HUFFFFTTTTTTTT,,, UAS telah selesaiiii saatnya nulissssss..
ini lanjutan cerbungnya.. ini part 3-nya
semoga suka yaaaaa
Angin selalu mengikuti kemana kita
melangkah. Ia ada disetiap nafas kita. Dan menjadi saksi akan apa yang menimpa
kita. Mungkin ia juga menembus hati dan pikiran kita. Jika seperti itu, maka
kita harus berterima kasih padanya. Ia menceritakan semua kisah tentang kita.
Dari siapa saja yang kita temui, dan apa yang terjadi pada kita dan mereka.
Jika ada yang ingin mengetahui kisah kita, maka tanyakanlah pada angin. Dia
akan mengetahui dari hembusan angin itu. Dan masuk ke hatinya. Hanya tinggal
kau saja, mempercaainya atau tidak. Angin tak berbicara. Karena Angin adalah
saksi bisu dari kisah hidup kita.
Seorang penyanyi disebuah kedai kecil,
dengan penghayatan yang ia ciptakan sendiri. Liriknya menceritakan kisah
cintanya.
Langit terbentang luas
Ini atap dunia yang mempertemukan kita
Di bawah sudut langit itu
Kau ada disana
Akankah kau menatap langit yang sama denganku?
Ini atap dunia yang mempertemukan kita
Di bawah sudut langit itu
Kau ada disana
Akankah kau menatap langit yang sama denganku?
Aku menghitung setiap hariku
Hari-hariku sama dengan satu hari
Seperti aku tak melewati hari lain selain
Menunggumu
Hari-hariku sama dengan satu hari
Seperti aku tak melewati hari lain selain
Menunggumu
Setelah selesai, BI meminta ijin pada
pemilik kafe untuk keluar sebentar. Ia ingin membeli sesuatu. Ditikungan jalan
diujung pasar, BI tanpa sengaja bertabarakan dengan seorang pemuda yang
terburu-buru. Brak.... si pemuda jatuh. Karena menahan badannya, tangan si
pemuda terluka. Darah segar menempel pada kilut tangan kirinya. Buku-buku yang
dibawa pemuda itu terjatuh. BI membantunya merapikan buku buku itu.
“Tanganmu terluka.” Ucap BI saat
melihat darah ditangan pemuda itu.
“Tak apa, ini hanya luka kecil. Ini
juga salahku karena terburu-buru. Terima kasih.”
Pemuda itu segera pergi meninggalkan
BI yang hanya mengangkat bahu. BI melanjutkan langkahnya. Ia membeli sebotol
lem yang akan ia gunakan untuk menghias kertas. Lalu berlari membeli 2 vas bunga kecil putih polos untuk
bunga-bunganya. Tanpa sengaja, ia melihat seorang penyanyi dipasar. Ini
mengingatkan pada dirinya dulu saat berada di Kota Raja. Ia tersenyum mengenang
masa-masa itu. saat ia menunggu ksatrianya. Ia kembali ke kedai. Pengunjung disana
sudah semakin ramai. Namun ada yang membuatnya merasa janggal. Penyanyi yang
biasa bernyanyi setelah dia, kini berbeda. Orang itu adalah pemuda yang
ditabrakya tadi. Bagaimana bisa?
BI menanyakan pada pemillik kedai.
Ternyata pemuda itu adalah penyanyi baru. Menggantikan penyanyi lama karena
sudah pindah ke kota lain. Bahkan pemilik kedai menggoda BI dengan mengatakan
pemuda itu sangat tampan. Juga suaranya merdu.
“Dia pantas untukmu. Dimana lagi kau
akan mendapatkan pemuda seperti dia? Aku bisa membantumu.”
BI hanya tersenyum tak setuju. Ia tahu
pemilik kedai hanya bercanda. Itu sudah menjadi kebiasaanya. BI sangat akrab
dengan pemilik kedai itu. Lelaki yang
usianya sudah setengah abad itulah yang selama ini bisa mengurangi rasa kesepian
BI. BI dengan seksama memperhatika pemuda itu bernyanyi.
Aku berharap ini bukan cinta
hanya rasa sayang sebagai manusia yang saling kenal
kata-kata bahwa aku menyukaimu
itu tak seharusnya ada
tapi hari-hari yang kita lewati menjadi bukti
hatiku berdetak tiap bersamamu
musik yang kau mainkan
meluluhkan hatiku
hanya rasa sayang sebagai manusia yang saling kenal
kata-kata bahwa aku menyukaimu
itu tak seharusnya ada
tapi hari-hari yang kita lewati menjadi bukti
hatiku berdetak tiap bersamamu
musik yang kau mainkan
meluluhkan hatiku
Saat itu hari semakin sore, sang surya
sedang menunggu untuk kembali. Begitupun para manusia. Bi pulang, namun saat ia
melangkah, ada yang memanggilnya. Dia adalah pemuda tadi. Ia tersenyum dan
mengucapkan terimakasih pada BI. Sepertinya dia pemuda yang pandai bergaul.
Mereka berkenalan.
“Namaku LU. Dari klan L. Siapa namamu
?”
“BI. Bagaimana lukamu?”
“Tak apa. Hanya luka kecil.”
BI tersenyum. Kemudian LU menawarkan
untuk pulang bersama. Karena arah rumah mereka sama.
“Kau tahu rumahku?” Ucap BI heran
“Ehem. Paman IN tiba-tiba
memberitahuku. Ia juga mengatakan untuk berteman denganmu. Katanya, kau seperti
gadis kesepian. Jadi, aku harus membuatmu tertawa. Tenang saja aku pandai
melakukan itu.”
BI bengong mendengarnya. Paman pemulik
kedai benar melakukan ucapannya. BI hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum
tipis.
“Kau tak perlu melakukannya. Ucapannya
tak perlu didengar. Ia hanya bercanda.”
“Benarkah? Tapi aku melihat perkataan
paman IN benar. Kau gadis kesepian. Hahahahahaaaaa.”
“Kau....”
LU segera lari dari kejaran gadis yang
akan memukulnya itu. Mereka saling berkejaran dalam tawa. LU terus menggoda BI.
Hanya butuh waktu sebentar
ia dapat membuatku kembali tertawa
aku terus mengejarnya
seakan aku membutuhkan tawa itu
ia tersenyum padaku
ia mengingatkanku pada diriku
ia dapat membuatku kembali tertawa
aku terus mengejarnya
seakan aku membutuhkan tawa itu
ia tersenyum padaku
ia mengingatkanku pada diriku
BI terus mengejar LU hingga sampai
disebuah pertigaan jalan kecil. Hingga LU meminta ampun padanya. Lalu
berkata jika ia hanya bercanda.
“Melihatmu tertawa seperti ini.
Sepertinya paman IN hanya bercanda. Atau, aku telah berhasil membuatmu
tertawa...”
“Seburuk itu kah aku?” tanya BI yang
sadar jika tawanya menjadi sebuah gurauan.
“YA!!!!”
LU mengatakannya dengan semangat lalu
ia pergi ke arah kanan. Mungkin ke arah rumahnya sambil terus tersenyum.
Gerakannya lincah. Lalu berlari seperti yang BI lihat pertama kali. Apakan LU
memang selelu terburu-buru? BI hanya menatap pemuda itu miris. Kepribadiaanya
berbanding terbalik dengan BI. Namun BI akan senang jika LU menjadi sahabatnya.
“LU, tidak bisakah kau berbohong? Dan
mengatakan tawaku sepertinya adalah kebiasaan?”
BI masih terpaku melihat pemuda itu.
Kemudian ia berbalik ke arah kiri.
Hari-hari LU dan BI lalui. Merekapun
menjadi sahabat. BI melihat LU bernyanyi di kedai. Lirik yang dinyanyikan LU
sangat menyentuh. Seakan lagu itu ditunjukkan untuk seseorang. Sama seperti BI
saat ia menciptakan sebuah lagu. Dinegerinya, seorang penyanyi harus menciptakan
lagunya sendiri.
Hari-hari yang kita lalui sangat indah
tertawa bersama dan bahagia bersama
aku takkan melupakan kenangan itu
meski kini kita jauh
dan kau hilang dari pandangan mataku
tertawa bersama dan bahagia bersama
aku takkan melupakan kenangan itu
meski kini kita jauh
dan kau hilang dari pandangan mataku
Aku selalu takut kehilanganmu
dan kini aku takut jika kita tak bertemu lagi
aku yang mencarimu dan takkan melewatkanmu
saat kau melambaikan tangan
aku tak tahu jika itu senyummu yang terakhir
jika waktu bisa diputar
aku akan lebih menghabiskan waktuku bersamamu
hanya bersamamu
dan kini aku takut jika kita tak bertemu lagi
aku yang mencarimu dan takkan melewatkanmu
saat kau melambaikan tangan
aku tak tahu jika itu senyummu yang terakhir
jika waktu bisa diputar
aku akan lebih menghabiskan waktuku bersamamu
hanya bersamamu
Setelah selesai, LU menghampiri BI. Ia
mengajak BI untuk berduet. Ia terkesan dengan suara khas BI. Juga makna yang
terkandung disetiap lirik lagu BI. Mereka pergi ke pohon apel untuk membuat
lagu bersama. Katanya, angin di sana seakan memberi semangat pada mereka.
Namun, lagu sperti apa yang akan mereka ciptakan?
“Aku ingin mencipakan sebuah lagu
tentang kehilangan.” Jawab LU
“Itu lagumu tadi. Kau membawakan
lagunya dengan hati. Aku bisa merasakan itu. Matamu seakan menangis. Apakah
lagu itu untuk kekasihmu?”
“bukan. Ia bukan kekasihku. Jika ia
kekasihku, bagaimana mungkin ia meninggalkanku tanpa pemberitahuan? Aku
mencarinya.”
“Siapa gadis itu? aku tidak percaya
jika lelaki kekanakan sepertimu mempunyai kekasih. Apa yang membuat dia
menyukaimu. Aku bertaya-tanya.”
“Yeahhhhh.. BI sudah bisa bercanda.”
“jangan mengalihkan pembicaraan.”
“Baiklah. Kau mungkin tak percaya.
Tapi aku berbicara yang sebenarnya. Dia adalah tuan putri negeri ini. Putri
ketiga sekaligus kesayangan Sang Raja. Tuan Putri PIN.”
BI menoleh. Ia menatap LU tak percaya.
“Tuan Putri seperti awan, mengikutiku
kemanapun. Awalnya aku merasa risih. Seorang putri tak pantas melakukan itu
pada seorang pemuda sepertiku. Saat itu, aku menjadi guru musiknya. Tapi Tuan
Putri terus mengejarku. Aku cinta pertamanya. Entah apa alasannya. Tuan
Putri selalu merahasiakannya. Ia selalu tertawa dan tersenyum didepanku.
Seakan hidupnya tanpa beban. Seorang yang bisa dibilang sangat kekanakkan. Sama
sepertiku. Namun saat itu, aku tak
menyukai wanita dengan sifatnya. Hingga akhirnya ia menyerah. Tanpa sadar, saat
itu aku sudah mulai luluh dan aku menyukainya berkat waktu yang kami lalui. Saat
itu aku kehilangan dirinya yang ceria. Aku bingung bagaimana mengatakannya jika
aku sudah mulai menyukainya. Tuan Putri berkata jika ia kehilangan tawanya
karena diriku. Hanya bersama diriku ia bisa tertawa. Akhirnya aku menemukan
alasan yang memberiku keberanian untu mengatakannya. Aku ingin melihatnya terus
tersenyum. Sejak itu, aku kembali melihat tawanya. Hubungan kami tak diketahui
siapapun. Jika aku bayangkan hubungan kami, selalu dipenuhi oleh tawa. Aku kesini untuk
mencarinya.”
“Ia sama sepertimu. Raja mempunyai
tiga Putri. Namun aku hanya bisa melihat Putri PIN disetiap perayaan rakyat. Tuan
Putri sangat cantik. Putri begitu bersahabat dengan rakyat. Aku bisa melihat
wajah polosnya. Lalu mengapa ia meninggalkanmu?”
“Kau tak tahu? Ini adalah konspirasi. Selir
DAN (Ibu Tuan Putri) difitnah jika beliau telah berusaha meracuni Putra Mahkota
NOR. Tuan Putri kini menjadi buronan Kerajaan. Ia dicap sebagai penghianat
bersama ibunya yang merupakan selir Raja. Mereka adalah orang baik. Kejadian
malam itu, 1 bulan lalu, aku yakin putri sangat terpukul. Seandainya saja aku
ada disana. Orang-orang yang mendukung mereka juga dimusnahkan. Termasuk
Ksatria!!!”
Mendengar nama Ksatria disebut, mata
BI membulat. Apa yang terjadi dengan Ksatrianya. Ia menatap LU tak percaya.
“Ksatria juga meninggal. Padahal ia
adalah kekasih dari Tuan Putri NIN. Anak Ratu WEN. Sang Ratu yang selama ini
dipuja Rakyat, aku tak menyangka ia sekejam itu. Sang Ratu benar-benar
kejam!!!”
“LU!!!!” tegur BI. Tak seharusnya LU
mengatakan hal seperti itu yang akan membawanya pada kematian.
“Tuan Putri, tak pernah mengatakan
apapun padaku jika keluarganya saling berselisih.”
BI pulang dengan lemas mendengar
kenyataan itu. BI hanya mendengarnya prihatin semua ucapan LU. Ksatria telah
pergi. Dan juga, cintanya telah sia-sia bahkan sebelum Ksatria pergi. Ia adalah
kekasih seseorang yang tak sebanding dengannya dari segi apapun. Tuan Putri
NIN. Matanya sudah mengalirkan air mata. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ksatrianya Meninggal? Kabar apa
itu? ksatria pergi tanpa ia bertemu dengannya? Air matanya mengalir. Ia tak
mempercayai semua ini. Hatinya sudah terpaku untuk Ksatria.
Dirumahnya, saat BI sedang merangkai
bunga LU muncul dengan terengah-engah seperti biasanya. Keringat mengalir
dikulit wajahnya.
“BI, Tuan Putri berada di Desa SAP.”
“Dari mana kau tahu?”
“Ada seorang mata-mataku di Istana. Ia
teman baikku. Semalam ia mengirim surat dan memberitahu jika pasukan kerajaan
dibawah Ksatria yang baru telah menngirim pasukan ke Desa itu. Aku baru ingat
jika desa itu adalah tempat kelahiran Selir DAN.”
“Lalu?”
“Maukah kau ikut denganku? Aku yakin
aku pasti membutuhkanmu. Kau mau menolongku kan?”
BI tak percaya pada sahabatnya itu. Ia
dilibatkan pada kisah yang ia sendiri tak tahu. Ini konspirasi kerajaan.
Bagaimana mungkin ia terlibat pada masalah besar seperti ini.
“Apa kau gila? Aku ini siapa? Apa yang
bisa aku bantu?”
“Kumohon, jika terjadi sesuatu padaku
kau bisa melindungi Tuan Putri-ku. Ia segalanya bagiku. Aku berjanji kau takkan
terluka. Kau takkan terlihat oleh pasukan kerajaan. Aku hanya ingin kau membawa
Tuan Putri dibelakangku.”
“Tidak. Aku tidak punya uruusan dengan
mereka. Aku sudah cukup terluka mendengar kematian seseorang. Aku tidak ingin
mendengar itu sekali lagi.”
“Maksudmu Tuan Putri akan meninggal? “
ucap LU tersingung
BI kaget akan ucapannya sendiri.
“Bukan itu maksudku. Ia masalah besar
dimana seorang seperti Ksatria bisa meninggal dengan mudah. Otak juga
dibutuhkan. Mereka menggunakan fitnah-fitnah menjijikan. Mereka licik dan
merekan punya kekuasaan. Sedangkan kau, mungkin kau punya cinta. Tapi kau dan
aku tidak punya kekuatan. Setelah ini, jika Tuan Putri berhasil kau bawa, apa
ia benar-benar akan selamat dan hidup bahagia? Apa ia akan benar-benar lepas
dari tudukan Pemberontak? Kadang, ada hal yang tak bisa kau lakukan meski kau
mencintainya. Itu akan membuat dirimu terluka.”
“bahkan, aku tidak tahu kapan dan
bagaimana ia pergi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan cinta yang
kusimpan. Aku tidak memiliki keberanian dan kekuatan bertemu dengannya. Saat
ini, aku benar-benar terluka mengetahui diriku begitu bodoh.” Ucap BI dalam
hati.
“Aku... aku mencintainya melebihi
diriku sendiri. Kau takkan tahu rasanya. Jika aku tahu ia benar pergi meninggalkanku
selamanya maka akupun tak bisa hidup. Sebagian dari hidupku adalah hidup Tuan
Putri. Jika setengah hidupku hilang, lebih baik aku mati. Aku pun datang kesini
untuk mencarinya. Jadi aku akan berusaha meneyelamatkannya. Aku tidak bodoh
dengan membiarkan dirinya terluka BI.”
BI menatap mata LU tajam. Keringatnya
berganti air mata yang kini memenuhi pipinya. Kepedihannya begitu tersurat.
Saat itu, BI tahu jika kisahnya berbeda dengan kisah LU yang sudah lama dimulai. Kisahnya berbeda dengan kisah LU yang
penuh perjuangan. Kisahnya berbeda dengan kisah LU yang saling mengetahui perasaan
cinta masing-masing.
“Juga, Keadilan dinegeri ini harus
ditegakkan. Aku tahu kau tak menyukai ketidakadilan.”
Lama BI terdiam. Benar. Ini tentang
keadilan. Matanya juga mulai basah melihat sahabatnya menangis.
“Mungkin, kita baru berkenalan
beberapa hari. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Dengan kau
mencoba membuatku tersenyum. Bagaimana mungkin sebagai saudara tidak saling
tolong-menolong.”
BI dan LU tersenyum. Senyum diantara
air mata mereka.
“Aku tak percaya jika sahabatku
seorang gadis yang kesepian.”
“Aku juga tak percaya jika akan
mempunyai seorang sahabat yang kekanakkan.”
Bersambung........
Cinta yang penuh mengorbanan dan cinta
yang hanya suka tanpa saling mengetahui. Saat mereka dipertemukan, maka cinta
yang pertamalah yang akan menang. Perjuangkanlah cintamu yang telah tumbuh. Dengan
begitu cintamu mungkin akan menjadi cinta sampai mati. Tetapi tanpa merusak
harga dirimu. Dan juga, keadilan? Semua berkata keadilan harus ditegakkan. Tapi
cara menegakkan keadilan itulah yang harus ditanyakan.
*PerjuanganCinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar