Ada sebuah
negeri, dimana rakyat sangat menjunjung tinggi rajanya. Tepatnya di Kota Raja,
seorang perempuan menyanyi dengan suara merdu yang mempesona. Beberapa orang
menaruh koin pada sebuah tempat yang diletakkan disebelah Sang Penyanyi hingga
menimbulkan bunyi khas. Perempuan itu bukanlah seorang penyanyi kedai melainkan
penyanyi jalalan yang penghasilannya tergantung ketertarikan orang yang
kebetulan lewat. Lagu yang dinyanyikan ia ciptakan sendiri.
Hari ini, aku
berdiri disini
Dibawah langit yang sama
Dilingkaran waktu yang sama
Aku menantikan kehadiranmu
Seperti menanti hujan dimusim panas
Dibawah langit yang sama
Dilingkaran waktu yang sama
Aku menantikan kehadiranmu
Seperti menanti hujan dimusim panas
Sambil tersenyum Penyanyi itu terus menyanyi meski
udara sedikit memancarkan panas, dan suasana yang ramai sesak. Pandangan
matanya menjalar sekeliling, mencari seseorang. Tapi tak menghilangkan senyum
dibibirnya. Ia tahu dimana ia berada. Ia
sedang bekerja.
Sama seperti
kemarin
Hari ini aku akan menunggumu lebih lama
Entah kau datang, entah penantian ini menjadi sia-sia
Saat waktu menjadi jembatan antara kita
Tak masalah untukku
Seperti hujan yang datang tak tentu
Hari ini aku akan menunggumu lebih lama
Entah kau datang, entah penantian ini menjadi sia-sia
Saat waktu menjadi jembatan antara kita
Tak masalah untukku
Seperti hujan yang datang tak tentu
Senyum
dibibir Penyanyi itu semakin lebar. Pemuda yang dinantinya datang. Dia adalah
seorang ksatria dinegeri ini. Ksatria yang telah melindungi negeri, dan
dianggap sebagai anak dihati Sang Raja. Penyanyi itu melihatnya seakan lama tak
jumpa. Ksatria yang mungkin tengah menjalankan tugas Raja, tak meliriknya bahkan
menoleh. Tak apa asalkan Si Penyanyi dapat melihat seseorang yanng dinantinya.
Tak seorang pendudukpun yang tahu jika Si Penyanyi sedang tersenyum untuk Ksatria
negeri mereka. Ia tersenyum karena ia seorang penyanyi. Meski lagu yang
dinyanyikan lagu sedih.
Akhirnya dan
akhirnya Ksatria itu melihat Si Penyanyi. Dan mata mereka bertemu. Tapi detik
kemudian, keduanya saling membuang muka.
Si Penyanyi sengaja melakukannya. Karena ia tahu, tak seharusnya menatap Ksatria
yang melindunginya. Meski tak ada larangan dinegeri itu Ksatria dan rakyat
biasa saling jatuh cinta. Si Penyanyi hanya malu pada dirinya sendiri.
Hari ini aku melihatmu
Dan kau melihatku
Sang waktu memihakku
Seperti datangnya rintik hujan kau memasuki hatiku
Dan kau melihatku
Sang waktu memihakku
Seperti datangnya rintik hujan kau memasuki hatiku
Hari-hari
berikutnya pun begitu. Si penyanyi kembali menunggu Sang Ksatria sembari
menyanyi. Dan Ksatriapun datang jika sedang menjalankan tugas. Tiap gerak dan
tatapan mata Sang Ksatria, penyanyi itu hafal. Si Penyanyi akan langsung
mengenalinya hanya dengan melihat badan Ksatria. Jejak langkah yang baru saja
diinjak Ksatria selalu membekas pada ingatannya. Diiringi lagu yang
dibawakannya, ditengah keramaian yang tak henti-hentinya, bersama angin yang
melaju mengiringi, perasaan sukanya pada Sang Ksatria tak pernah berkurang.
Sang Penyanyi yakin, bahkan jika ia harus pergi jauh. Tak pernah hilang, bahkan
jika ia bertemu dengan pemuda lain. Walau perasaan ini hanya dan harus ia
pendam dalam hati. Tak apa-apa. Si Penyannyi tahu Sang Ksatria juga melihatnya,
karena ia seorang penyanyi. Dan juga, ia tak ingin berharap lebih.
Aku menikmati
waktu-waktu ini
Saat menunggu datangnya dirimu
Aku tersenyum mengetahui kau melihatku
Aku tersenyum mengetahui kau berada didepanku
Aku tersenyum mengetahui jika aku masih menunggumu
Saat menunggu datangnya dirimu
Aku tersenyum mengetahui kau melihatku
Aku tersenyum mengetahui kau berada didepanku
Aku tersenyum mengetahui jika aku masih menunggumu
Suatu hari,
di hari ke 18 bulan ini, Sang Raja mengadakan Pesta Rakyat yang di khususkan
untuk rakyat. Seluruhnya boleh menghadiri acara itu. Pesta rakyat diadakan
didalam istana, tepatnya dihalaman. Rakyat disediakan makanan seenak mungkin.
Terlihat jelas Raja berusaha menyenangkan hati rakyat. Acara ini sudah
dilakukan sejak jaman raja pertama. Si Penyanyi turut hadir bersama ayah dan
kakaknya. Sengaja ia memakai pakaian rapi nan sopan. Dibawah pohon anggrek,
dekat pintu masuk istana, ia berdiri sembari mengelilingkan matanya menatap
bagaimana keindahan istana yang menjadi
tempat tinggal rajanya, bahkan halamannya pun sangat asri. Sungguh menyenangkan
tinggal disana. Ksatrianya pasti nyaman. Tiba-tiba dari arah kiri Sang Ksatria
berjalan melewatinya. Dan.... tersenyum padanya. Si Penyanyi tersentak, tapi ia
segera mengendalikan dirinya. Ia membalasnya dengan senyuman juga. Hari ini,
hari yang tak pernah ia lupakan. Senyuman ini ia anggap sebagai perkenalan
darinya. Tak apa dan tak masalah. Itu kata yang akan si penyanyi katakan. Ia
akan menunggu, kesatria.
Terimakasih
telah hadir dibagian mataku
Terimakasih
Terimakasih
Bersambung......
Apakah ini
yang bisa disebut cinta? Atau hanya perasaan suka pada lawan jenis semacam
kagum? Ini adalah cinta. Cinta adalah ketika kita hanya menatap pada satu
orang. Bukankan itu yang dibutuhkan dalam sebuah jalinan cinta? Sehingga
kesetiaanya tak teragukan. Tapi mungkin ini akan menjadi cinta tak terbalas
dari cinta suci yang berasal dari hati yang tak ternodai dan tak bercabang pada
yang lain. Itu sakit. Saat kau mencarinya, dan dia tak mencarimu. Apakah kau
bersedia menunggunya? Butuh kesabaran. Menunggu ia berjalan ke arahmu. Jika kau
rela dan tetap menanti, kau benar-benar mencintainya. Itu juga sakit, saat kau
menunggu namun tak ada jalan. Bagaimana jika ia telah menemukan belahan hatinya
sendiri? Bagaimana jika penantian ini menjadi sia-sia? Bagaimana jika ia
menunggu perempuan lain? Semua pertanyaan itu muncul. Tapi jika kau benar-benar
berniat menunggunya, benar-benar mencintainya, dan jika kau telah menjadi milik
orang lain, tak apa. Tak ada cinta yang sia-sia. Biarlah cinta ini menjadi
cinta dalam diam. Tak ada yang mengetahui. Tak ada yang mengerti. Hingga cinta
itu menampakan dirinya sendiri.
*Aku akan
menunggumu J
*Aaaapppppppp akh Park Shi Hoo, ksatria pake kacamata
.jpg)
.jpgtpm.jpg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar