Pernah nggak sih kamu ngalami hal yang bikin kamu direndahin
sama temenmu sendiri?
Pasti pernah kan? Disini aku bilang temen kamu, bukan
sahabat kamu. Dia hanya dekat denganmu karena kamu dan dia punya hatu hal yang
bisa kalian bahas bersama. Bisa tertawa meski sekadarnya. Menjadi teman yang
saat sahabatmu tidak ada disampingmu. Semacam pelampiasan. Okeh, mungkin kamu
tidak akan merasa sakit saat dia merendahkanmu. Kamu hanya cukup tahu bagaimana
sifatnya dan kamu tak perlu berbagi apapun dengannya tentang dirimu. Dia tidak
akan menjadi sahabatmu.
Tapi, bagaimana jika dia adalah teman baik yang kamu kenal
lama, namun ia bukan sahabatmu? Dia mengucap sesuatu yang sangat melukai
hatimu. Dia mengejek sesuatu milikmu. Ketika ia mengejek bendamu, secara
langsung ia mengejek dirimu sendiri. Sama seperti mengejek harga dirimu. Barang
itu sesuatu yang berharga untukmu. Sebagai contoh, ia mengejek HP-mu yang “jadul”.
Apa yang kamu rasakan? apa ia punya hak untuk mengejek barangmu?
“Barang itu adalah milikku. Hanya aku yang boleh mengejeknya. Tak ada
siapapun yang bisa melakukannya selain diriku sendiri.”
Benar! Barang itu adalah menjadi milikmu. Barang yang kamu dapatkan
dengan uangmu sendiri, yang kamu rela untuk mengorbankan keinginan lain hanya
demi barang itu. Jadi, yang boleh marah atau mengejek barang itu adalah KAMU,
bukan orang lain. Entah kamu akan membuangnya atau tidak, kamu merusaknya atau
tidak, kamu menguburnya atau tidak, itu hakmu. Keringat yang kamu keluarkan
akan mendorongmu untuk menuntut orang itu. Pengorbananmu juga berteriak akan
membakar mulutnya. Namun ada tembok antara kamu dan dia yang bernama TEMAN. Nuranimu
tak mengijinkan kamu untuk mengeluarkan emosimu saat itu juga. Jadi kamu hanya
diam. Menahan dirimu dan berpura-pura kamu tak mendengarnya. Ini lebih baik. Daripada
temanmu menjadi musuhmu.
Karena kejadian itu, karena barang itu ada didekatmu selalu,
kamu akan mengingat hal itu. meskipun kamu lupa, keringatmu akan kembali
menuntut. Sampai kamu mengikhlaskan barang itu di hina orang lain, sampai kamu
bener-benar mengobati emosimu yang terpendam, sampai harga dirimu dikembalikan
olehnya dan memberimu pakaian tebal, semua akan kembali seperti semula. Tapi satu
hal yang kamu sesalkan, dan kamu sangat marah karenanya. Mengapa kamu
memperjuangkan untuk memperoleh barang yang hanya akan diejek oleh orang lain?
apa artinya barang itu? sampai harga dirimu terbawa dalam situasi itu? Kamu mendapatkan
barang itu karena kamu perlu. Yang tanpanya kamu takkan bisa melakukan sesuatu.
Barang itu selalu membantumu. Jadi saat barang itu diejek, kamu juga akan
merasa diejek.
Situasi ini sama seperti adikmu membuat orang lain marah dan
orang lain menghina adikmu karenanya. Tanpa sadar kamu mengepalkan tangan. Namun
kamu melepas kepalan itu karena kamu ingat tak ada alasan memukul orang itu. karena
adikmu memang bersalah. Hanya saja,orang yang benar-benar berhak dan boleh marah padanya adalah kamu. Kamu yang
mengasihinya seperti kamu mengasihi dirimu. Kamu yang melindunginya seperti
kamu melindungi dirimu. Kamu yang menjaga perasaanya. Kamu yang selalu
mendahulukan dirinya daripadamu. Maka saat orang lain memarahinya, kamu lah
yang lebih berhak. Karena titlemu sebagai seorang kakak, telah merusak nama
baikmu. Karena perbuatannya, kamu dicap sebagai kakak yang buruk. Padahal kamu menyanyanginya.
Tapi lebih baik kamu diam. Adikmu juga bersalah. Diam menjadi jalan terbaik.
Tapi kamu hanya menangis dalam diamu. Barang itu, tak ada
yang bisa kamu lakukan padanya setelah kamu memarahinya. Karena barang itu
tetap saja milikmu dengan segala kekurangannya.
*Janganmarahpadahidupmu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar