Translate

Minggu, 27 Juli 2014

Menunggu : Ksatria dan Seorang Penyanyi

Note : Pict yang aku gunakan diambil dari drama korea The Princess Man

Ada sebuah negeri, dimana rakyat sangat menjunjung tinggi rajanya. Tepatnya di Kota Raja, seorang perempuan menyanyi dengan suara merdu yang mempesona. Beberapa orang menaruh koin pada sebuah tempat yang diletakkan disebelah Sang Penyanyi hingga menimbulkan bunyi khas. Perempuan itu bukanlah seorang penyanyi kedai melainkan penyanyi jalalan yang penghasilannya tergantung ketertarikan orang yang kebetulan lewat. Lagu yang dinyanyikan ia ciptakan sendiri.

Hari ini, aku berdiri disini
Dibawah langit yang sama
Dilingkaran waktu yang sama
Aku menantikan kehadiranmu
Seperti menanti hujan dimusim panas


Sambil  tersenyum Penyanyi itu terus menyanyi meski udara sedikit memancarkan panas, dan suasana yang ramai sesak. Pandangan matanya menjalar sekeliling, mencari seseorang. Tapi tak menghilangkan senyum dibibirnya. Ia tahu dimana ia berada. Ia sedang bekerja.

Sama seperti kemarin
Hari ini aku akan menunggumu lebih lama
Entah kau datang, entah penantian ini menjadi sia-sia
Saat waktu menjadi jembatan antara kita
Tak masalah untukku
Seperti hujan yang datang tak tentu



Senyum dibibir Penyanyi itu semakin lebar. Pemuda yang dinantinya datang. Dia adalah seorang ksatria dinegeri ini. Ksatria yang telah melindungi negeri, dan dianggap sebagai anak dihati Sang Raja. Penyanyi itu melihatnya seakan lama tak jumpa. Ksatria yang mungkin tengah menjalankan tugas Raja, tak meliriknya bahkan menoleh. Tak apa asalkan Si Penyanyi dapat melihat seseorang yanng dinantinya. Tak seorang pendudukpun yang tahu jika Si Penyanyi sedang tersenyum untuk Ksatria negeri mereka. Ia tersenyum karena ia seorang penyanyi. Meski lagu yang dinyanyikan lagu sedih.

Akhirnya dan akhirnya Ksatria itu melihat Si Penyanyi. Dan mata mereka bertemu. Tapi detik kemudian, keduanya saling  membuang muka. Si Penyanyi sengaja melakukannya. Karena ia tahu, tak seharusnya menatap Ksatria yang melindunginya. Meski tak ada larangan dinegeri itu Ksatria dan rakyat biasa saling jatuh cinta. Si Penyanyi hanya malu pada dirinya sendiri.

Hari ini aku melihatmu
Dan kau melihatku
Sang waktu memihakku
Seperti datangnya rintik hujan kau memasuki hatiku



Hari-hari berikutnya pun begitu. Si penyanyi kembali menunggu Sang Ksatria sembari menyanyi. Dan Ksatriapun datang jika sedang menjalankan tugas. Tiap gerak dan tatapan mata Sang Ksatria, penyanyi itu hafal. Si Penyanyi akan langsung mengenalinya hanya dengan melihat badan Ksatria. Jejak langkah yang baru saja diinjak Ksatria selalu membekas pada ingatannya. Diiringi lagu yang dibawakannya, ditengah keramaian yang tak henti-hentinya, bersama angin yang melaju mengiringi, perasaan sukanya pada Sang Ksatria tak pernah berkurang. Sang Penyanyi yakin, bahkan jika ia harus pergi jauh. Tak pernah hilang, bahkan jika ia bertemu dengan pemuda lain. Walau perasaan ini hanya dan harus ia pendam dalam hati. Tak apa-apa. Si Penyannyi tahu Sang Ksatria juga melihatnya, karena ia seorang penyanyi. Dan juga, ia tak ingin berharap lebih.

Aku menikmati waktu-waktu ini
Saat menunggu datangnya dirimu
Aku tersenyum mengetahui kau melihatku
Aku tersenyum mengetahui kau berada didepanku
Aku tersenyum mengetahui jika aku masih menunggumu

Suatu hari, di hari ke 18 bulan ini, Sang Raja mengadakan Pesta Rakyat yang di khususkan untuk rakyat. Seluruhnya boleh menghadiri acara itu. Pesta rakyat diadakan didalam istana, tepatnya dihalaman. Rakyat disediakan makanan seenak mungkin. Terlihat jelas Raja berusaha menyenangkan hati rakyat. Acara ini sudah dilakukan sejak jaman raja pertama. Si Penyanyi turut hadir bersama ayah dan kakaknya. Sengaja ia memakai pakaian rapi nan sopan. Dibawah pohon anggrek, dekat pintu masuk istana, ia berdiri sembari mengelilingkan matanya menatap bagaimana keindahan  istana yang menjadi tempat tinggal rajanya, bahkan halamannya pun sangat asri. Sungguh menyenangkan tinggal disana. Ksatrianya pasti nyaman. Tiba-tiba dari arah kiri Sang Ksatria berjalan melewatinya. Dan.... tersenyum padanya. Si Penyanyi tersentak, tapi ia segera mengendalikan dirinya. Ia membalasnya dengan senyuman juga. Hari ini, hari yang tak pernah ia lupakan. Senyuman ini ia anggap sebagai perkenalan darinya. Tak apa dan tak masalah. Itu kata yang akan si penyanyi katakan. Ia akan menunggu, kesatria.

Terimakasih telah hadir dibagian mataku
Terimakasih


Bersambung......

Apakah ini yang bisa disebut cinta? Atau hanya perasaan suka pada lawan jenis semacam kagum? Ini adalah cinta. Cinta adalah ketika kita hanya menatap pada satu orang. Bukankan itu yang dibutuhkan dalam sebuah jalinan cinta? Sehingga kesetiaanya tak teragukan. Tapi mungkin ini akan menjadi cinta tak terbalas dari cinta suci yang berasal dari hati yang tak ternodai dan tak bercabang pada yang lain. Itu sakit. Saat kau mencarinya, dan dia tak mencarimu. Apakah kau bersedia menunggunya? Butuh kesabaran. Menunggu ia berjalan ke arahmu. Jika kau rela dan tetap menanti, kau benar-benar mencintainya. Itu juga sakit, saat kau menunggu namun tak ada jalan. Bagaimana jika ia telah menemukan belahan hatinya sendiri? Bagaimana jika penantian ini menjadi sia-sia? Bagaimana jika ia menunggu perempuan lain? Semua pertanyaan itu muncul. Tapi jika kau benar-benar berniat menunggunya, benar-benar mencintainya, dan jika kau telah menjadi milik orang lain, tak apa. Tak ada cinta yang sia-sia. Biarlah cinta ini menjadi cinta dalam diam. Tak ada yang mengetahui. Tak ada yang mengerti. Hingga cinta itu menampakan dirinya sendiri.

*Aku akan menunggumu J


*Aaaapppppppp akh Park Shi Hoo, ksatria pake kacamata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar