Translate

Jumat, 05 Desember 2014

KSATRIA... KAU PERGI?


HUFFFFTTTTTTTT,,, UAS telah selesaiiii saatnya nulissssss..
ini lanjutan cerbungnya.. ini part 3-nya
semoga suka yaaaaa

Angin selalu mengikuti kemana kita melangkah. Ia ada disetiap nafas kita. Dan menjadi saksi akan apa yang menimpa kita. Mungkin ia juga menembus hati dan pikiran kita. Jika seperti itu, maka kita harus berterima kasih padanya. Ia menceritakan semua kisah tentang kita. Dari siapa saja yang kita temui, dan apa yang terjadi pada kita dan mereka. Jika ada yang ingin mengetahui kisah kita, maka tanyakanlah pada angin. Dia akan mengetahui dari hembusan angin itu. Dan masuk ke hatinya. Hanya tinggal kau saja, mempercaainya atau tidak. Angin tak berbicara. Karena Angin adalah saksi bisu dari kisah hidup kita.

Seorang penyanyi disebuah kedai kecil, dengan penghayatan yang ia ciptakan sendiri. Liriknya menceritakan kisah cintanya.

Langit terbentang luas
Ini atap dunia yang mempertemukan kita
Di bawah sudut langit itu
Kau ada disana
Akankah kau menatap langit yang sama denganku?
Aku menghitung setiap hariku
Hari-hariku sama dengan satu hari
Seperti aku tak melewati hari lain selain
Menunggumu

Setelah selesai, BI meminta ijin pada pemilik kafe untuk keluar sebentar. Ia ingin membeli sesuatu. Ditikungan jalan diujung pasar, BI tanpa sengaja bertabarakan dengan seorang pemuda yang terburu-buru. Brak.... si pemuda jatuh. Karena menahan badannya, tangan si pemuda terluka. Darah segar menempel pada kilut tangan kirinya. Buku-buku yang dibawa pemuda itu terjatuh. BI membantunya merapikan buku buku itu.

“Tanganmu terluka.” Ucap BI saat melihat darah ditangan pemuda itu.

“Tak apa, ini hanya luka kecil. Ini juga salahku karena terburu-buru. Terima kasih.”

Pemuda itu segera pergi meninggalkan BI yang hanya mengangkat bahu. BI melanjutkan langkahnya. Ia membeli sebotol lem yang akan ia gunakan untuk menghias kertas. Lalu berlari  membeli 2 vas bunga kecil putih polos untuk bunga-bunganya. Tanpa sengaja, ia melihat seorang penyanyi dipasar. Ini mengingatkan pada dirinya dulu saat berada di Kota Raja. Ia tersenyum mengenang masa-masa itu. saat ia menunggu ksatrianya. Ia kembali ke kedai. Pengunjung disana sudah semakin ramai. Namun ada yang membuatnya merasa janggal. Penyanyi yang biasa bernyanyi setelah dia, kini berbeda. Orang itu adalah pemuda yang ditabrakya tadi. Bagaimana bisa?

BI menanyakan pada pemillik kedai. Ternyata pemuda itu adalah penyanyi baru. Menggantikan penyanyi lama karena sudah pindah ke kota lain. Bahkan pemilik kedai menggoda BI dengan mengatakan pemuda itu sangat tampan. Juga suaranya merdu.

“Dia pantas untukmu. Dimana lagi kau akan mendapatkan pemuda seperti dia? Aku bisa membantumu.”

BI hanya tersenyum tak setuju. Ia tahu pemilik kedai hanya bercanda. Itu sudah menjadi kebiasaanya. BI sangat akrab dengan  pemilik kedai itu. Lelaki yang usianya sudah setengah abad itulah yang selama ini bisa mengurangi rasa kesepian BI. BI dengan seksama memperhatika pemuda itu bernyanyi.

Aku berharap ini bukan cinta
hanya rasa sayang sebagai manusia yang saling kenal
kata-kata bahwa aku menyukaimu
itu tak seharusnya ada
tapi hari-hari yang kita lewati menjadi bukti
hatiku berdetak tiap bersamamu
musik yang kau mainkan
meluluhkan hatiku

Saat itu hari semakin sore, sang surya sedang menunggu untuk kembali. Begitupun para manusia. Bi pulang, namun saat ia melangkah, ada yang memanggilnya. Dia adalah pemuda tadi. Ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada BI. Sepertinya dia pemuda yang pandai bergaul. Mereka berkenalan.

“Namaku LU. Dari klan L. Siapa namamu ?”

“BI. Bagaimana lukamu?”

“Tak apa. Hanya luka kecil.”

BI tersenyum. Kemudian LU menawarkan untuk pulang bersama. Karena arah rumah mereka sama.

“Kau tahu rumahku?” Ucap BI heran

“Ehem. Paman IN tiba-tiba memberitahuku. Ia juga mengatakan untuk berteman denganmu. Katanya, kau seperti gadis kesepian. Jadi, aku harus membuatmu tertawa. Tenang saja aku pandai melakukan itu.”

BI bengong mendengarnya. Paman pemulik kedai benar melakukan ucapannya. BI hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis.

“Kau tak perlu melakukannya. Ucapannya tak perlu didengar. Ia hanya bercanda.”

“Benarkah? Tapi aku melihat perkataan paman IN benar. Kau gadis kesepian. Hahahahahaaaaa.”

“Kau....”

LU segera lari dari kejaran gadis yang akan memukulnya itu. Mereka saling berkejaran dalam tawa. LU terus menggoda BI.

Hanya butuh waktu sebentar
ia dapat membuatku kembali tertawa
aku terus mengejarnya
seakan aku membutuhkan tawa itu
ia tersenyum padaku
ia mengingatkanku pada diriku

BI terus mengejar LU hingga sampai disebuah pertigaan jalan kecil. Hingga LU meminta ampun padanya. Lalu berkata  jika ia hanya bercanda.

“Melihatmu tertawa seperti ini. Sepertinya paman IN hanya bercanda. Atau, aku telah berhasil membuatmu tertawa...”

“Seburuk itu kah aku?” tanya BI yang sadar jika tawanya menjadi sebuah gurauan.

“YA!!!!”

LU mengatakannya dengan semangat lalu ia pergi ke arah kanan. Mungkin ke arah rumahnya sambil terus tersenyum. Gerakannya lincah. Lalu berlari seperti yang BI lihat pertama kali. Apakan LU memang selelu terburu-buru? BI hanya menatap pemuda itu miris. Kepribadiaanya berbanding terbalik dengan BI. Namun BI akan senang jika LU menjadi sahabatnya.

“LU, tidak bisakah kau berbohong? Dan mengatakan tawaku sepertinya adalah kebiasaan?”

BI masih terpaku melihat pemuda itu. Kemudian ia berbalik ke arah kiri.

Hari-hari LU dan BI lalui. Merekapun menjadi sahabat. BI melihat LU bernyanyi di kedai. Lirik yang dinyanyikan LU sangat menyentuh. Seakan lagu itu ditunjukkan untuk seseorang. Sama seperti BI saat ia menciptakan sebuah lagu. Dinegerinya, seorang penyanyi harus menciptakan lagunya sendiri.

Hari-hari yang kita lalui sangat indah
tertawa bersama dan bahagia bersama
aku takkan melupakan kenangan itu
meski kini kita jauh
dan kau hilang dari pandangan mataku
Aku selalu takut kehilanganmu
dan kini aku takut jika kita tak bertemu lagi
aku yang mencarimu dan takkan melewatkanmu
saat kau melambaikan tangan
aku tak tahu jika itu senyummu yang terakhir
jika waktu bisa diputar
aku akan lebih menghabiskan waktuku bersamamu
hanya bersamamu

Setelah selesai, LU menghampiri BI. Ia mengajak BI untuk berduet. Ia terkesan dengan suara khas BI. Juga makna yang terkandung disetiap lirik lagu BI. Mereka pergi ke pohon apel untuk membuat lagu bersama. Katanya, angin di sana seakan memberi semangat pada mereka. Namun, lagu sperti apa yang akan mereka ciptakan?

“Aku ingin mencipakan sebuah lagu tentang kehilangan.” Jawab LU

“Itu lagumu tadi. Kau membawakan lagunya dengan hati. Aku bisa merasakan itu. Matamu seakan menangis. Apakah lagu itu untuk kekasihmu?”

“bukan. Ia bukan kekasihku. Jika ia kekasihku, bagaimana mungkin ia meninggalkanku tanpa pemberitahuan? Aku mencarinya.”

“Siapa gadis itu? aku tidak percaya jika lelaki kekanakan sepertimu mempunyai kekasih. Apa yang membuat dia menyukaimu. Aku bertaya-tanya.”

“Yeahhhhh.. BI sudah bisa bercanda.”

“jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Baiklah. Kau mungkin tak percaya. Tapi aku berbicara yang sebenarnya. Dia adalah tuan putri negeri ini. Putri ketiga sekaligus kesayangan Sang Raja. Tuan Putri PIN.”

BI menoleh. Ia menatap LU tak percaya.

“Tuan Putri seperti awan, mengikutiku kemanapun. Awalnya aku merasa risih. Seorang putri tak pantas melakukan itu pada seorang pemuda sepertiku. Saat itu, aku menjadi guru musiknya. Tapi Tuan Putri terus mengejarku. Aku cinta pertamanya. Entah apa alasannya. Tuan Putri selalu merahasiakannya. Ia selalu tertawa dan tersenyum didepanku. Seakan hidupnya tanpa beban. Seorang yang bisa dibilang sangat kekanakkan. Sama sepertiku. Namun saat itu,  aku tak menyukai wanita dengan sifatnya. Hingga akhirnya ia menyerah. Tanpa sadar, saat itu aku sudah mulai luluh dan aku menyukainya berkat waktu yang kami lalui. Saat itu aku kehilangan dirinya yang ceria. Aku bingung bagaimana mengatakannya jika aku sudah mulai menyukainya. Tuan Putri berkata jika ia kehilangan tawanya karena diriku. Hanya bersama diriku ia bisa tertawa. Akhirnya aku menemukan alasan yang memberiku keberanian untu mengatakannya. Aku ingin melihatnya terus tersenyum. Sejak itu, aku kembali melihat tawanya. Hubungan kami tak diketahui siapapun. Jika aku bayangkan hubungan kami,  selalu dipenuhi oleh tawa. Aku kesini untuk mencarinya.”

“Ia sama sepertimu. Raja mempunyai tiga Putri. Namun aku hanya bisa melihat Putri PIN disetiap perayaan rakyat. Tuan Putri sangat cantik. Putri begitu bersahabat dengan rakyat. Aku bisa melihat wajah polosnya. Lalu mengapa ia meninggalkanmu?”

“Kau tak tahu? Ini adalah konspirasi. Selir DAN (Ibu Tuan Putri) difitnah jika beliau telah berusaha meracuni Putra Mahkota NOR. Tuan Putri kini menjadi buronan Kerajaan. Ia dicap sebagai penghianat bersama ibunya yang merupakan selir Raja. Mereka adalah orang baik. Kejadian malam itu, 1 bulan lalu, aku yakin putri sangat terpukul. Seandainya saja aku ada disana. Orang-orang yang mendukung mereka juga dimusnahkan. Termasuk Ksatria!!!”

Mendengar nama Ksatria disebut, mata BI membulat. Apa yang terjadi dengan Ksatrianya. Ia menatap LU tak percaya.

“Ksatria juga meninggal. Padahal ia adalah kekasih dari Tuan Putri NIN. Anak Ratu WEN. Sang Ratu yang selama ini dipuja Rakyat, aku tak menyangka ia sekejam itu. Sang Ratu benar-benar kejam!!!”

“LU!!!!” tegur BI. Tak seharusnya LU mengatakan hal seperti itu yang akan membawanya pada kematian.

“Tuan Putri, tak pernah mengatakan apapun padaku jika keluarganya saling berselisih.”

BI pulang dengan lemas mendengar kenyataan itu. BI hanya mendengarnya prihatin semua ucapan LU. Ksatria telah pergi. Dan juga, cintanya telah sia-sia bahkan sebelum Ksatria pergi. Ia adalah kekasih seseorang yang tak sebanding dengannya dari segi apapun. Tuan Putri NIN. Matanya sudah mengalirkan air mata. Jantungnya seakan berhenti  berdetak. Ksatrianya Meninggal? Kabar apa itu? ksatria pergi tanpa ia bertemu dengannya? Air matanya mengalir. Ia tak mempercayai semua ini. Hatinya sudah terpaku untuk Ksatria.

Dirumahnya, saat BI sedang merangkai bunga LU muncul dengan terengah-engah seperti biasanya. Keringat mengalir dikulit wajahnya.

“BI, Tuan Putri berada di Desa SAP.”

“Dari mana kau tahu?”

“Ada seorang mata-mataku di Istana. Ia teman baikku. Semalam ia mengirim surat dan memberitahu jika pasukan kerajaan dibawah Ksatria yang baru telah menngirim pasukan ke Desa itu. Aku baru ingat jika desa itu adalah tempat kelahiran Selir DAN.”

“Lalu?”

“Maukah kau ikut denganku? Aku yakin aku pasti membutuhkanmu. Kau mau menolongku kan?”

BI tak percaya pada sahabatnya itu. Ia dilibatkan pada kisah yang ia sendiri tak tahu. Ini konspirasi kerajaan. Bagaimana mungkin ia terlibat pada masalah besar seperti ini.

“Apa kau gila? Aku ini siapa? Apa yang bisa aku bantu?”

“Kumohon, jika terjadi sesuatu padaku kau bisa melindungi Tuan Putri-ku. Ia segalanya bagiku. Aku berjanji kau takkan terluka. Kau takkan terlihat oleh pasukan kerajaan. Aku hanya ingin kau membawa Tuan Putri dibelakangku.”

“Tidak. Aku tidak punya uruusan dengan mereka. Aku sudah cukup terluka mendengar kematian seseorang. Aku tidak ingin mendengar itu sekali lagi.”

“Maksudmu Tuan Putri akan meninggal? “ ucap LU tersingung

BI kaget akan ucapannya sendiri.

“Bukan itu maksudku. Ia masalah besar dimana seorang seperti Ksatria bisa meninggal dengan mudah. Otak juga dibutuhkan. Mereka menggunakan fitnah-fitnah menjijikan. Mereka licik dan merekan punya kekuasaan. Sedangkan kau, mungkin kau punya cinta. Tapi kau dan aku tidak punya kekuatan. Setelah ini, jika Tuan Putri berhasil kau bawa, apa ia benar-benar akan selamat dan hidup bahagia? Apa ia akan benar-benar lepas dari tudukan Pemberontak? Kadang, ada hal yang tak bisa kau lakukan meski kau mencintainya. Itu akan membuat dirimu terluka.”

“bahkan, aku tidak tahu kapan dan bagaimana ia pergi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan cinta yang kusimpan. Aku tidak memiliki keberanian dan kekuatan bertemu dengannya. Saat ini, aku benar-benar terluka mengetahui diriku begitu bodoh.” Ucap BI dalam hati.

“Aku... aku mencintainya melebihi diriku sendiri. Kau takkan tahu rasanya. Jika  aku tahu ia benar pergi meninggalkanku selamanya maka akupun tak bisa hidup. Sebagian dari hidupku adalah hidup Tuan Putri. Jika setengah hidupku hilang, lebih baik aku mati. Aku pun datang kesini untuk mencarinya. Jadi aku akan berusaha meneyelamatkannya. Aku tidak bodoh dengan membiarkan dirinya terluka BI.”

BI menatap mata LU tajam. Keringatnya berganti air mata yang kini memenuhi pipinya. Kepedihannya begitu tersurat. Saat itu, BI tahu jika kisahnya berbeda dengan kisah LU yang sudah lama  dimulai. Kisahnya berbeda dengan kisah LU yang penuh perjuangan. Kisahnya berbeda dengan kisah LU yang saling mengetahui perasaan cinta masing-masing.

“Juga, Keadilan dinegeri ini harus ditegakkan. Aku tahu kau tak menyukai ketidakadilan.”

Lama BI terdiam. Benar. Ini tentang keadilan. Matanya juga mulai basah melihat sahabatnya menangis.

“Mungkin, kita baru berkenalan beberapa hari. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Dengan kau mencoba membuatku tersenyum. Bagaimana mungkin sebagai saudara tidak saling tolong-menolong.”

BI dan LU tersenyum. Senyum diantara air mata mereka.

“Aku tak percaya jika sahabatku seorang gadis yang kesepian.”

“Aku juga tak percaya jika akan mempunyai seorang sahabat yang kekanakkan.”


Bersambung........

Cinta yang penuh mengorbanan dan cinta yang hanya suka tanpa saling mengetahui. Saat mereka dipertemukan, maka cinta yang pertamalah yang akan menang. Perjuangkanlah cintamu yang telah tumbuh. Dengan begitu cintamu mungkin akan menjadi cinta sampai mati. Tetapi tanpa merusak harga dirimu. Dan juga, keadilan? Semua berkata keadilan harus ditegakkan. Tapi cara menegakkan keadilan itulah yang harus ditanyakan.


*PerjuanganCinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar