Translate

Jumat, 05 Desember 2014

KSATRIA... KAU PERGI?


HUFFFFTTTTTTTT,,, UAS telah selesaiiii saatnya nulissssss..
ini lanjutan cerbungnya.. ini part 3-nya
semoga suka yaaaaa

Angin selalu mengikuti kemana kita melangkah. Ia ada disetiap nafas kita. Dan menjadi saksi akan apa yang menimpa kita. Mungkin ia juga menembus hati dan pikiran kita. Jika seperti itu, maka kita harus berterima kasih padanya. Ia menceritakan semua kisah tentang kita. Dari siapa saja yang kita temui, dan apa yang terjadi pada kita dan mereka. Jika ada yang ingin mengetahui kisah kita, maka tanyakanlah pada angin. Dia akan mengetahui dari hembusan angin itu. Dan masuk ke hatinya. Hanya tinggal kau saja, mempercaainya atau tidak. Angin tak berbicara. Karena Angin adalah saksi bisu dari kisah hidup kita.

Seorang penyanyi disebuah kedai kecil, dengan penghayatan yang ia ciptakan sendiri. Liriknya menceritakan kisah cintanya.

Langit terbentang luas
Ini atap dunia yang mempertemukan kita
Di bawah sudut langit itu
Kau ada disana
Akankah kau menatap langit yang sama denganku?
Aku menghitung setiap hariku
Hari-hariku sama dengan satu hari
Seperti aku tak melewati hari lain selain
Menunggumu

Setelah selesai, BI meminta ijin pada pemilik kafe untuk keluar sebentar. Ia ingin membeli sesuatu. Ditikungan jalan diujung pasar, BI tanpa sengaja bertabarakan dengan seorang pemuda yang terburu-buru. Brak.... si pemuda jatuh. Karena menahan badannya, tangan si pemuda terluka. Darah segar menempel pada kilut tangan kirinya. Buku-buku yang dibawa pemuda itu terjatuh. BI membantunya merapikan buku buku itu.

“Tanganmu terluka.” Ucap BI saat melihat darah ditangan pemuda itu.

“Tak apa, ini hanya luka kecil. Ini juga salahku karena terburu-buru. Terima kasih.”

Pemuda itu segera pergi meninggalkan BI yang hanya mengangkat bahu. BI melanjutkan langkahnya. Ia membeli sebotol lem yang akan ia gunakan untuk menghias kertas. Lalu berlari  membeli 2 vas bunga kecil putih polos untuk bunga-bunganya. Tanpa sengaja, ia melihat seorang penyanyi dipasar. Ini mengingatkan pada dirinya dulu saat berada di Kota Raja. Ia tersenyum mengenang masa-masa itu. saat ia menunggu ksatrianya. Ia kembali ke kedai. Pengunjung disana sudah semakin ramai. Namun ada yang membuatnya merasa janggal. Penyanyi yang biasa bernyanyi setelah dia, kini berbeda. Orang itu adalah pemuda yang ditabrakya tadi. Bagaimana bisa?

BI menanyakan pada pemillik kedai. Ternyata pemuda itu adalah penyanyi baru. Menggantikan penyanyi lama karena sudah pindah ke kota lain. Bahkan pemilik kedai menggoda BI dengan mengatakan pemuda itu sangat tampan. Juga suaranya merdu.

“Dia pantas untukmu. Dimana lagi kau akan mendapatkan pemuda seperti dia? Aku bisa membantumu.”

BI hanya tersenyum tak setuju. Ia tahu pemilik kedai hanya bercanda. Itu sudah menjadi kebiasaanya. BI sangat akrab dengan  pemilik kedai itu. Lelaki yang usianya sudah setengah abad itulah yang selama ini bisa mengurangi rasa kesepian BI. BI dengan seksama memperhatika pemuda itu bernyanyi.

Aku berharap ini bukan cinta
hanya rasa sayang sebagai manusia yang saling kenal
kata-kata bahwa aku menyukaimu
itu tak seharusnya ada
tapi hari-hari yang kita lewati menjadi bukti
hatiku berdetak tiap bersamamu
musik yang kau mainkan
meluluhkan hatiku

Saat itu hari semakin sore, sang surya sedang menunggu untuk kembali. Begitupun para manusia. Bi pulang, namun saat ia melangkah, ada yang memanggilnya. Dia adalah pemuda tadi. Ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada BI. Sepertinya dia pemuda yang pandai bergaul. Mereka berkenalan.

“Namaku LU. Dari klan L. Siapa namamu ?”

“BI. Bagaimana lukamu?”

“Tak apa. Hanya luka kecil.”

BI tersenyum. Kemudian LU menawarkan untuk pulang bersama. Karena arah rumah mereka sama.

“Kau tahu rumahku?” Ucap BI heran

“Ehem. Paman IN tiba-tiba memberitahuku. Ia juga mengatakan untuk berteman denganmu. Katanya, kau seperti gadis kesepian. Jadi, aku harus membuatmu tertawa. Tenang saja aku pandai melakukan itu.”

BI bengong mendengarnya. Paman pemulik kedai benar melakukan ucapannya. BI hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis.

“Kau tak perlu melakukannya. Ucapannya tak perlu didengar. Ia hanya bercanda.”

“Benarkah? Tapi aku melihat perkataan paman IN benar. Kau gadis kesepian. Hahahahahaaaaa.”

“Kau....”

LU segera lari dari kejaran gadis yang akan memukulnya itu. Mereka saling berkejaran dalam tawa. LU terus menggoda BI.

Hanya butuh waktu sebentar
ia dapat membuatku kembali tertawa
aku terus mengejarnya
seakan aku membutuhkan tawa itu
ia tersenyum padaku
ia mengingatkanku pada diriku

BI terus mengejar LU hingga sampai disebuah pertigaan jalan kecil. Hingga LU meminta ampun padanya. Lalu berkata  jika ia hanya bercanda.

“Melihatmu tertawa seperti ini. Sepertinya paman IN hanya bercanda. Atau, aku telah berhasil membuatmu tertawa...”

“Seburuk itu kah aku?” tanya BI yang sadar jika tawanya menjadi sebuah gurauan.

“YA!!!!”

LU mengatakannya dengan semangat lalu ia pergi ke arah kanan. Mungkin ke arah rumahnya sambil terus tersenyum. Gerakannya lincah. Lalu berlari seperti yang BI lihat pertama kali. Apakan LU memang selelu terburu-buru? BI hanya menatap pemuda itu miris. Kepribadiaanya berbanding terbalik dengan BI. Namun BI akan senang jika LU menjadi sahabatnya.

“LU, tidak bisakah kau berbohong? Dan mengatakan tawaku sepertinya adalah kebiasaan?”

BI masih terpaku melihat pemuda itu. Kemudian ia berbalik ke arah kiri.

Hari-hari LU dan BI lalui. Merekapun menjadi sahabat. BI melihat LU bernyanyi di kedai. Lirik yang dinyanyikan LU sangat menyentuh. Seakan lagu itu ditunjukkan untuk seseorang. Sama seperti BI saat ia menciptakan sebuah lagu. Dinegerinya, seorang penyanyi harus menciptakan lagunya sendiri.

Hari-hari yang kita lalui sangat indah
tertawa bersama dan bahagia bersama
aku takkan melupakan kenangan itu
meski kini kita jauh
dan kau hilang dari pandangan mataku
Aku selalu takut kehilanganmu
dan kini aku takut jika kita tak bertemu lagi
aku yang mencarimu dan takkan melewatkanmu
saat kau melambaikan tangan
aku tak tahu jika itu senyummu yang terakhir
jika waktu bisa diputar
aku akan lebih menghabiskan waktuku bersamamu
hanya bersamamu

Setelah selesai, LU menghampiri BI. Ia mengajak BI untuk berduet. Ia terkesan dengan suara khas BI. Juga makna yang terkandung disetiap lirik lagu BI. Mereka pergi ke pohon apel untuk membuat lagu bersama. Katanya, angin di sana seakan memberi semangat pada mereka. Namun, lagu sperti apa yang akan mereka ciptakan?

“Aku ingin mencipakan sebuah lagu tentang kehilangan.” Jawab LU

“Itu lagumu tadi. Kau membawakan lagunya dengan hati. Aku bisa merasakan itu. Matamu seakan menangis. Apakah lagu itu untuk kekasihmu?”

“bukan. Ia bukan kekasihku. Jika ia kekasihku, bagaimana mungkin ia meninggalkanku tanpa pemberitahuan? Aku mencarinya.”

“Siapa gadis itu? aku tidak percaya jika lelaki kekanakan sepertimu mempunyai kekasih. Apa yang membuat dia menyukaimu. Aku bertaya-tanya.”

“Yeahhhhh.. BI sudah bisa bercanda.”

“jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Baiklah. Kau mungkin tak percaya. Tapi aku berbicara yang sebenarnya. Dia adalah tuan putri negeri ini. Putri ketiga sekaligus kesayangan Sang Raja. Tuan Putri PIN.”

BI menoleh. Ia menatap LU tak percaya.

“Tuan Putri seperti awan, mengikutiku kemanapun. Awalnya aku merasa risih. Seorang putri tak pantas melakukan itu pada seorang pemuda sepertiku. Saat itu, aku menjadi guru musiknya. Tapi Tuan Putri terus mengejarku. Aku cinta pertamanya. Entah apa alasannya. Tuan Putri selalu merahasiakannya. Ia selalu tertawa dan tersenyum didepanku. Seakan hidupnya tanpa beban. Seorang yang bisa dibilang sangat kekanakkan. Sama sepertiku. Namun saat itu,  aku tak menyukai wanita dengan sifatnya. Hingga akhirnya ia menyerah. Tanpa sadar, saat itu aku sudah mulai luluh dan aku menyukainya berkat waktu yang kami lalui. Saat itu aku kehilangan dirinya yang ceria. Aku bingung bagaimana mengatakannya jika aku sudah mulai menyukainya. Tuan Putri berkata jika ia kehilangan tawanya karena diriku. Hanya bersama diriku ia bisa tertawa. Akhirnya aku menemukan alasan yang memberiku keberanian untu mengatakannya. Aku ingin melihatnya terus tersenyum. Sejak itu, aku kembali melihat tawanya. Hubungan kami tak diketahui siapapun. Jika aku bayangkan hubungan kami,  selalu dipenuhi oleh tawa. Aku kesini untuk mencarinya.”

“Ia sama sepertimu. Raja mempunyai tiga Putri. Namun aku hanya bisa melihat Putri PIN disetiap perayaan rakyat. Tuan Putri sangat cantik. Putri begitu bersahabat dengan rakyat. Aku bisa melihat wajah polosnya. Lalu mengapa ia meninggalkanmu?”

“Kau tak tahu? Ini adalah konspirasi. Selir DAN (Ibu Tuan Putri) difitnah jika beliau telah berusaha meracuni Putra Mahkota NOR. Tuan Putri kini menjadi buronan Kerajaan. Ia dicap sebagai penghianat bersama ibunya yang merupakan selir Raja. Mereka adalah orang baik. Kejadian malam itu, 1 bulan lalu, aku yakin putri sangat terpukul. Seandainya saja aku ada disana. Orang-orang yang mendukung mereka juga dimusnahkan. Termasuk Ksatria!!!”

Mendengar nama Ksatria disebut, mata BI membulat. Apa yang terjadi dengan Ksatrianya. Ia menatap LU tak percaya.

“Ksatria juga meninggal. Padahal ia adalah kekasih dari Tuan Putri NIN. Anak Ratu WEN. Sang Ratu yang selama ini dipuja Rakyat, aku tak menyangka ia sekejam itu. Sang Ratu benar-benar kejam!!!”

“LU!!!!” tegur BI. Tak seharusnya LU mengatakan hal seperti itu yang akan membawanya pada kematian.

“Tuan Putri, tak pernah mengatakan apapun padaku jika keluarganya saling berselisih.”

BI pulang dengan lemas mendengar kenyataan itu. BI hanya mendengarnya prihatin semua ucapan LU. Ksatria telah pergi. Dan juga, cintanya telah sia-sia bahkan sebelum Ksatria pergi. Ia adalah kekasih seseorang yang tak sebanding dengannya dari segi apapun. Tuan Putri NIN. Matanya sudah mengalirkan air mata. Jantungnya seakan berhenti  berdetak. Ksatrianya Meninggal? Kabar apa itu? ksatria pergi tanpa ia bertemu dengannya? Air matanya mengalir. Ia tak mempercayai semua ini. Hatinya sudah terpaku untuk Ksatria.

Dirumahnya, saat BI sedang merangkai bunga LU muncul dengan terengah-engah seperti biasanya. Keringat mengalir dikulit wajahnya.

“BI, Tuan Putri berada di Desa SAP.”

“Dari mana kau tahu?”

“Ada seorang mata-mataku di Istana. Ia teman baikku. Semalam ia mengirim surat dan memberitahu jika pasukan kerajaan dibawah Ksatria yang baru telah menngirim pasukan ke Desa itu. Aku baru ingat jika desa itu adalah tempat kelahiran Selir DAN.”

“Lalu?”

“Maukah kau ikut denganku? Aku yakin aku pasti membutuhkanmu. Kau mau menolongku kan?”

BI tak percaya pada sahabatnya itu. Ia dilibatkan pada kisah yang ia sendiri tak tahu. Ini konspirasi kerajaan. Bagaimana mungkin ia terlibat pada masalah besar seperti ini.

“Apa kau gila? Aku ini siapa? Apa yang bisa aku bantu?”

“Kumohon, jika terjadi sesuatu padaku kau bisa melindungi Tuan Putri-ku. Ia segalanya bagiku. Aku berjanji kau takkan terluka. Kau takkan terlihat oleh pasukan kerajaan. Aku hanya ingin kau membawa Tuan Putri dibelakangku.”

“Tidak. Aku tidak punya uruusan dengan mereka. Aku sudah cukup terluka mendengar kematian seseorang. Aku tidak ingin mendengar itu sekali lagi.”

“Maksudmu Tuan Putri akan meninggal? “ ucap LU tersingung

BI kaget akan ucapannya sendiri.

“Bukan itu maksudku. Ia masalah besar dimana seorang seperti Ksatria bisa meninggal dengan mudah. Otak juga dibutuhkan. Mereka menggunakan fitnah-fitnah menjijikan. Mereka licik dan merekan punya kekuasaan. Sedangkan kau, mungkin kau punya cinta. Tapi kau dan aku tidak punya kekuatan. Setelah ini, jika Tuan Putri berhasil kau bawa, apa ia benar-benar akan selamat dan hidup bahagia? Apa ia akan benar-benar lepas dari tudukan Pemberontak? Kadang, ada hal yang tak bisa kau lakukan meski kau mencintainya. Itu akan membuat dirimu terluka.”

“bahkan, aku tidak tahu kapan dan bagaimana ia pergi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan cinta yang kusimpan. Aku tidak memiliki keberanian dan kekuatan bertemu dengannya. Saat ini, aku benar-benar terluka mengetahui diriku begitu bodoh.” Ucap BI dalam hati.

“Aku... aku mencintainya melebihi diriku sendiri. Kau takkan tahu rasanya. Jika  aku tahu ia benar pergi meninggalkanku selamanya maka akupun tak bisa hidup. Sebagian dari hidupku adalah hidup Tuan Putri. Jika setengah hidupku hilang, lebih baik aku mati. Aku pun datang kesini untuk mencarinya. Jadi aku akan berusaha meneyelamatkannya. Aku tidak bodoh dengan membiarkan dirinya terluka BI.”

BI menatap mata LU tajam. Keringatnya berganti air mata yang kini memenuhi pipinya. Kepedihannya begitu tersurat. Saat itu, BI tahu jika kisahnya berbeda dengan kisah LU yang sudah lama  dimulai. Kisahnya berbeda dengan kisah LU yang penuh perjuangan. Kisahnya berbeda dengan kisah LU yang saling mengetahui perasaan cinta masing-masing.

“Juga, Keadilan dinegeri ini harus ditegakkan. Aku tahu kau tak menyukai ketidakadilan.”

Lama BI terdiam. Benar. Ini tentang keadilan. Matanya juga mulai basah melihat sahabatnya menangis.

“Mungkin, kita baru berkenalan beberapa hari. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Dengan kau mencoba membuatku tersenyum. Bagaimana mungkin sebagai saudara tidak saling tolong-menolong.”

BI dan LU tersenyum. Senyum diantara air mata mereka.

“Aku tak percaya jika sahabatku seorang gadis yang kesepian.”

“Aku juga tak percaya jika akan mempunyai seorang sahabat yang kekanakkan.”


Bersambung........

Cinta yang penuh mengorbanan dan cinta yang hanya suka tanpa saling mengetahui. Saat mereka dipertemukan, maka cinta yang pertamalah yang akan menang. Perjuangkanlah cintamu yang telah tumbuh. Dengan begitu cintamu mungkin akan menjadi cinta sampai mati. Tetapi tanpa merusak harga dirimu. Dan juga, keadilan? Semua berkata keadilan harus ditegakkan. Tapi cara menegakkan keadilan itulah yang harus ditanyakan.


*PerjuanganCinta

QI DAN KSATRIA


Akhirnya bisa nulis lagi... ini part yang ke 3 lanjutan dari part 2 ....

sebenarnya cerbung ini dari awal niatnya tuh dibuat menurut kisah diri sendiri, tapi kalo gitu keliatan monoton banget... jadi ya aku ubah. Semoga suka...
selamat membaca....

Cinta yang ku genggam
Cinta yang ku percaya
Cinta yang ku simpan
Apakah telah pergi?
Aku berharap seperti itu

BI menyanyi di kedai itu kembali. Kini ia bebas menatap lelaki yang telah ia sadari siapa jati dirinya. Lelaki yang tak pernah ia kenal. Hanya nama dan ingatan tentang nama itu yang ia ketahui. Lelaki itu sibuk membawa tumpukan buku bersama teman-temannya yang tak tahu seberapa beratnya. Buku itu akan ia taruh di perpustakaan yang dibangun beberapa tahun lalu. Dengan  senyum pesonanya, lelaki itu menatap BI. Yang juga dibalas dengan senyum. Ditengah keramaian pasar yang tak terhindarkan, pemuda itu sempat-sempatnya memberi kode untuk BI. Telunjuk kirinya menjulur kearah depan. Mengingatkan BI untuk pergi ke perpustakaannya setelah menyanyi, sesuai janjinya kemarin. BI menganggukkan kepala dan disela nyanyiaanya ia memberi semangat pada lelaki itu. QI benar-benar membuatnya terkesan.

Cinta yang kuharapkan
Tak pernah tahu dimana akhirnya
Jalan itu masih terbentang lurus
Cinta yang tak memberi petunjuk
Apakah aku harus pergi?
Menuju jalan yang aku tahu akan akhirnya

Kini, di perpustakaan QI telah merapikan buku-buku yang ia pesan beberapa hari lalu. Sebagian juga berasal dari sumbangan orang-orang yang tersentuh akan ketulusan QI. Ia memisahnya dalam beberapa rak. Perpustakaan itu masih sangat kecil. Ia tak bisa melebarkannya lagi karena bangunan itu  diapit oleh kios-kios. Salahnya, membangun perpustakaan disebuah pasar yang menjadi tempat terbesar didesanya. Pasar  tempat dimana anak-anak berkumpul untuk bermain atau membantu orangtuanya. 

Bi datang, ia duduk disalah satu kursi. Meliuk-liukkan kuas diatas kertas. Berusaha mencari inspirasi untuk lagunya. Matanya menjalar pada sosok pemuda itu. Pemuda yang setia menunggunya meski tak tahu kapan dan dimana mereka akan bertemu kembali. Cinta yang benar adanya. Cinta yang bisa dijaga kesetiaannya. Namun, apa yang harus BI lakukan. Cinta tak terbalasnya dan cinta yang sedang ia tunggu untuk Ksatriannya, benar-benar menyedihkan. Sementara diseberang sana ada sebuah sungai yang alirannya sangat deras. BI tak ingin menjadi seseorang yang memilih. Ia akan menjadi seorang yang dipilih. Itulah yang seharusnya seorang wanita lakukan dinegerinya. Bahkan BI pun bimbang dengan hatinya. QI yang hadir terlebih dahulu dalam hidupnya, kini mungkin telah terkikis oleh kekejaman waktu. Tapi, bagaimana mungkin ia melewatkan seseorang yang bisa menjaga hatinya. Ksatria yang tak pernah tahu dirinya, matanya bahkan mungkin suaranyapun belum tentu diingat oleh ksatria. Apakah ini suatu keberuntungan atau bukan? Rasa sukanya pada seorang pemuda dimasa lalu, yang sesungguhnya semakin lama semakin pudar. Mungkin membekas, namun bekasnya tak sampai berbau harum.

2 tahun lalu...

Saat itu, waktu yang tidak pernah BI bayangkan sebelumnya. Bahwa ia harus meninggalkan Kota Raja. Bersama ayah dan adik perempuannya. Tak ada yang pernah tahu apa yang terjadi paada detik selanjutnya. Ayahnya mengajak ke sebuah Kota di negeri itu yang jaraknya membutuhkan waktu hingga 5 jam dengan  perahu. Yang mana kota itu adalah tempak kelahiran Sang Ayah. Alasannya, karena Sang Ayah ingin menghabiskan sisa hari-harinya dikota Ibu dan mendirikan sebuah bisnis disana. Satu hal yang BI sadari, ksatria yang ia puja tak akan pernah dan tak akan bisa ia temui lagi. Pertemuan di istana itu, adalah hari terakhirnya bertemu dengan sang ksatria. Saat ini, sebulan dari hari itu ia harus pergi. Meninggalkan kenangan yang ia  buat.

Di Dermaga, BI berdiri diantara kerumunan yang berbeda arah. Ada yang pulang dan pergi. Namun perahu yang dipesannya tak kunjung datang. BI dan keluarganya menunggu dengan sabar sekitar pembatas dermaga dan jalan. Tiba-tiba dari arah kiri terdengar suara langkah kaki yang seragam dan berjumlah banyak. Serta suara yang menyuruhnya untuk minggir. Pun rakyat yang berseru, “Dia pantas mati!!! Penjahat sepertinya pantas mati!!! Tak ada hukuman yang lebih pantas untuknya selain mati!!! Hidup Raja!!! Hidup Raja!!! Hidup Raja!!! Hidup Ksatria!!! Hidup!!! Hidup!!! Hidup!!!” BI menoleh. Dan tampaklah prajurit kerajaan yang membawa 2 penghianat yang berani mengancam nyawa Raja Negeri ini. Mengunci mereka agar tak bergerak bebas, bahkan terkesan menyeretnya. Kejadian seperti ini nampaknya sudah biasa bagi penduduk. Bi pun tak menunjukkan keterkejuttannya akan peristiwa ini.

Sementara dibelakang prajurit-prajurit tadi, tampaklah Ksatria yang ia tunggu dikawal oleh 2 prajurit lainnya. Langkahnya cepat menyeimbangkan langkah yang lain. Pedang yang selalu ia genggam di tangan kekarnya kini terkesan menakutkan. Wajahnya datar, disudut mata tajamnya menunjukkan kemarahan. Mungkin pada pengkhianat-pengkhianat tadi. BI bisa melihat peluh yang tersirat dari wajahnya. Dan sedikit cipratan darah disekitar matanya. Mungkin darah pengkhianat tadi.

Kali ini BI bingung antara senang atau sedih. Hari ini ia bisa melihat kembali ksatria yang untuk pertama kalinya, saat ia tak menunggunya, Ksatria datang tanpa BI berharap. Namun disisi lain, ini terakhir kalinya ia bisa melihat wajah Sang Ksatria.

Tak apa
mungkin ini lebih baik untukku
punggungmu,
jejek langkahmu
dan tatapan matamu
aku sudah tak bisa melihatnya lagi

Mungkin penantian yang BI rasakan selama ini akan pudar. Dan ia tak akan merasakan menunggu lagi.

Kenyataannya, saat ini BI yang masih duduk sembari memikirkan pemuda itu. Masih berharap dan menunggu dimana waktu bisa menjemputnya menemui Ksatria. 2 tahun bukan waktu singkat untuk melupakan seorang yang bahkan tak begitu ia kenal. Namun, berapa lama lagi baginya untuk bisa melupakan serpihan ingatan tentang ksatria? Mengapa sangat sulit untuk melupakannya? Apakah akan ada takdir yang hebat antara mereka? BI, bukan ia yang tak bisa melupakan ksatria tapi ia yang tak rela jika ia melupakan ksatria. Karena ia masih merasakan kerinduan seperti menanti rintik hujan.

Tiba-tiba langit mendung itu sudah menjatuhkan airnya. Rintik hujan itu turun membasahi tanah dipasar. BI melangkah menuju jendela. Memandang hujan yang semakin deras. Menghirup bau yang ia rindu. Hujan itu selalu tampak menakjubkan.

Rintik hujan..
datang kembali
semua berlindung dengan payungnya
tapi aku tak membawa payung
aku merasakan air jatuh dibahuku
di kepalaku lalu membasahi mahkotaku
hingga meresap disela bajuku
telapak tanganku ingin menyentuhnya
namun tak bisa
setiap ku genggam rintik hujan itu
mengalir kebawah
sehingga aku harus bersusah menggunakan kedua tanganku
merasakan dinginnya
juga ketenangan yang menjalar pada hatiku

“Saat ini, aku masih mengingatnya. Bagaimana rasanya menunggumu. Saat hujan turun saat itu pula aku merasakannya. Kerinduan yang membuatku ingin mengakhiri penantian itu. Tapi hujan terus turun tiap harinya. Bukan membasahi bumi tapi hatiku. Hujan kali ini mungkin sebagai petunjuk. Untukku tidak melupakannya. Aku masih ingin menunggunya. Ksatria... itu tetap ada dihatiku.” BI tersenyum mengatakannya. Inilah keputusan yang pada akhirnya ia pilih. Setelah usaha untuk melupakan ksatria gagal.

Melihat BI yang diam termenung didekat jendela membuat QI heran. Ia menghampiri gadis itu.

“BI, apa ada sesuatu yang mengganggumu?”

“Tidak, aku hanya sedang menikmati hujan saja. Setelah musim panas yang panjang.”

Mereka terdiam cukup lama. QI juga akhirnya menikmati hujan dibalik jendela perpustakaannya. Pandangan lelaki itu kini seakan sedih. Melihat QI membuat  BI merasa bersalah akan keputusannya. Tapi, ia harus jujur. Ini adalah waktu yang tepat.

“QI, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu. Ini mungkin... akan....”

“BI, ada sesuatu yang harus aku katakan. Mungkin ini lebih penting dari yang akan kau katakan. Bukan sekarang , tapi besok. Temui aku di pohon apel jam 4 sore. Aku mohon datanglah.”

Hari yang dinanti akhirnya datang. QI telah menunggunya dengan seikat bunga. Namun kali ini bukan bunga dari tokonya. BI menyapa QI. Mereka saling melempar senyum.

“BI, kau mungkin tak tahu apa yang aku lakukan selama 10 tahun ini. Menunggu bukanlah hal yang mudah untukku. Aku ingin kau datang saat aku membutuhkanmu. Tapi kau tak mendengar suaraku. Saat itu aku ingin menyerah untuk menunggumu. Bayangmu tak pernah hilang dari ingatanku. Saat aku berada dibelakangmu dan hanya punggungmu yang aku lihat, saat itupun aku hampir menyerah. Namun, kau benar-benar membuatku tertarik. Saat ini perasaanku padamu sama seperti 10 tahun lalu. Saat aku melihatmu lagi. Saat aku sudah tak menatap punggungmu lagi. Aku merasa benar-benar bahagia. Aku tak tahu apa jadinya jika aku harus kehilanganmu lagi.” Ucap QI yang berkaca-kaca.

“QI, apa yang ingin kau katakan sebenarnya.”

“BI, aku harus pergi. Meninggalkanmu. Aku akan membangun sebuah penginapan disebuah desa terpencil dinegeri ini. Desa itu adalah pusat perdagangan. Aku juga akan membangun sebuah tempat  pengobatan disana. Tapi, aku juga tak mungkin membawamu. Aku tak ingin membuatmu terluka. Sudah waktunya bagiku untuk menyerah. Hari ini, perasaanku padamu adalah yang terakhir.”

Aku akan pergi
meninggalkanmu dan punggung ku yang tersenyum
cinta yang kuberikan padamu akan hilang
terkikis oleh jarak
kau takkan terluka dan menangis
menunggumu adalah waktu yang berharga untukku
cintaku cukup sampai disini
hari-hari yang kita jalani nanti
ku harap kau bahagia

“Kau akan pergi?”

“Benar. Aku akan pergi besok sebelum matahari muncul.”

“Jadi ini adalah perpisahan kita?” ucap BI yang kini berkaca-kaca

“Aku pergi.” QI lalu pergi sebelum melihat gadis itu menangis.

“Aku, tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu yang lain.”

QI membalikkan badannya lagi menatap BI.

“Dulu saat aku pergi meninggalkan kota ini dan tinggal disebuah kota yang asing, aku merasa benar-benar sendiri. Aku tak mengenal siapapun. Aku pun tak merasa tertarik pada siapapun. Aku selalu duduk diatas bukit dibawah pohon besar, untuk meyakinkan diriku bahwa aku bisa bersosialisasi. Namun, keesokan harinya aku datang lagi dan datang lagi. Aku harus membuang diriku yang tak bisa bersosialisasi. Aku menangis disana. Hingga suatu hari aku mendengar suara jeritan. Ternyata, ada anak lelaki kecil yang teluka saat berlatih pedang. Aku membalut lukanya dengan saputangan yang biasa aku bawa. Saat itu untuk pertamakalinya aku bicara dengan seseorang di Kota Raja. Ia berterimakasih padaku. Aku mengingatnya dengan jelas. Bahwa aku membalut lukanya dengan baik. Keesokkan harinya aku datang lagi namun aku tak menemukannya. Aku menunggu dan menunggu. Karena orang itu, aku mulai bisa bersosialisasi. Aku memberanikan diriku untuk bercakap dengan anak seusiaku. Hingga beberapa minggu kemudian aku melihatnya. Namun apa daya aku tak berani menemuinya. Tak ada alasan bagiku bisa untuk menemuinya. Hingga bertahun-tahun itu terjadi. Akhirnya aku tahu siapa lelaki itu. Dia tumbuh menjadi seorang yang hebat. Kemampuan pedangnya tak tertandingi. Ksatria negeri ini.” QI kaget mendengar hal itu. Gadis didepannya, bagaimana mungkin ia merasakan hal itu. Perasaan menunggu yang dirasakannya ternyata BI juga merasakannya. QI menatap prihatin BI.

“Mungkin aku juga pernah mencintaimu. Tapi maafkan aku, itu sudah mulai terkikis oleh waktu. Sekarang hanya dia yang aku rindu.” Lanjut BI

“BI, bagaimana mungkin kau mengalami hal ini. Kau sebaiknya melupakan dia. Sebelum kau terluka. Tapi, setelah penantianmu itu terbalas kau kan tahu apa yang aku rasakan saat bertemu denganmu dulu.”

“Aku tahu. Aku cukup tahu diri dengan perbedaan kasta. Aku takkan berharap lebih. Aku hanya ingin menyimpannya saja.”

QI tersenyum menyemangatinya. Dan BI hanya tersenyum pahit.

Hari itu, apel-apel telah berwarna merah. Entah beberapa bulan sejak  perginya QI. Di pohon yang sama dengan waktu itu, BI duduk sambil meliukkan kuasnya. Ia menuliskan sebuah kata untuk seseorang. Buah apel manis disampingnya siap ia makan. Ditatapnya langit cerah yang terhampar luas, ia tersenyum. Ia berhasil mengikuti kata hatinya dengan memilih Ksatria. Seseorang yang dicintainya dan  ia inginkan. Gadis itu sudah memantapkan hatinya. Keputusannya sudah tepat. Ia takkan goyah lagi. Meski ketakutan kini menghantam hatinya. Takut jika cerita cintanya akan berakhir sedih. Takut  jika kisahnya dengan ksatria tak pernah dimulai. Takut jika ia hanya menjadi seorang pohon penantian. Takut jika ia tak pernah bertemu lagi dengan ksatria. Sekarang bukanlah waktu dimana ia berada di Kota Raja. Apakah ia akan tetap menunggu dan bersabar ketika ia sudah berada di waktu lain dan bertemu dengan banyak orang? Ia hanya tersenyum. Itu(pertanyaannya) adalah nanti. Dan ini(perasaannya) adalah sekarang. Ditatapnya kertas tadi. Awan-awan berkumpul diatasnya dan ikut membaca.

“Merindukanmu.”


Bersambung........

Cinta itu mudah bukan? Hanya menanti dan menikmatinya. Cinta juga indah. Kita tersenyum tanpa sadar saat mengingatnya. Saat dia jauh dari pandangan kita. Lalu bagaimana jika ada jalan bercabang didepan kita?  Yang satu tampak orang yang kita cintai dan kita rindukan, namun ia meninggalkan kita atau ia tak tahu jika kita menantinya. Dan yang satu adalah jalan yang selalu terbuka buat kita, orang itu mencintai kita dengan tulus. Jalan mana yang akan kau pilih? Pilihlah jalan yang sama dengan kata hatimu. Apakah kau percaya dengan dirimu sendiri?  Kata hatimu akan menunjukkan jalan mana yang harus kau lewati. Kau orang yang setia bukan? Jika setia maka tak ada halangan untuk menunggu orang lain. Menunggu cintanya. Meski kau banyak bertemu dengan orang, cintamu akan tetap padanya. Dan terus hingga mengakar dan sulit untuk dicabut.


*Percaya pada hatimu

Jumat, 10 Oktober 2014

PENANTIAN : QI DAN BI

OKEH,,, udah lama tulisan ini menjamur di laptop.. tapi sekolah emang nggak bisa diganggu..
Kita mulai yahhh.. tulisan ini lanjutan dari Menunggu : Ksatria dan Seorang Penyanyi

Rangkaian bunga. Tangkai demi tangkai dimasukkan kedalam sebuah vas putih polos berukuran sedang. Perangkai bunga itu memasukkannya berdasarkan status. Agar terkesan lebih bernilai. Bunga yang tumbuh di taman harus disandingkan dengan sejenisnya. Tanpa mencampur bunga liar dari hutan. Karena itu adalah aturan. Perangkai itu harus tahu bagaimana cara memberi kecocokkan pada bunga-bunganya. Akhirnya selesai.

Seorang pria masuk dan bertanya tentang rangkaian bunga yang dipesannya. Ruang itu dipenuhi banyak jenis bunga yang disusun rapi. Terlihat masih sangat segar. Perangkai bunga baru saja memotongnya langsung dari taman yang berada dibelakang rumah.  Pria itu adalah pelanggan tetap si wanita perangkai bunga. Yang mana rumahnya bersebelahan. Tetapi, sifat pemalu diantara keduanya lah yang membuat mereka terkesan asing. Seperti biasanya, perangkai bunga memberikan sebuah kertas berwarna yang telah dihias dengan bunga kering. Sebenarnya penjual bunga itu ingin bertanya kepada siapa bunga itu ditunjukkan. Tapi ia tahu, tak ada hak untuknya.

Pria itu menulis surat dan wanita perangkai merapikan bunga-bunganya. Terkadang wanita itu melirikan matanya, rasa penasaran begitu ada. Si pria adalah anak dari teman dekat ayahnya. Entah mengapa wanita tadi merasa begitu mengenal namanya. Sejak ia pindah ke desa ini, setiap ada orang menyebut nama pria itu ada dorongan hati baginya untuk melihat wajah pemilik nama itu. Seakan nama itu begitu membekas dihatinya.
Setelah selesai, pria tadi membayar rangkaian bunga dan kertas yang dipesannya. Lalu mengucapkan terimakasih.

“Jangan lupa sediakan rangkaian bunga yang berbeda bulan depan.”

Si wanita mengiyakan. Senyumnya tak pernah tertinggal, itu adalah kewajiban dari seorang pedagang. Dan mengucapkan terima kasih. Si priapun meninggalkan rumah itu yang sekaligus menjadi ruang untuk berjualan. Si wanita masih saja memperhatikan si pria hingga halaman depan rumahnya. Tak disangka, ayahnya datang dan si pria menyapa dengan penggilan paman. Entah apa yang dibicarakan, mereka terlihat begitu akrab Kemudian ayahnya masuk dan menyanyakan dagangannya.

“Apakah sulit, seorang penyanyi berubah profesi menjadi penjual bunga?”

“Ayah, menjual bunga adalah keahlianku dari dulu. Mereka temanku, sama seperti suaraku.”

Sang Ayah tersenyum menanggapi jawaban putrinya.

Suatu sore saat si wanita bekerja sebagai penyanyi disebuah kedai, ini adalah pekerjaan keduanya. Dan bunga-bunganya dijaga oleh sang adik. Ia melihat sang pria memasuki kedai itu bersama teman-temannya. Mungkin untuk sekedar melepas lelah. Kecintaannya terhadap buku, membuatnya membuka sebuah  perpustakaan kecil di Pasar. Beberapa meter dari kedainya.

Siapakah kau ?
Yang membuatku ingin selalu memandangmu
Tanahpun selalu bisa mencium bau rintik hujan
Aku yang begitu bodoh tak bisa mengenal wajahmu
Rasa penasaran ini menggugatku

Sepanjang lagu Sang wanita memandang pria itu. Hanya beberapa kali ia melirik ke arah lain. Namun sang pria tak menyadari apapun. Ia hanya tertawa bersama ketiga lainnya. Seakan suara yang terdengar hanya canda-tawa itu. Wanita itu jelas kecewa. Suara yang dikeluarkannya tak berari.

Sang wanita beralih menyanyikan lagu kedua. Kali ini penghayatannya yang tersurat begitu terasa, melibihi tadi. Mungkin karena sekarang ia lebih fokus. Tak memandang  kearah sang pria.

Jika waktu bisa diputar
Aku akan mencegahmu tuk tak pergi
Jangan pergi, jangan pergi
Karena aku tak tahu harus mencarimu kemana
Aku berharap bahwa dunia ini sangat sempit
Kita kan bertemu dalam kebahagiaan
Sekarang hanya satu pertanyaanku
Dimana kau berada?

Tiba-tiba sang pria menoleh ke arah suara penyanyi itu. Entah mengapa seperti ia mengenal suara itu. Tatapannya kosong namun terkesan ada yang dipikirkannya.
Hari berikutnya, dan hari berikutnya selalu seperti itu. Tak pernah ada kata yang terucap. Setiap ada kesempatan bertemu, mereka hanya saling melirik lama. Seperti ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Sikap pendiam si wanita dan sikap pemalu sang pria. Percakapan terakhir adalah bulan lalu saat sang pria membeli bunga. Saat sang pria melewati rumah si wanita atau sebaliknya, dan saat bertemu di kedai. Hanya itu waktu-waktu perjumpaan mereka.

Hingga suatu hari saat si wanita membawa bunga-bunga yang baru ia petik di hutan,berpapasan dengan si pria yang berjalan bersama tiga temannya. Mereka asik dengan canda-tawanya. Si wanita tak menatap, ia hanya menunduk. Tak dinyana, saat jarak mereka sangat dekat, seorang teman dengan tujuan sebagai candaan mendorong tubuh si pria ke arah sang wanita. Dan menabrak tempat bunga yang di bawa sementara tubuh mungil sang wanita telah menghindar. Kenyataanya, yang terjatuh adalah sang pria. Dan tanpa tanggung jawab, teman sang pria pergi bersama larinya. Si wanita bertanya apa pria itu didepannya baik-baik saja. Dan di jawab “YA”. Si wanita kemudian berusaha merapikan bunga-bunganya. Tanpa perintah, si pria membantu merapikannya. Meski dekat, mata mereka tak saling menatap. Hingga si pria akhirnya membuka percakapan. Ia mengingatkan aga bunga yang dipesannya.

“Aku selalu mengingatnya. Itu adalah kewajibanku.”

Sang wanita tersenyum. Ia ingin terus bercakap dengan si pria namun entah apa itu. Hingga akhirnya ia ingat. Sesuatu yang membuatnya penasaran. Mungkin ini kesempatannya.

“Boleh aku bertanya sesuatu, setiap kau membeli bunga, kau juga membeli kertas surat. Sebenarnya, untuk siapa surat itu?”

Sang pria hanya diam. Wanita tahu, sehingga ia meminta maaf. Tak seharusnya ia menyanyakan itu. Ia penasaran setiap sang pria membeli bunganya. Bunga yang dirangkai dengan ketulusannya. Ia memilih pergi karena malu.

“Bunga yang kau rangkai itu untuk seseorang disuatu tempat. Dia selalu ada dipikiranku. Dia seorang perempuan yang kukenal namanya. Hanya namanya yang kutahu. Dan juga, ia sangat menyanyangi ayahnya. Seseorang yang untuk pertama kalinya aku kenal dengan sifat seperti  itu. Aku selalu memperhatikannya dan dia tak tahu. Tapi kemudian dia pergi, aku tak tahu kemana dan kapan ia akan kembali. Sialnya, dia meninggalkan jejak. Aku memiliki prinsip bahwa aku hanya akan mencintai satu orang dalam hidupku.”

Sang wanita menghentikan langkahnya dan kembali menatap si pria.

“Ceritamu tadi, aku tak menyangka itu keluar dari mulutmu. Aku pikir kau adalah orang yang tak peduli akan kisah cinta. Lalu, untuk apa kau membelikannya bunga sementara kau tak tahu dia dimana.”

“Ada sebuah tempat yang selalu ia kunjungi. Tanpa ia tahu, aku mengikutinya. Aku menaruhnya disana karena aku yakin ia akan datang. Surat-surat itu berisi apa saja yang ingin kuceritakan padanya.”

“Apa kau tidak takut jika cintamu akan sia-sia?”

“Aku takut. Tapi tak ada perempuan yang membuatku memalingkan wajahku darinya.”

Baiklah, sang wanita akhirnya pergi karena semua rasa penasarnnya terbayarkan. Angin yang mengiringi langkahnya saat itu, perlahan menjauh kesuatu tempat. Sang pria hanya menatap punggung wanita itu.

“Nama perempuan itu adalah... BI.”

Sang pria tahu, wanita yang menjauh itu tak mendengar ucapannya.

Sang wanita berada tamannya. Duduk merasakan bunga yang harumnya dapat melepas sedikit peluh. Disampingnya terdapat sebuah apel merah. Kini, sang wanita berada disebuah kebun Apel yang cukup luas. Ia bersandar di pohon apel yang paling kanan. Memejamkan mata sejenak.

“Ibu, aku kembali. Tapi aku melupakan semuanya. Jalan yang kita lewati bersama, kenangan yang kita buat. Bahkan sekarang, aku melupakan pohon apel ini. Pohon yang kita tanam bersama. Apa ibu mendengarku di langit sana? Maafkan aku, ibu.”

Wajahnya datar saat mengatakan itu. Kemudian dengan penuh penyesalan, ia mengambil batang kecil didekatnya lalu mengais tanah yang ia dudukki. Ada sebuah kotak berukuran sedang didalamnya. Sang wanita mengambil lalu membukanya. Begitu kagetnya dia, bunga yang ia rangkai untuk  pria yang tadi menabraknya berasa didalam kotak itu. Lengkap dengan beberapa surat. Lalu disampingnya terdapat surat dari ibu yang tiap hari ia baca sewaktu kecil. Benarkah itu bunga yang dirangkainya? Tanpa pikir panjang ia langsung membuka surat disamping bunganya. Benar, itu adalah kertas yang ia hias sendiri. Mengapa pria pelanggannya menyimpan surat disini. Dari mana ia tahu kotak rahasia  ini.

Ada seorang pencuri yang mengambil apel dikebun tak bernama
Ia sudah mengincar apel merah nan manis itu selama seminggu
Namun kebun itu dikelilingi dinding tinggi, sangat tinggi
Seorang pencuri tak pernah meliliki keberanian untuk meminta izin
Ia menyelinap masuk saat pemiliknya lengah tak mengunci gerbang
Ia memakan apel itu hingga kenyang dan membawa sebagiannya lagi
Tapi ia melupakan sesuatu
Apa yang sudah dia ambil adalah sesuatu yang sangat istimewa
Sehingga ia akan terus ingin mengambilnya
Hingga sejak saat itu ia selalu mengikuti kemana pemiliknya pergi
Sialnya, selalu tak ada kesempatan kedua untuk mengambil apel lagi
Ia tak akan pernah melihat apel itu lagi
Namanya berubah menjadi seorang penggemar rahasia si buah apel”
Perkenalkan aku adalah penggemar rahasiamu
QI

Seekor ulat bulu kini telah tumbuh menjadi kupu-kupu
Terbang kesemua tempat yang ingin ia hinggap
Ada seseorang yang ingin menangkapnya
Kau kembali
Mungkin, kau tak akan mengenaliku
Aku ada didekatmu
Sama seperti dulu, aku mengikutiku

“Dia bilang tidak tahu dimana wanita itu berada. Sekarang ia mengatakan wanita itu sudah kembali. QI, bukan hanya namamu yang membuatku penasaran. Juga kisahmu ini. Hingga saat ini, aku tidak tahu. Nama QI di otakku dan kenangan yang aku alami. Aku merasa kenangan itu sangat indah. Apakah itu dia? Sangat tidak menggembirakan jika itu dia, seseorang yang telah memiliki yang lain.”

Aku sudah menunggumu lebih dari sepuluh tahun
Kau telah kembali
Tapi aku masih menunggumu
Dan tetap mengikutimu seperti bayangan
Kau tahu, aku menulis surat ini tepat sangat dekat denganmu
BI, aku QI keturunan dari klan Q
Anak dari Paman QAN, teman ayahmu, Paman BAS
Kau mungkin tak akan membaca surat ini

Wanita itu, BI, kaget. Nama yang selama ini muncul diingatannya benar-benar pria itu. Tangannya lemas, surat yang ia genggam terjatuh dengan sendirinya. Matanya mulai berkaca-kata. Nafasnya tak beraturan. Ia menyandarkarkan tubuhnya lagi pada pohoon itu.

“Jadi, wanita itu adalah aku. Dengan bodohnya aku bertanya untuk siapa bunga itu. Maafkan aku. Kau mengenaliku dan aku tidak.”

BI, sama sekali tak mengingat bagaimana ia mengenal nama QI. Yang ia tahu hanya nama itu pernah hadir dihatinya. Usahanya mengingat tak membawanya kearah apapun. Ayahnya dulu sering menyebut nama QI. Samar-samar ia mengingat suatu hari dimasa lalu, keluarganya dan keluarga pria itu pergi ke kota lain untuk berlibur. Mungkin, saat itulah ia menyukai nama QI. Dan sekarang, surat yang telah ia baca dengan seksama itu menjadi petunjuknya. Bodoh. Lelaki yang pernah mengisi hatinya tak ia ingat, bahkan lelaki itu selama bertahun-tahun mencoba mempertahankan hatinya. Bagaimana terlukanya lelaki ini. Saat angin terus berhembus, mengapa dia tak menyadarinya. Dia hanya bergelut dengan sebuah nama.

BI bangkit untuk mencari pria itu. Hanya selang beberapa langkah, ia mengingat sesuatu. Sesuatu yang tak pernah ia sadari dimasa lalu. Kemudian ia berbalik. Terlihatlah QI yang terkaget karena mengikutinya. Selalu mengikutinya. Keduanya tersenyum. QI yang malu karena bersikap seperti Penguntit dan BI yang melihat tingkah pria ini. Langkah mereka seirama, saling mendekat.

“Aku menemukanmu.”

“Kau kembali.”
--‘’—
Cinta. Banyak orang mempertanyakan apa itu cinta. Apakah cinta menyakitkan? Atau justru menyenangkan? Menyakitkan, karena cinta membuatmu menangis lara. Menyenangkan, karena cinta membuatmu tertawa, melupakan sejenak hidupmu. Menunggu itu tak mudah. Namun kau akan mengisap harumnya saat kau percaya. Saat ini mari kita bicara tentang penantian. Saat kita menunggu seseorang dan ternyata ia datang terlambat, kita marah. Saat kita menunggu seseorang namun ia tak datang, kita kecewa. Kenyataan berbeda saat menunggu orang yang kita cintai. Sakitnya lebih dari yang bisa kau bayangkan. Kau menunggu namun ia tak pernah tahu kau menunggunya. Seseorang yang sudah biasa dengan penantian mungkin tak akan terlalu sakit, namun pada suatu titik ia akan lelah. Ia putus asa dengan penantiannya ini. waktu dan hati yang terkuras tak bisa ia kembalikan lagi. Sesedih inikah penantian?

Tapi lihat, saat penantian yang kau lakukan selama ini menuai hasilnya. Berapa waktu yang kau habiskan? Seminggu? Sebulan? Setahun? Atau sepuluh tahun? Semakin lama waktunya, maka kelagaan dalam hatimu tak akan ada yang bisa mengerti. Hanya kau yang mengerti. Duka, lara, tangis, dan kesepian. Sepertinya hatimu melayang, melepas dahaga yang selama ini menggerogoti hatimu. Itu akan membutuhkan keberanian. Saat yang kau nanti tak menantimu juga maka kau harus berbesar hati. Sudah siapkah kau menunggu? Butuh keberanian.

Lalu, apakah cinta itu memang ada yang kadaluarsa? Cinta yang semakin lama semakin pudar seiring berjalannya waktu. Seperti makanan yang terlalu lama disimpan tanpa dimakan dan dinikmati. Apakah benar? Kurasa tidak. Tak ada cinta yang kadaluarsa. Tetapi cinta yang berkurang. Saat cinta itu datang kembali, apakah kau akan melewatkannya?


*Penantian butuh keberanian

Sabtu, 02 Agustus 2014

TIRULAH JANG OK JONG DALAM SISI LAINNYA

Haiiii !!!! how are you, kawan ??? *heheheheee*




Sebenernya pos ini gue buat untuk mencurahkan perasaan ajja. Entah kenapa gue pengen banget ngepos tentang ini. Mungkin karna gue ngga tahan buat mendem semuanya dalem ati. Sakitnya tuh disini*mulai alay*!!! 

Kalian tahu apa yang paling gue nggak suka di dunia ini ???? bukan makanan *secara suka semua makanan yg delicius* bukan juga barang. Tapi seseuatu yang gue yakin lo nggak akan suka sama ini. DIHINA. Iya, dihina. Sinonimnya sih, dilecehkan, direndahkan, dipandang sebelah mata*padahalkan mata ada dua*,diejek, dll. Gue paling nggak suka kata itu. Itu tuh kaya kita terjebak dalam sebuah negeri yang nggak nerima kita. Kita seperti terasingkan. Mending kabur, kan dari situ. Eh itu namanya di hina atau bukan sih, ya pokoknya gitu. Gue banyak banget ngalamin yang namanya dihina. Tapi gue nggak bisa lepas, nggak bisa lari, masih... terus ditempat itu. Kaya di penjara gitu. Pengen nangis, tapi itu mbuktiin kalo kita rendah banget, kita lemah. Tapi kalo ditahan, sakitnya minta ampun.

Pernah liat drama korea Jang Ok Jong Live for Love(versi 2013)??? ya, Jang Suk Won (gelar Jang Ok Jong),seorang selir yang mendapat cinta raja harus menelan pil pahit. Ia harus melihat ibu kandungnya sendiri yang mantan budak mendapat perlakuan *berbeda*  dari Ibu Suri. Ibunya tidak diperbolehkan duduk sejajar dengan para istri Menteri. Sehingga ibunya duduk ditanah hanya beralaskan tikar. Jang Ok Jong seorang  yang kedudukannya lebih tinggi dari mereka, dan ibunya diperlakukan tidak selayaknya. Hatinya otomatis perih. Terlebih ia harus dihina oleh seorang pelayan ibu suri yang kedudukannya lebih rendah darinya, tapi pelayan itu adalah kepercayaan Ibu Suri. Tak masalah memang, jika Jang Ok Jong hanya seorang pelayan. Masalah kasta sangat berpengaruh dalam Joseon. Jang Ok Jong juga dulunya seorang pelayan istana dalam bidang jahit-menjahit. Sehingga ia diperlakukan seperti ini.

ini waktu sang ibu(rok biru) disuruh duduk dibawah, dan Ok Jong(rok merah) marah. Raja(jubah merah) datangdan membantu mereka. Ratu(rok pink) dan ibunya(rok coklat) ingin memberi hormat tapi tak dipedulikan oleh Raja.

Gue peham bener kalo masalalu apalagi yang berhubungan kasta memang berpengaruh. Dan yang paling nyesek itu kalo yang berhubungan fisik. Itemlah, pendeklah, jeleklah, dll. Mungkin bagi mereka(yang menghina) itu lucu, dan dianggep seperti gurauan. Semua orang termasuk lo tertawa. Tapi pernah nggak lo liat orang yang dibilang gitu(yang dihina) juga ikut ketawa? Atau ketawa tapi ketawa setengah-setengah? Adasih yang ketawa nandain itu juga lucu, tapi lo nggak pernah tau yang dirasakan orang itu sebenernya. Dan juga, lo itu sebenernya dosa kalo ngehina orang, lo udah nyebabin orang itu bisa saja menyalahkan ALLAH yang udah ngasih dia takdir. Lo udah menghina pemberian ALLAH.

“Kau bilang itu gurauan, gurauan seharusnya bukan untuk orang yang mengatakannya tapi untuk orang yang menerimanya, bukankah begitu? Jika ia tidak setuju dengan gurauan itu, berarti itu bukan gurauan... tetapi teror” DRAMA KOREA I HEAR YOUR VOICE – JAKSA SEO DO YEON.


muka sedih Ok Jong

Akhirnya banyak orang yang memilih menyembunyikan kekurangannya dari orang lain. Gue bertanya-tanya, sebenernya apa sih salahnya punya kekurangan,? Kalo lo nggak punya kekurangan hidup lo tuh hampa. Nggak ada sesuatu yang perlu dan harus lo perbaiki. Nggak ada sesuatu yang harus yang bisa jadi alasan untuk lo terus memaknai hidup, untuk lo belajar dalam hidup. Terus lo akan bangga dengan lo nggak punya kekurangan dan bilang I’m perfect? Heh, emang lo ALLAH yang jelas-jelas pemilik segalanya dari dunia ini? lo akan terjerat terus dari sikap lo itu dan akhirnya hidup lo kaya sayur nggak ada garemnya. Ingat, jangan bangga pada kelebihan.

Dihina itu kaya direndahin. Nggak ada yang ngrasa enak kalo direndahin. Semua orang itu punya perasaan. Menurut gue, dengan lo menghina orang lain sama aja lo melanggar HAM. Direndahin itu kaya lo berada dalam jurang yang paling dalem yang nyebabin lo nggak bisa naik ke atas. Yang lebih parah itu kalo orang yang direndahin itu orang yang nggak percaya dirian. Udah jatuh, luka lagi. Untuk itu, kalo lo direndahin percaya diri ajja. Atau nglawan biar orang yang ngehina lo itu sadar. *gue sebenernya juga nggak terlalu percaya kalo cara ini berhasil, wahahahahaaaa* karna biasanya orang yang suka menghina itu nggak punya ati, eh bukan biasanya lagi tapi emang. Atau dia menghina untuk menutupi kekurangannya. Ada juga tuh yang merasa dia itu yang paling tinggi jadi menganggap menghina adalah Hak. Inget!!! Dihina itu bukan Hak, tapi tindak ketidakperasaan.

Nah, gue suka sama jalan pikiran Jang Ok Jong. Jadikan hinaan lo itu sebagai senjata lo. Senjata yang nggak pernah lo lupain. Senjata yang paling sakit yang lo punya. Biasanya dihina itu nggak pernah dilupakan seseorang. Bahkan orang baikpun pasti inget. Jang Ok Jong dengan berpegang teguh pada senjata itu, dia bisa naik kasta lagi !!! jadi Jang Hee Bin, gelar selir yang paling tinggi. Saat Jang Ok Jong dihina, yang beliau lakuin itu sabar. Iya sabar. Dia sabar untuk Yang Mulia Raja yang telah memberinya  cinta yang begitu banyak bahkan melebihi Sang Ratu. Tapi sakit didalam hatinya sudah melebihi batas. Beliau menghalalkan segala cara untuk bisa tetap bertahan didalam istana. Dan pelan tapi pasti, Jang Ok Jong berhasil mengalahkan orang-orang yang menghinanya karna kasta. Bahkan Raja menggulingkan Sang Ratu demi keselamatan anaknya dengan Jang Ok Jong. Dan sampailah Ok Jong ke gelar tertinggi negeri itu, Sang Ratu.


Ok Jong membahayakan dirinya sendiri dengan memakan makanan beracun demi menfitnah Ratu

Ya, manusia juga manusia. Yang punya hafsu tinggi. Waktu dibawah aja menderitanya minta ampun, nah selagi dia
atas kenapa nyia-nyiain kesempatan. Ini yang gue nggak suka dari Jang Ok Jong. Jangan ambisius ya, kawan. Dan juga, sadar nggak sih lo kalo dihina itu buat bisa jadi tambah dewasa. Lo jangan ikut-ikutan Jang Ok Jong yang menghalalkan segala cara. Lo harus percaya sama kemampuan lo kalo lo bisa waktu dihina. Sportif lah... walau gue ngerti kenapa beliau nglakuin itu. Untuk lebih jelasnya tonton deh dramanya... *heheheeee promot dikit*

Jang Ok Jong sebenernya baik, tapi penghinaan, direndahkan, udah merubah perasaannya. Dia gadis dengan penuh perjuangan,*bahasanya... gaya abizz* diakhir ceritapun dia udah berubah dan mengakui kesalahannya pada Raja, karna Raja udah tahu tabiatnya. Posisinya dikembalikan lagi ke Jang Hee Bin dan Ratu kembali ke Istana. Endingnya, dia meninggal karna dihukum minum racun!!!! Dia difitnah yang membunuh Ratu oleh selir lainnya,Choi Suk Bin. Ini persis seperti apa yang dilakukan Jang Ok Jong pada Ratu dahulu. 


Saat Ratu(rok kuning) kembali ke Istana dan Ok Jong(baju putih) turun tahta. Choi Suk Bin(rok ungu) berada ditengahnya


Ok Jong meninggal dipangkuan Raja setelah meminum racun


Banyak pelajaran yang lo dapet dari cerita ini. Yang gue maksud dari sisi lain Jang Ok Jong itu ya, penghinaan yang dia alami, bukan cara apa yang dia lakukan setelah dihina. Kembali lagi ke menghina dan dihina, kata orang sih, cara terbaik membalas orang lain itu dengan melebihinya. Lo harus melebihi dia dalam bidang yang menjadi kelebihan lo. Atau lo asah terus kekurangan lo dan lo buktiin ke orang yang menghina lo kalo dia itu salah. Dulu gue sama temen gue punya kata-kata gini. Seoon-oonnya orang oon, lebih oon orang yang ngoon-oonin orang oon. Nah gue ganti nih. Sejelek-jeleknyanya orang jelek, lebih jelek orang yang ngejelek-jelekin orang jelek. Jadi orang yang ngehina lo nggak lebih baik dari lo. Paham kan? Jangan minder(malu) punya kekurangan. Karna lo juga punya kelebihan yang belum lo tunjukkin ke orang itu. *sebenernya kata-kata ini juga buat gue, heheheheee*


Tiga wanita dalam hidup Raja Suk Jong. Choi Suk Bin(rok kuning kehijauan), Jang Hee Bin(rok biru), Ratu Min In Hyun(rok hijau)


Okeh, sekian dulu dari Saya*mau akhir jadinya formal* maaf kalo tulisannya ngalor-ngidul nggak jelas. Karna baru belajar.*selalu bilang gitu, kapan bisanya?*

*Jangan menghina dan jangan mau dihina

Minggu, 27 Juli 2014

Menunggu : Ksatria dan Seorang Penyanyi

Note : Pict yang aku gunakan diambil dari drama korea The Princess Man

Ada sebuah negeri, dimana rakyat sangat menjunjung tinggi rajanya. Tepatnya di Kota Raja, seorang perempuan menyanyi dengan suara merdu yang mempesona. Beberapa orang menaruh koin pada sebuah tempat yang diletakkan disebelah Sang Penyanyi hingga menimbulkan bunyi khas. Perempuan itu bukanlah seorang penyanyi kedai melainkan penyanyi jalalan yang penghasilannya tergantung ketertarikan orang yang kebetulan lewat. Lagu yang dinyanyikan ia ciptakan sendiri.

Hari ini, aku berdiri disini
Dibawah langit yang sama
Dilingkaran waktu yang sama
Aku menantikan kehadiranmu
Seperti menanti hujan dimusim panas


Sambil  tersenyum Penyanyi itu terus menyanyi meski udara sedikit memancarkan panas, dan suasana yang ramai sesak. Pandangan matanya menjalar sekeliling, mencari seseorang. Tapi tak menghilangkan senyum dibibirnya. Ia tahu dimana ia berada. Ia sedang bekerja.

Sama seperti kemarin
Hari ini aku akan menunggumu lebih lama
Entah kau datang, entah penantian ini menjadi sia-sia
Saat waktu menjadi jembatan antara kita
Tak masalah untukku
Seperti hujan yang datang tak tentu



Senyum dibibir Penyanyi itu semakin lebar. Pemuda yang dinantinya datang. Dia adalah seorang ksatria dinegeri ini. Ksatria yang telah melindungi negeri, dan dianggap sebagai anak dihati Sang Raja. Penyanyi itu melihatnya seakan lama tak jumpa. Ksatria yang mungkin tengah menjalankan tugas Raja, tak meliriknya bahkan menoleh. Tak apa asalkan Si Penyanyi dapat melihat seseorang yanng dinantinya. Tak seorang pendudukpun yang tahu jika Si Penyanyi sedang tersenyum untuk Ksatria negeri mereka. Ia tersenyum karena ia seorang penyanyi. Meski lagu yang dinyanyikan lagu sedih.

Akhirnya dan akhirnya Ksatria itu melihat Si Penyanyi. Dan mata mereka bertemu. Tapi detik kemudian, keduanya saling  membuang muka. Si Penyanyi sengaja melakukannya. Karena ia tahu, tak seharusnya menatap Ksatria yang melindunginya. Meski tak ada larangan dinegeri itu Ksatria dan rakyat biasa saling jatuh cinta. Si Penyanyi hanya malu pada dirinya sendiri.

Hari ini aku melihatmu
Dan kau melihatku
Sang waktu memihakku
Seperti datangnya rintik hujan kau memasuki hatiku



Hari-hari berikutnya pun begitu. Si penyanyi kembali menunggu Sang Ksatria sembari menyanyi. Dan Ksatriapun datang jika sedang menjalankan tugas. Tiap gerak dan tatapan mata Sang Ksatria, penyanyi itu hafal. Si Penyanyi akan langsung mengenalinya hanya dengan melihat badan Ksatria. Jejak langkah yang baru saja diinjak Ksatria selalu membekas pada ingatannya. Diiringi lagu yang dibawakannya, ditengah keramaian yang tak henti-hentinya, bersama angin yang melaju mengiringi, perasaan sukanya pada Sang Ksatria tak pernah berkurang. Sang Penyanyi yakin, bahkan jika ia harus pergi jauh. Tak pernah hilang, bahkan jika ia bertemu dengan pemuda lain. Walau perasaan ini hanya dan harus ia pendam dalam hati. Tak apa-apa. Si Penyannyi tahu Sang Ksatria juga melihatnya, karena ia seorang penyanyi. Dan juga, ia tak ingin berharap lebih.

Aku menikmati waktu-waktu ini
Saat menunggu datangnya dirimu
Aku tersenyum mengetahui kau melihatku
Aku tersenyum mengetahui kau berada didepanku
Aku tersenyum mengetahui jika aku masih menunggumu

Suatu hari, di hari ke 18 bulan ini, Sang Raja mengadakan Pesta Rakyat yang di khususkan untuk rakyat. Seluruhnya boleh menghadiri acara itu. Pesta rakyat diadakan didalam istana, tepatnya dihalaman. Rakyat disediakan makanan seenak mungkin. Terlihat jelas Raja berusaha menyenangkan hati rakyat. Acara ini sudah dilakukan sejak jaman raja pertama. Si Penyanyi turut hadir bersama ayah dan kakaknya. Sengaja ia memakai pakaian rapi nan sopan. Dibawah pohon anggrek, dekat pintu masuk istana, ia berdiri sembari mengelilingkan matanya menatap bagaimana keindahan  istana yang menjadi tempat tinggal rajanya, bahkan halamannya pun sangat asri. Sungguh menyenangkan tinggal disana. Ksatrianya pasti nyaman. Tiba-tiba dari arah kiri Sang Ksatria berjalan melewatinya. Dan.... tersenyum padanya. Si Penyanyi tersentak, tapi ia segera mengendalikan dirinya. Ia membalasnya dengan senyuman juga. Hari ini, hari yang tak pernah ia lupakan. Senyuman ini ia anggap sebagai perkenalan darinya. Tak apa dan tak masalah. Itu kata yang akan si penyanyi katakan. Ia akan menunggu, kesatria.

Terimakasih telah hadir dibagian mataku
Terimakasih


Bersambung......

Apakah ini yang bisa disebut cinta? Atau hanya perasaan suka pada lawan jenis semacam kagum? Ini adalah cinta. Cinta adalah ketika kita hanya menatap pada satu orang. Bukankan itu yang dibutuhkan dalam sebuah jalinan cinta? Sehingga kesetiaanya tak teragukan. Tapi mungkin ini akan menjadi cinta tak terbalas dari cinta suci yang berasal dari hati yang tak ternodai dan tak bercabang pada yang lain. Itu sakit. Saat kau mencarinya, dan dia tak mencarimu. Apakah kau bersedia menunggunya? Butuh kesabaran. Menunggu ia berjalan ke arahmu. Jika kau rela dan tetap menanti, kau benar-benar mencintainya. Itu juga sakit, saat kau menunggu namun tak ada jalan. Bagaimana jika ia telah menemukan belahan hatinya sendiri? Bagaimana jika penantian ini menjadi sia-sia? Bagaimana jika ia menunggu perempuan lain? Semua pertanyaan itu muncul. Tapi jika kau benar-benar berniat menunggunya, benar-benar mencintainya, dan jika kau telah menjadi milik orang lain, tak apa. Tak ada cinta yang sia-sia. Biarlah cinta ini menjadi cinta dalam diam. Tak ada yang mengetahui. Tak ada yang mengerti. Hingga cinta itu menampakan dirinya sendiri.

*Aku akan menunggumu J


*Aaaapppppppp akh Park Shi Hoo, ksatria pake kacamata