kita, orang itu mencintai kita dengan tulus. Jalan mana yang akan kau pilih? Pilihlah jalan yang sama dengan kata hatimu. Apakah kau percaya dengan dirimu sendiri?  Kata hatimu akan menunjukkan jalan mana yang harus kau lewati. Kau orang yang setia bukan? Jika setia maka tak ada halangan untuk menunggu orang lain. Menunggu cintanya. Meski kau banyak bertemu dengan orang, cintamu akan tetap padanya. Dan terus hingga mengakar dan sulit untuk dicabut.


*Percaya pada hatimu